Xuanzang Sang Backpacker Dunia Pertama dan Kisah Perjalanannya

Jika sekarang kita sudah terbiasa dengan istilah backpacking dan backpacker, pernahkah terpikir siapa orang yang pertama kali melakukannya? Adalah Xuanzang sang backpacker dunia yang pernah melakukan perjalanan pada tahun 629 sejauh 10.000 mil ke India dari Tiongkok.

SHARE :

Ditulis Oleh: Rizqi Y

Xuanzang sang backpacker dunia, mungkin itulah sebutan yang cocok untuk sosok ini.

Xuanzang adalah seorang Bhikkhu Buddha Tionghoa yang telah menginspirasi dunia backpacking bahkan sejak sekitar tahun 629.

Berawal dari perjalanannya ke India, Xuanjang mencatat sejarah yang menakjubkan.

Dengan membawa tas ransel tinggi, Xuanzang sang backpacker dunia pun berjalan ke barat untuk membuat banyak catatan perjalanan. Tak main-main, dia berjalan hingga sejauh 10.000 mil. Selama 16 tahun ia berjalan ke India dengan tujuan belajar dan mengumpulkan teks suci Buddhisme.

Baca juga : Mengenal Sosok Paul Andreu, Perancang Bandara Soekarno-Hatta

Kisah perjalanannya masih abadi hingga kini. Xuanzang pun dikenang sebagai ahli bahasa, sejarawan, pahlawan rakyat yang setia, dan terutama musafir yang penuh semangat.

Awal kehidupan Xuanzang sang backpacker dunia pertama

Gambaran sosok Xuanzang sang backpacker dunia. Sumber

Xuanzang diberi nama Chen Hui ketika lahir dalam keluarga kecil yang berpendidikan. Dia lahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Kakek Xuanzang adalah seorang pejabat dan seorang profesor di perguruan tinggi kerajaan di ibukota. Ayahnya adalah penganut taat Kong Hu Cu dan memilih melepas semua jabatan demi menghindari semua konflik politik di Tiongkok.

Xuanzang sang backpacker dunia ini semasa kecil mendapat pendidikan dari ayahnya, terutama mengenai literatur-literatur klasik dan beberapa ajaran Kong Hu Cu. Meski demikian, Xuanzang justru menunjukkan ketertarikan menjadi seorang Bhikkhu.

Tahun 611, ayahnya meninggal, Xuanzang lantas tinggal bersama kakaknya di Chensu, tepatnya di Kuil Jingtu selama lima tahun. Di sinilah dia banyak belajar tentang ajaran Buddha, baik aliran Theravada maupun Mahayana, yang kemudian lebih condong memilih Mahayana.

Tahun 622, Xuanzang berhasil menjadi seorang Bhikkhu. Dia lantas mempelajari bahasa asing dan melanjutkan studi di Chang’an. Tahun 626, Xuanzang berhasil menguasai bahasa Sanskerta. Tak puas sampai di situ, dia juga belajar bahasa Tokharia.

Awal perjalanan ziarah Xuanzang menuju India

Patung Xuanzang sang backpacker dunia. Sumber

Xuanzang sang backpacker dunia ini mulai memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan ke India pada tahun 629.

Kala itu Kaisar Taizong yang tengah berkuasa melarangnya, sebab sedang terjadi konflik antara Dinasti Tang dan Turki Timur Göktürks.

Setelah berhasil meyakinkan petugas gerbang di Yumen, Xuanzang berhasil keluar melalui Liangzhou dan berjalan menyusuri Gurun Gobi ke Kumul. Xuanzang menuju Gunung Tian Shan ke arah Barat, dan sampai ke Turfan tahun 630.

Di tempat tersebut Xuanzang mengenal Raja Turfan yang merupakan seorang penganut Buddha. Raja ini memberikan beberapa peralatan dan barang berharga untuk bekal perjalanan Xuanzang.

Banyak rintangan yang dialami Xuanzang, termasuk bertemu dengan perampok dan harus melancong hingga ke Theravada di Kucha.

Secara keseluruhan Xuanzang telah melakukan perjalanan sejauh 10.000 mil dan mendokumentasikan daerah yang sekarang menjadi Kirgistan, Uzbekistan, Afghanistan, dan Pakistan.

Baca juga : Christopher McCandless, Sosok yang Dianggap Sebagai Petualang Sejati Bagi Pemujanya

Sempat sekali Xuanzang melintas di Kush Hindu ke lembah Bamian dan berhasil menggambarkan patung Buddha Gandhara yang melegenda. Patung Buddha ini lantas menjadi perhatian dunia saat dihancurkan oleh Taliban pada tahun 2000.

Xuanzang sang backpacker dunia ini pun sempat mencapai Amu Darya dan Termez, tempat di mana dia bertemu komunitas dengan lebih dari 1.000 bhikkhu.

Dari sana Xuanzang melanjutkan perjalanan ke Kunduz dan bertemu dengan Bhikkhu Dharmasimha. Dialah yang lalu menganjurkan Xuanzang untuk melakukan perjalanan ke arah barat menuju Balkh (Afganistan). Tujuannya untuk menyaksikan situs dan relik Buddhis, terutama wihara Nava atau Nawbahar yang dikatakan sebagai institusi monastik paling barat di dunia.

Kisah perjalanan Xuanzang di India

Lukisan sosok Xuanzang. Sumber

Singkatnya, Xuanzang berhasil sampai di India pada tahun 630. Dia tiba di Peshawar dan mengunjungi beberapa stupa di sekitar sana. Namun kala itu agama Buddha di Peshawar mengalami kemunduran, lalu ia pun meninggalkan Peshawar.

Dia kembali berjalan ke Udyana dan menemukan 1.400 lebih biara tua yang konon pernah menampung 18.000 bhikkhu.

Xuanzang terus berjalan menuju Taxila yang merupakan Kerajaan Buddha. Di Taxila ini Xuanzang menemukan 5.000 lebih bhikkhu yang tersebar di lebih dari 100 kuil.

Rentang tahun 631-633, dia belajar tentang ajaran Mahayana dan sempat menulis catatan kejadian konsili keempat umat Buddha yang terjadi tahun 100 di bawah perintah Raja Kanishka dari Kushan.

Baca juga: Aron Ralston, Sosok Nyata di Balik Kisah Mengerikan Film 127 Hours

Perjalanan ke India memang tak pernah mudah bagi Xuanzang, namun faktanya Xuanzang sang backpacker dunia ini sukses kembali ke China dengan kumpulan teks Sanskerta penting. Teks ini pun menjadi sebuah catatan penting bagi umat Buddha. Kisah perjalanannya mungkin bia dibilang sebagai perjalanan backpacking pertama di dunia.

Mengenang peninggalan Xuanzang

Xuanzang meninggal pada tahun 664 dan meninggalkan beberapa peninggalan. Beberapa di antaranya adalah sekolah Agama Buddha Faxiang yang sempat didirikan Xuanzang meski tidak lama.

Tahun 646 Xuanzang diminta Kaisar untuk menyelesaikan bukunya yang berjudul ‘Perjalanan ke Barat’ di Dinasti Tang. Buku ini lantas menjadi sumber utama sejarah abad pertengahan Asia Tengah dan India. Buku ini pertama kali diterjemahkan ke dalam Bahasa Prancis oleh Stanislas Julien tahun 1857.

Perjalanan Xuanzang begitu melegenda dan menginspirasi novel Perjalanan ke Barat, salah satu dari mahakarya klasik literatur Tiongkok.

Tokoh Xuanzang di dalam novel adalah reinkarnasi dari seorang murid Sang Buddha, dan dilindungi oleh tiga murid sakti. Salah satunya adalah Sun Wukong, karakter yang populer di kebudayaan Tiongkok. Pada zaman Dinasti Yuan, terdapat sebuah opera oleh Wu Changling yang menceritakan perjalanan Xuanzang mengambil kitab suci.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU