facebook pixel

Traveling ke Baduy? Perhatikan Kondisi Badan Agar Tidak Pingsan!

Jangan pernah memaksakan keinginan bila kondisi memang sedang tidak memungkinkan


Di tengah aktivitas saya dengan momok sebuah deadline, tiba-tiba ada notifikasi whatsapp yang ingin saya buka. Dari Wawan rupanya. Dia mengirimkan sebuah gambar lokasi dimana sebuah tragedi memalukan terjadi. Tak lama saya pun membuka-buka file foto trip ke Baduy. Wawan, seolah-olah menyegarkan ingatan saya akan sebuah makna perjalanan.

***

Sekujur tubuh telah basah oleh keringat yang mengucur dari kening, punggung dan dari bagian tubuh yang lain. Sementara rongga hidung terasa sulit untuk bernafas. Saya memang sedang terserang flu, ketika saya memutuskan untuk traveling ke Badui. Bayangan saya mengenai tempat ini adalah salah. Menurut informasi yang saya dapat hanyalah dilalui dengan berjalan kaki tanpa mengenal betul akan medan yang akan saya hadapi.

baduy satu

Ternyata saya lemah. Foto oleh Mia Kamila

Saya berdiri sembari bersandar di pohon yang usianya sudah tua, berharap saya dapat memulihkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Sementara teman-teman saya menunggu di sebuah gubuk reot milik warga. Tas ransel dengan beban yang lumayan berat masih melekat pada punggung saya.
Sesekali menghirup nafas panjang, memaksa udara segar masuk ke dalam paru-paru saya. Tempat ini benar-benar asri. Sayangnya saya datang ketika hidung sedang mampet karena flu. Tak lama saya pun melanjutkan perjalanan dan menyusul kelima teman-teman saya. Rival, Vania, Ijal, Wawan dan Eha.

“Capek mbak?” Tanya Rival.

“Ahhh…nggak, cuma ingin menikmati udara di sini aja.” Jawab saya sedikit ngeles.

Gengsi dong, baru jalan sebentar sudah mengeluh capek. Tapi memang pada kenyataanya begitu. Meskipun lemah, tapi saya tak mau terlihat lemah di mata mereka.

Sore itu menjelang magrib, kami melakukan perjalanan trekking dari Ciboleger ke Gajeboh (Baduy Luar). Pada mulanya saya merasa aman-aman saja dengan jalan yang dilalui. Hanya saja perlu berhati-hati lantaran licin. Namun, semakin jauh saya melangkahkan kaki, jalur yang saya lalui naik turun tak beraturan.

“Beli durian dulu lah, sambil istirahat.” Kata Wawan memecah kericuhan dan membuat wajah lelah saya kembali berbinar.

Tanpa mikir panjang saya pun berlari menghampiri Wawan yang tengah berada di depan bapak tua penjual durian. Sambil tawar menawar, saya meneguk botol berisi air mineral yang sedari tadi saya genggam.

baduy

Durian khas Baduy yang dibawa penduduk lokal. Foto oleh MIA KAMILA

Kami pun menikmati durian sambil berfoto. Lupakan flu yang melanda, capek yang menyerang yang penting kami menikmati durian khas Baduy.

Puas menikmati durian pun kami melanjutkan perjalanan menuju desa Gajeboh yang rupanya masih jauh dari tempat kami menikmati durian. Hingga matahari pun terbenam dan hari mulai gelap. Suasana desa pun nampak gulita karena tak ada listrik yang mengalir. Hanya lampu senter kami yang menjadi penerang.

Ransel yang menjadi beban puggung, saya letakkan di sebuah teras salah satu penduduk lokal Baduy, rencananya kami akan bermalam di sana. Rumah panggung milik kang Karim itu Nampak tak begitu luas, namun cukup buat kami berenam.

Dinginya udara membuat hidung saya semakin mampet dan suara saya menjadi parau. Bukan sebuah obat flu yang saya minum melainkan sebuah multivitamin. Nampaknya bukan solusi yang tepat, karena flu yang saya derita harus di sembuhkan bukan lagi dicegah.

“Besok kita lanjut jalan ke Cibeo. Mbak Mia masih kuat kan?” Tanya Rival.

“Masih, ini aku buat istirahat besok juga udah fit lagi. Udah minum vitamin juga.” Balasku sambil terkekeh.

Sementara yang lain? Mereka asik menyantap durian dan saling lempar pongge (baca: biji buah durian). Malam itu, terasa berkesan bagi kami. Tak ada listrik, tak ada signal, sehingga yang kami lakukan adalah quality time tanpa gadget. Padahal kami baru saja kenal siang tadi. Kecuali Rival yang sudah saya kenal beberapa bulan lalu di Semarang. Pun dengan Vania yang menemani saya dari Semarang.

Hingga malam pun semakin larut…

baduy

Malam pun turun. Foto oleh Mia Kamila

Paginya kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Rencananya kami akan menyambangi desa Cibeo (Baduy Dalam). Tapi kami tidak akan menginap di sana, artinya setelah sampai di Cibeo kami akan turun kembali ke Gajebo.

“Makanya ayo buruan, pagi-pagi kita berangkat biar tidak buang waktu di jalan.” Seru Ijal yang nampak semangat pagi itu. Sementara saya dan teman-teman lainnya masih asik merebahkan badan di teras rumah.

Ada hal yang asik ketika pagi menyingsing. Saya melihat aktifitas wanita-wanita Baduy yang sedang menenun. Sementara para lelaki berangkat ke ladang dan sebagian ada yang mengangkut durian ke Ciboleger untuk di jual. Tak terkecuali dengan anak-anak mereka. Meskipun usianya masih belia mereka turut membantu orang tuanya untuk memikul durian menuju Ciboleger. Duh, membayangkannya saya sudah tak sanggup. Menghadapi medan jalan yang naik turun, terjal dan licin dengan beban durian yang berat.

Perjalanan dimulai. Dengan menggenggam kamera, saya mengikuti langkah teman-teman. Sekilas medannya tak begitu terjal. Saya pun sedikit lega, meskipun kondisi saya masih seperti kemarin. Untuk menuju Cibeo, kami dipandu oleh Kardi anak dari kang Karim.

Baduy

Anak-anak kecil Baduy. Foto oleh Mia Kamila

Semakin lama kami berjalan, semakin cepat pula ritme langkah kaki mereka. Sementara saya beberapa kali tertinggal di belakang. Tak mau tertinggal saya pun ikut mengayuh langkah dengan cepat. Tiba-tiba sebuah tanjakan menanti saya di depan. Tanpa ragu saya pun melalui tanjakan tersebut dengan jumawa dan melihat teman saya sudah berada di atas, kecuali Vania yang ternyata masih tertahan di tengah-tengah.

“Vania ayoo….! Semangat naik….naik….!” Saya melewati Vania yang tengah bersandar di dinding tebing.

“Hossshh….hosssh….!”

Saya merasa nafas saya seakan-akan putus, hidung yang mampet semakin mampet dan kepala pening menadadak, eh, tiba-tiba mata saya pun ikut berkunang-kunang. Merasa ada yang aneh, saya pun mencari dahan pohon. Sialnya saya hanya menemukan dahan seukuran genggaman tangan.

“Bang…! Saya mau pingsan!” Teriak saya kepada Rival yang sudah jauh di atas saya.

“Hahaha…katanya kuat!” Jawab Rival sambil terkekeh.

“Hahaha….makanya jangan ngeledekin aku.” Sahut Vania yang ikut terkekeh setelahnya.
Saya hanya tergulai lemah di atas batu sambil bersandar di dahan kecil itu. Tak lama kemudian Rival turun dan menyuh saya untuk meminum air hangat yang dibawanya dari rumah kang Karim.

Berulang kali Rival meledek dan menertawakan saya. Seketika saya teringat oleh seorang wanita yang bertubuh agak gempal ditatih oleh dua orang temannya saat di Gajeboh kemarin sore. Dengan sombongnya saya berkata “Setinggi apa sih medannya? Sampai pingsan begitu? Lebay deh!”

Tak tahunya saya sendiri mengalaminya dan termakan omongan sendiri. Saya akui, memang rute untuk menuju Baduy dalam sangat terjal dan naik turun. Butuh stamina yang kuat dan tenaga ekstra.

Untungnya pada saat itu tenaga saya segera pulih sehingga saya berhasil sampai di Cibeo, mandi di kali, makan durian sampai minum air sumber yang mengalir di pinggir tebing lantaran kami kehabisan air minum.

***

Sebuah makna perjalanan yang saya dapat saat itu adalah jangan pernah memaksakan keinginan bila kondisi memang sedang tidak memungkinkan. Jangan terbawa emosi lantaran tak mau dibilang lemah sehingga mengabaikan kondisi badan yang kurang fit.

Baca juga cerita menarik lainnya di sini;

banner experience