Situs Lambanapu di Sumba Timur Mengungkap Leluhur Nusantara

Sejak tahun 2016, para arkeolog melakukan ekskavasi di Situs Budaya Lambanapu di Sumba Timur yang berusia sekitar 2.000 sampai 3.000 tahun.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Sejak tahun 2016, para arkeolog dari Pusat Arkeologi Nasional berupaya melakukan ekskavasi di sebuah situs purba yang berusia sekitar 2.000 sampai 3.000 tahun. Situs Budaya Lambanapu di Sumba Timur terletak di antara pemukiman warga setempat, hanya 10 meter dari Kota Waingapu, lokasi tepatnya berada di Kelurahan Lambanapu, Kecamatan Kambera.

Situs budaya ini menjadi begitu penting karena dapat mengungkap bukti persebaran penutur bahasa Austronesia yang merupakan nenek moyang dari masyarakat nusantara. Perlu diketahui, austronesia merupakan satu rumpun bahasa yang menjadi induk sebagian besar bahasa daerah di Indonesia. Dituturkan oleh keturunan ras Mongoloid dari selatan Taiwan.

Berbagai temuan mengejutkan terungkap, salah satunya adalah analisis tentang jejak leluhur orang Indonesia, terutama Sumba. Di dalam Situs Lambanapu di Sumba Timur ditemukan sebuah kotak yang berisi tulang belulang manusia dan hewan, tempayan kubur dari tanah liat, mangkok dari perunggu yang menjadi wadah kubur, manik-manik, serta mutiara.

(travel.kompas.com)

Terdapat enam kotak ekskavasi dengan puluhan tempayan kubur milik orang-orang yang pernah hidup pada sekitar 2.800 tahun lalu. Kubur itu terdiri atas tiga susun, padahal biasanya kuburan orang-orang Sumba di wilayah ini hanya terdiri dua susun saja. Melalui sistem penguburan ini diketahui bahwa dahulu mereka telah mengenal konsepsi kepercayaan.

Tidak semua yang ditemukan di Lambanapu Sumba Timur adalah ras Mongoloid, namun juga Australomelanesid. Hal ini menunjukkan adanya percampuran ras melalui perkawinan. Artinya orang Sumba lahir dari percampuran antara Ras Mongoloid dan Australomelanesid. Berdasarkan morfologi, orang Sumba memang memiliki ciri perpaduan dari dua ras.

Destinasi Wisata Unggulan

(mediaindonesia.com)

Dilansir dari mediaindonesia.com, Retno Handini dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berharap situs budaya di Kabupaten Sumba Timur ini dapat menjadi open site atau museum lapangan sehingga bermanfaat untuk akademik maupun pariwisata. Dengan begitu, masyarakat lokal di sekitarnya pun lebih sejahtera karena roda perekonomian bisa berputar.

Retno menuturkan, keberadaan situs ini menjadi sangat penting karena memiliki benang merah dengan situs-situs budaya yang ditemukan di pulau lain, mulai dari Sumatera, Bali, Jawa, Nusa Tenggara, dan Maluku. Sejak diumumkan pada 2019, banyak masyarakat dari luar daerah yang berkunjung untuk menyaksikan jejak peradaban nusantara di masa lalu.

Pada Desember 2019, situs Lambanapu Sumba Timur dinobatkan sebagai Rumah Peradaban Sumba oleh pemerintah setempat. Meskipun demikian, pemerintah dinilai kurang memperhatikan keberadaan situs ini, baik dari segi promosi maupun infrastruktur. Bahkan rumah penyimpanan tulang dan kerangka manusia dibuatkan oleh yayasan yang berasal Jakarta.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU