Sidebar

Kisah Petani Ambon yang Sukses Menggapai Puncak Cartenz

Ngeri, tapi keren banget nih bapaknya!

SHARE :

Ditulis Oleh: Rizqi Y

Mendakilah ke manapun Kamu mau, persiapkan sebaik mungkin, dan berdoalah agar Tuhan selalu menyertai langkahmu!

Cartenz dikenal sebagai gunung tertinggi di Indonesia yang masuk dalam 7 puncak tertinggi dunia. Biaya mahal dan medan pendakian yang sulit membuat gunung ini susah buat didaki. Apalagi oleh orang yang nggak terbiasa dengan cuaca ekstrim dan kegiatan mendaki.

Tapi seorang petani asal Ambon yang telah berhasil mendaki Puncak Cartenz mendadak bikin heboh. Melansir dari kompas.com, petani ini telah berhasil mencapai Puncak Cartenz pada tanggal 14 Januari 2017 lalu. 

Dia adalah Handoko, petani asal Ambon yang secara menggemparkan berhasil menggapai Puncak Cartenz

Handoko saat di Puncak Cartenz. Sumber foto

Kamu mungkin nggak percaya kalau ada seorang petani biasa yang bisa mendaki dan sampai di Puncak Cartenz. Tapi faktanya, ada seorang petani asal Ambon yang sukses mendaki Cartenz, dia adalah Handoko.

Handoko adalah orang biasa yang sebelumnya hanya bekerja mengolah lahan pertanian buah dan sayur seluas 1,5 hektar. Petani yang berumur 39 tahun ini hidup dan biasa menggarap lahan pertaniannya di dataran Waepo, Buru Maluku.

Tanggal 14 Januari 2017 lalu Handoko dinyatakan telah mencapai Puncak Cartenz bersama beberapa pendaki lain dari daerah lain. Ia harus mengeluarkan uang yang nggak sedikit untuk pendakian ini. Setidaknya uang sejumlah 35 juta rupiah sudah ia keluarkan.

Tapi ternyata harga ini terbilang murah gais, soalnya nih biasanya biaya buat mendaki ke Cartenz sekitar 65juta. Mahal ya, tapi keren banget, bapak petani ini sampai bisa mendaki ke sana. 

Usut punya usut, Handoko ini ternyata emang hobi mendaki dan sudah tergabung dalam organisasi pencinta alam

Handoko bersama beberapa pendaki Maluku. Sumber foto

Mungkin banyak yang bingung, kok bisa sih seorang petani yang nggak terbiasa mendaki bisa naik ke Puncak Cartenz? Jangan salah ya, karena sebetulnya Handoko ini emang punya ketertarikan sendiri di dunia pendakian. Bahkan di tahun 2014 lalu diasukses mendaki Puncak Kinabalu di Malaysia. Belum lagi gunung tinggi lainnya di Indonesia. 

Tahun 1996 Handoko sudah gabung di salah satu organisasi pencinta alam yang bernama PPSWPA-KANAL Ambon. PPSWPA-KANAL Ambon sendiri merupakan Perhimpunan Pemuda Sadar Wisata, Pecinta Alam-Kreativitas Anak-Anak Alam Ambon. Jadi nggak heran kalau Handoko punya pengetahuan yang matang soal dunia pendakian. 

Ini nggak lepas dari ilmu yang diberikan dari organisasi PPSWPA-KANAL Ambon. Misalnya tentang navigasi darat, climbing, mounteneering, survival, PPDG, dan ilmu lain yang berhubungan dengan pendakian. 

Saat ini Handoko dipercaya menjadi Koordinator Pendaki Indonesia Wilayah Maluku. Jadi masih mengira kalau Handoko ini cuma petani biasa? 

Pendakian ke Puncak Cartenz nggak mudah buat Handoko, tapi dengan tekad kuat dia pun bisa menyelesaikannya

Handoko saat berada di Danau Hitam, Pengunungan Jayawijaya. Sumber foto

Karena sadar bahwa medan yang akan dia temui nggak mudah, Handoko pun mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Mulai dari mencari peralatan khusus di gunung es, latihan fisik serta melatih mental.

Handoko mendaki lewat jalur Sugapa. Dari jalur ini Handoko harus melewati rute Jambusiga camp – Endasiga camp – Ebay Camp – Nasidome camp – Basecamp Danau-danau – Puncak Cartensz. Untuk kembali turun pastinya menggunakan rute yang sama. Nah kalau Kamu penasaran bagaimana kondisi di masing-masing trek ini, Kamu bisa cek di sini ya gengs. 

Melewati trek berupa es juga jadi tantangan berat buat Handoko. Belum lagi suhu dingin yang mencapai minus juga membuat dia harus lebih hati-hati pada resiko hipotermia. Tebing es dan juga jembatan tali nggak luput harus dia lewati agar bisa sampai di puncak.

 Saat dalam pendakian, Handoko bahkan bertemu dengan hujan es yang cukup lebat. Dia sempat mengabadikan momen tersebut dalam sebuah video berikut. 

 

A post shared by Khoko Handoko (@handoko_khoko) on

Sebuah pesan dari seorang petani sederhana tentang hakikat “mendaki”

Sosok Handoko dalam keseharian. Sumber foto

Bagi Handoko, mendaki bukan tentang gaya-gayaan atau untuk pamer. Mendaki adalah cara bagi para pendaki sejati untuk lebih memahami makna kebesaran Tuhan. Lewat mendaki jugalah para pendaki harusnya lebih menghormati hidup. Sebab mungkin di gunung Kamu tak pernah tahu bahaya apa yang datang dan bisa mengancam nyawamu.

Baginya, mendaki hanya dilakukan oleh mereka yang memahami arti keberanian, perjuangan, pengorbanan dan kebersamaan. Tanpa itu, maka nggak ada artinya kamu lelah mendaki apalagi cuma demi puncak atau ketenaran. 

Pelajaran penting untuk para pendaki yang cuma bermodal gaya dan ingin hits. Mendaki bukanlah ajang pamer, tapi ajang untuk lebih dekat dengan Tuhan. Dan pastinya ajang untuk menyelami dan mengalahkan ego diri kita sendiri. 

***

Belajar dari kisah petani asal ambon ini, ternyata butuh tekad kuat dan persiapan matang untuk bisa sampai di Puncak Cartenz. Jangan lupa juga membekali diri dengan pengetahuan yang cukup. Jangan mau mati di gunung! Kalau merasa belum siap dengan semua perbekalan yang dibutuhkan, jangan maksa buat naik gunung manapun. 

Well, semoga cerota tentang Handoko bisa menginspirasi Kamu ya gais.

Baca juga:

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Tips Pakaian untuk Hiking ke Gunung, Jangan Sampai Salah Kostum!

7 Tas Backpack Murah Namun Berkualitas yang Cocok untuk Traveling

7 Gunung Paling Berbahaya Bagi Pendaki, Ribuan Nyawa Telah Melayang

Misteri Pendaki Hilang, Hatinya Kurang Bersih untuk Mencapai Puncak

5 Perlengkapan Pendakian Wajib Saat Suhu Udara Dingin

Pendakian Gunung Merbabu Resmi Menerapkan Booking Online

FALLBACK
The END