Bincang Santai Bersama Manager Ayanaz Gedong Songo, Wisata Spot Foto Hits Teranyar di Semarang

Sajian desain unik berupa spot foto ditambah panorama alam yang menenangkan, membuat Ayanaz Gedong Songo tak pernah sepi peminat dan kian ramai diperbincangkan dari hari ke hari. Siapa yang belum pernah ke sini?

SHARE :

Ditulis Oleh: Himas Nur

Pada akhir pekan lalu, Sabtu (28/7/2018) Tim Phinemo mengunjungi dan menikmati keindahan wisata spot foto teranyar milik Bandungan, Kabupaten Semarang, yakni Ayanaz Gedong Songo.

Diketahui bahwa destinasi hits ini belum genap 2 bulan dan telah mencuri perhatian khalayak warganet. Tepatnya, pada 11 Juni 2018, Ayanaz dibuka untuk publik. Pada 23 Juli ini, Ayanaz (semula bernama Ayana) resmi berganti nama.

Baca Juga: Kumpulan Foto Instagram Ayana Gedong Songo yang Dapat Dijadikan Inspirasi

Sajian desain unik berupa spot foto ditambah panorama alam yang menenangkan, membuat Ayanaz tak pernah sepi peminat dan kian ramai diperbincangkan dari hari ke hari.

Pada kesempatan kunjungan tersebut, kami berkesempatan untuk berbincang santai bersama Bapak Sulistio selaku Manager dari Ayanaz Gedong Songo.

Selamat siang Pak Sulis, perihal Ayanaz yang sedang ramai dan viral di jagad maya nih, bagaimana cara pemasaran atau promosi dari Ayanaz?

Pak Sulis, manajer Ayanaz. Foto dari Echi

Selamat siang, selamat datang di Ayanaz. Jadi, kalau masalah promosi memang kita mengandalkan media sosial, Instagram. Kami me-repost dan mengunggah foto-foto di instagram yang mengandung curiosity atau keingintahuan pengunjung.

Jadi, kami hanya menyediakan infrastruktur spotnya, supaya orang menghasilkan spot foto yang baik.

Kami sudah pikirkan sedemikian rupa bagaimana desain spotnya, yang bisa menjadi menarik dalam lensa fotografi. Mungkin ini yang menjadi kekuatan kami dibanding spot foto yg lain.

Jadi mulai sejak kapan Ayanaz memandang bahwa wisata spot foto instagramable ini bisa mendatangkan keuntungan?

Definisi instagramable kan berkembang. Zaman dulu, suatu foto yang bagus, view yang bagus diterjemahkan sebagai sebuah foto yang instagramable.

Namun sekarang, spot foto yang unik, bahkan objek yg difoto dengan kostumnya, dengan gayanya yang unik, itu sudah dianggap instagramable.

Melalui kombinasi ini kalau kita perhatikan, baik dari spot fotonya, objeknya, juga kostum serta gaya dari inisiatif pengunjung juga termasuk instagramable. Berdasarkan kombinasi-kombinasi macam inilah yang membuka ceruk pasar bagi kami.

Spot foto di Ayanaz ada apa saja, pak?

Duduk di dalam air rasanya gimana ya

Jadi di sini total ada 42 spot, termasuk di dalamnya adalah spot dome berjumlah 22, underwater sofa berjumlah 1, bubble besar dan bubble kecil masing-masing satu, serta spot balon udara.

Bukan tidak mungkin setelah ini kami akan keluar ide0ide baru, karena itu juga pasti kami lakukan, karena kami tidak ingin pengunjung hanya datang sekali.

Saya pikirjuga pengunjung akan bosan bila kedatangan kedua dan seterusnya, masih tidak ada kebaruan dari spot yang ada.

Berarti setelah ini akan diupdate lagi spot-spot foto yang ada?

Secara reguler dalam interval waktu tertentu, kami pasti menambah koleksi dan atau menghilangkan yang lama dan atau mengembangkan jenis-jenis spot baru, sesuai dengan tren yang ada saat ini.

Seperti sangkar atau kami menyebutnya dome, yakni mewakili ikon-ikon yg banyak diperbincangkan orang, misalnya Minion, Superman, F1, dan masih banyak lagi.

Kami berusaha untuk mencoba mewakili apa yg digosipkan orang.

Ada rencana untuk menambah wahana permainan untuk anak-anak?

Nuansa pink, menambah kesan manis

Jadi begini, ada pergeseran pemahaman. Ayanaz ini menyediakan sebuah spot foto, bukan wahana permainan atau rest area. Tapi ternyata pada praktiknya, belum banyak orang yang memahami apa itu spot foto.

Sehingga kami terus mengedukasi bahwa di sini juga berbatas pada waktu. Pernah ada yang datang, rombongan begitu, semacam gathering, membuka ransel makan, arisan, dan semacamnya di spot foto dome. Padahal tempat yang digunakan adalah spot untuk foto.

Ya, jadi kami, Ayanaz Gedong Songo adalah wisata spot foto. Tentu hal ini juga masih kami diskusikan, apakah hal ini akan mengurangi kenyamanan pengunjung.

Karena target market kami adalah mereka yang gila fotografi dengan segala trial dan error yang ada. Namun kami harus mengedukasi karena belum semua masyarakat kita terbiasa dengan wisata spot foto.

Bagaimana perihal banyaknya tiket masuk yang harus dikeluarkan oleh pengunjung?

Karena kami lebih membela view, jadi ketemunya area ini, yakni yang agak menjorok ke dalam. Keputusan kami untuk tetap berada disini, jadi kami jauh dari entry gate Gedong Songo, maka dari itulah kami membuat entry gate sendiri.

Jadi, Ayanaz dan Gedong Songo itu adalah dua hal yang berbeda. Kalau Gedong Songo dengan entry ticketnya mewakili area masuk milik negara. Sementara kita adalah swasta murni. Kami menyewa tanah milik penduduk, yang tidak berada di area Gedong Songo.

Kemudian, untuk definisi mahal itu kami terangkan begini, dengan Rp 20.000 untuk tiket dewasa dan Rp 10.ooo untuk tiket anak-anak, pengunjung dapat minimal 40 spot gratis. Sebab yang 2 itu berbayar, yakni bubble besar dan kecil.

Bila dianggap bahwa satu spot kita bisa mendapatkan 3 angle atau hasil 3 jepretan foto, maka bila ada 40 spot maka setara dengan kita sudah mendapatkan 120 foto. Bila nominal tersebut dibagi dengan Rp 20.000 sebagai harga tiket masuk, maka untu satu spot nya saja, pengunjung sebenarnya hanya mengeluarkan dana tak lebih dari 200 perak.

Hanya memang kembali lagi, ini sesuatu yang baru, kadang masih ditemukan distorsi pemahaman, seperti ada pengunjung yang bilang ¨Masa duduk belum ada 10 menit, sudah diimbau untuk ganti giliran.¨

Apakah ada kemungkinan untuk mengembangkan wisata selain berpusat sekadar sebagai wisata spot foto?

Sementara ini baru fokus di spot foto. Kami fokus pada bagaimana mencari titik yang menurut kami instagramable itu.

Adakah rencana untuk membuat tiket terusan, agar ketika ke salah satu spot foto tidak perlu membayar lagi?

Jadi, berdasarkan data pengunjung, yang paling favorit adalah yang bubble, kemudian underwater sofa. Bila pada weekend, antrean bisa mencapai 160 antrean, maka kalau satu spot foto bubble diberi waktu 3 menit, akan ada 480 menit selama antrean tersebut berlangsung.

Kami takutkan, bila diberlakukan tiket terusan, maka antrean di spot bubble akan melonjak, sementara bubble yang kami miliki baru dua. Bila antrean sampai malam, maka hal ini juga berpengaruh pada kualitas foto dan pencahayaan.

Kami ingin mengakomodasi pengunjung, wacana ke hal tersebut sudah pasti ada, namun selama jumlah bubble kami belum bertambah, mungkin kami belum merealisasinya.

Mengapa spot bubble berbayar?

Karena itu adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang menjadi favorit pengunjung juga.

Kami juga berencana membuat Ayanaz premium, jadi dalam skala yang lebih besar, karena di dalam bubble hanya ada bantal, mungkin nanti di dalamnya bisa untuk pre-wedding dan lain-lain. Namun butuh diameter yang besar dan persiapan yang matang, tapi yang pasti kami akan mengembangkan ke arah sana.

Di Ayanaz bisa untuk lokasi pre-wedding?

Iya, bisa. jadi biaya untuk pre-wedding ini kami menganggarkan Rp 500.000 selama 2 jam. Fasilitas yang kami berikan adalah tenda rias, air mineral dan free ticket untuk maksimal 8 crew.

Bagaimana data statistik pengunjung hingga saat ini?

Jadi, kami mulai buka kan pada waktu libur lebaran, semua segmen publik ada di sini. Namun pada libur sekolah, pengunjung tersegmen pada anak-anak sekolah. Kemudian pada hari-hari setelahnya, yakni hari biasa agak tersegmen ke peminat fotografi atau yang gemar berfoto-ria.

Menjelang akhir pekan, segmen publik kembali berimbang. Justru pada peminat fotografi, pengunjung tipe ini lebih memilih waktu-waktu dimana wisata ini sepi pengunjung, biasanya pada pagi hari atau diluar week season.

Pada week-day kami biasanya melayani 500 hingga 600 pengunjung. Namun pada weekend, kami bisa mencapai 1000 hingga 2000 pengunjung.

Bagaimana dengan para jasa fotografi yang terlihat di area ini? apakah juga dihimpun oleh Ayanaz?

Kami tidak menyediakan, jadi dari dahulu, di wisata Gedong Songo sudah ada jasa ini. Kami tidak menghimpunnya sendiri. Jadi, kami juga senang, semoga bisa saling isi, Ayanaz bisa menjadi wadah untuk mereka berkarya.

Lalu apakah para penjual jasa fotografi di Ayanaz ini kena uang pangkal?

Oh, tidak. Untuk Ayanaz, saat ini masih free.

Memandang ke depan, apakah tren wisata instagramable ini akan bertahan lama?

Kami hanya berpikir, kalau menurut data statistik, yang masuk generasi milenial kan 81 juta dr 255 juta, kata mereka yg meneliti tentang hal tersebut. Tentu saja dengan ciri mereka yang ramah terhadap teknologi informasi dan komunikasi.

Berdasar statistik juga, yang masuk di Ayanaz kan belum seberapa dari total statistik generasi milenial yang ada. Jadi, di luar prediksi tren, kami berharap ceruk pasar masih terbuka. Kami masih yakin belum begitu jenuh. tentu saja kami juga mencermati tren-tren ke depan bagaimana.

Baca Juga: Ayana Gedong Songo, Wisata Instagramable Terbaru di Semarang yang Sedang Hits

Bagaimana dengan objek wisata atau ´pendatang baru´ yang ada di Gedong Songo selain Ayanaz?

Kami tidak memandangnya sebagai saingan. Kalau pun bersaing, logikanya kan kami akan berpikir lebih keras dan menjadi lebih berkreasi lagi. Ya, ini adalah hukum pasar yang harus kita lalui.

Justru yang harus dicermati malah, bagaimana mengatasi macetnya, supaya jangan ada pengunjung yang khawatir terus malas untuk naik ke atas (ke Ayanaz-red). Nah kalau begini kan kami malah kehilangan kesempatan untuk dinilai dan diapresiasi.

Jadi, untuk yang ingin lebih tahu perihal Ayanaz bisa cari tahu dimana?

Bisa buka instagram kami di @ayanaz.gedongsongo. Kami buka tap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU