Sidebar

7 Pertanyaan Untuk Pendaki Gunung

Hei para pendaki gunung! Ada banyak pertanyaan yang membuat saya pusing dengan memikirkan dan menyimpannya sendiri.

SHARE :

Ditulis Oleh: Umu Umaedah

Foto oleh Febrian Ganda

Hei para pendaki gunung! Ada banyak pertanyaan yang membuat saya pusing dengan memikirkan dan menyimpannya sendiri. Saya bukan pendaki, saya hanya seorang awam yang memiliki hobi mengamati serta rasa penasaran tinggi. Bisakah kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan sepele ini?

1. Mengapa harus mendaki gunung?

Memakai sepatu gunung, menggunakan pengikat kepala, memegang trekking pole, dan menggendong ransel besar, penampilan seperti ini yang sedang diikuti banyak orang. Bukankah di gunung istilahnya hanya menumpang tidur dengan suasana berbeda? Beralaskan matras, berlindung di dalam tenda, dan tidur melingkar di dalam sleeping bag. Lalu kamu menyalakan api unggun untuk memasak dan menghangatkan badan. Terlebih jika kamu ingin buang air besar atau air kecil, bukankah itu menyulitkanmu? Selebihnya, apa sebenarnya yang kamu dapatkan di sana?

2. Apa yang kamu cari di gunung?

Di gunung tak ada taman rekreasi, tak ada minimarket, mall, ataupun tempat nongkrong, jadi apa yang kamu cari? Bukankah di sana hanya ada hutan dan hamparan rumput, bahkan ada hewan buas?

3. Apa yang membuatmu begitu termotivasi dan antusias untuk selalu melakukan pendakian?

Apakah foto-foto yang berseliweran di sosial media membuatmu ingin menirunya? Jika motivasimu mendaki adalah melarikan diri dari permasalahan hidup dengan cara mendekatkan diri pada alam, lalu, setelah mencapai puncak dan berhasil turun, apakah kamu benar-benar bisa melupakan masalahmu?

4. Menaklukan berbagai puncak gunung, seperti apa rasanya?

Puncak tertinggi Jawa sudah berhasil kamu taklukkan, dan gunung-gunung di luar pulau berhasil kamu sambangi. Foto-fotomu di banyak gunung dipampang dengan jelas dengan caption ‘… MDPL. Kamu kapan ke sini?’

Seperti apa rasanya? Apakah sebuah perasaan bangga yang mem buncah dalam dada?

5. Apakah tiap pendakian harus mencapai puncak?

Apakah puncak harga mati bagimu? Saya tak pernah mendaki, tapi saya lihat pendakian sepertinya sangat melelahkan, apa itu sepadan dengan  yang kamu dapat di puncak?

Baca juga, Pendakian Merbabu: Puncak bukan harga mati

6. Foto atau nyawa?

Bagimu, manakah yang lebih penting, berfoto di tempat-tempat berbahaya di gunung demi eksistensi diri di sosial media namun beresiko celaka, atau pulang dengan selamat meski hanya dengan foto-foto yang biasa saja?

7. Apakah rumahmu tidak lebih hangat?

Di atas gunung sangat dingin. Apa rumahmu tidak lebih hangat, lebih aman, dan lebih bisa melindungimu daripada berada di luar? Karena untuk menjadi seorang petualang tidak harus selalu keluar dari rumah. Apa kamu pikir mereka yang tinggal di rumah memiliki pengetahuan yang cetek dan tidak menikmati hidup?

***

Apakah pertanyaan-pertanyaan saya ini terlalu mengganggu? Maaf jika saya terlalu banyak bertanya. Sebagai awam, saya hanya ingin tahu lebih banyak, karena saya pikir dunia pendakian itu menarik. Saya hanya tak ingin melakukan sesuatu tanpa memiliki pengetahuan cukup tentang hal itu.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Kenapa Dilarang Memetik Bunga Edelweis di Gunung? Sangat Istimewa

Jadwal Pembukaan Pendakian Gunung di Indonesia di Masa New Normal

Kenapa Indonesia Banyak Gunung Berapi? Ternyata Ini Alasannya

5 Gunung Paling Angker di Indonesia, Jangan Mendaki Sendiri!

Pendaki Pemula Harus Ditemani Pemandu Bersertifikat Resmi

7 Kegiatan Terlarang yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Mendaki Gunung

FALLBACK
The END