Sidebar

Wisata Pemakaman Bayi Kambira di Pohon Tarra Tana Toraja 

Tanah kopi di Sulawesi Selatan ini memang kaya akan budaya. Di sini, Anda akan menemukan wisata Pemakaman Bayi Kambira di Pohon Tarra.

SHARE :

Ditulis Oleh: Paundria

Di tanah penghasil salah satu varian kopi terbaik Indonesia ini memang menyimpan beragam tradisi dan adat budaya yang unik. Selain tradisi menyeramkan mayat berjalan, tradisi lompat batunya, masih ada lagi tradisi yang tak kalah unik, yakni adanya pekuburan bayi yang berbeda dengan daerah lainnya.

Jauh di 186 mil dari Kota Makassar, Anda akan menemukan Pemakaman Bayi Kambira. Tepatnya di Tongko Sarapung, Sangalla, Tana Toraja Sulawesi Selatan.

Baby grave atau pemakaman bayi. Credit:travel.kompas.com

Pohon Tarra sebagai pemakaman

Memasuki objek Makam Bayi Kambira (Kambira Baby Grave) anda akan disambut dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi di tengah rimbunan bambu. Pohon-pohon yang oleh masyarakat Toraja disebut dengan pohon ‘tarra’ ini memiliki pintu – pintu yang terbuat dari ijuk.

Baca juga Misteri Musnahnya Pohon Baobab, Pohon Purba Terbesar di Dunia

Pohon Tarra yang digunakan sebagai makam bayi di Tana Toraja. Credit : tribunnews.com

Pemakaman bayi pada sebatang pohon dalam bahasa Toraja disebut Passilliran. Tradisi ini pun hanya dilakukan oleh masyarakat Toraja yang menganut Aluk Todolo (kepercayaan terhadap leluhur).

Menurut masyarakat Toraja, bayi yang masih berusia 6 bulan merupakan bayi yang masih suci dan tanpa dosa, sehingga harus dimakamkan dengan cara yang khusus pula. Pohon tarra sengaja dipilih sebagai  tempat menguburkan bayi karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu (ASI).

Tanpa pembungkus

Untuk proses pemakaman bayi yang ada di Tana Toraja ini pun unik dan sederhana. Pohon Tarra’ tersebut dilubangi dengan diameter seukuran bayi. Kemudian jenazah bayi diletakkan dalam lubang pohon tanpa dibungkus kain apapun.

Selanjutnya, lubang ini ditutup dengan menggunakan ijuk pohon enau. Dalam prosesi ini, masyarakat Toraja yakin jika bayi yang mereka kuburkan seperti kembali pada rahim ibunya. Uniknya lagi, meskipun jasad bayi-bayi ini dikuburkan tanpa pembungkus, tak tercium bau apapun dari pohon tersebut.

Baca juga Wisata Kampung Kramat Malang Segera Diresmikan

Berusia kurang dari 6 bulan dan belum tumbuh gigi

Bayi yang meninggal akan dimakamkan di pohon ini dengan syarat bayi tersebut meninggal dalam usia kurang dari 6 bulan, belum tumbuh gigi, belum bisa berjalan, dan masih menyusui. Getah yang ada di Pohon Tarra ini dianggap sebagai air susu yang mampu menggantika fungsi ASI untuk si bayi.

Dimakamkan sesuai kasta

Pemakaman bayi diurutkan sesuai kasta keluarga. Credit : mazmuzie.blogspot.com

Penempatan jenazah bayi di pohon ini, sesuai dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra. Bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Suku Bajo di Sulawesi, Sang Manusia Ikan dari Indonesia

Penemu Benua Australia Adalah Pelaut Makassar Saat Pelayaran Marege

Amatoa Resort Tanjung Bira Makassar, Hotel Mewah di Atas Tebing Batu

Tana Toraja Sulawesi Selatan, Warisan Tanah Purba di Nusantara

Danau Terdalam di Asia Tenggara Ada di Sulawesi Selatan

Patung Yesus Tertinggi di Dunia Terletak di Tana Toraja, Indonesia

FALLBACK
The END