Sidebar

Suku Bajo di Sulawesi, Sang Manusia Ikan dari Indonesia

Suku Bajo di Sulawesi dan beberapa wilayah Indonesia lain merupakan penjelajah laut dan perenang yang habat. Mereka adalah manusia ikan dari Indonesia.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Suku Bajo atau disebut juga Suku Bajau dan Suku Sama merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang hidup nomaden di atas perairan laut. Tak heran banyak yang menjulukinya dengan sebutan Gipsi Laut. Suku Bajo datang dari Kepulauan Sulu di Filipina utara ratusan tahun lalu. Sebagian besar menuju ke Sabah dan berbagai wilayah Indonesia, hingga ke Kepulauan Madagaskar.

Daerah migrasi Suku Bajo ratusan tahun lalu sangat luas. Oleh karena itu mereka juga dapat ditemui di Malaysia, Brunei, dan Filipina. Di Indonesia, Suku Bajo tinggal di Kalimantan Timur (Berau, Bontang), Kalimantan Selatan (Kota Baru), Sulawesi Selatan (Selayar), Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (Boleng, Seraya, Komodo, Longos), Sumenep, dan wilayah Indonesia timur lainnya.

Suku Bajo yang berada di Indonesia telah mengalami adaptasi budaya dengan masyarakat lokal, sehingga jauh berbeda dengan Suku Bajo di Filipina. Mereka berbicara dengan bahasa, intonasi/logat yang berbeda. Sebagian besar Suku Bajo di Indonesia juga tidak lagi nomaden, mereka hidup menetap di pesisir pantai dengan hunian sederhana yang layak ditempati dan meninggalkan Animisme/Dinamisme,.

(travel.tribunews.com)

Perenang Hebat Si Manusia Ikan

Keunggulan Suku Bajo adalah perenang hebat, mereka mampu bertahan di kedalaman hingga 60 meter selama 13 menit, tanpa alat bantu apapun. Terdapat sebuah film dokumenter yang menyandingkan seorang penyelam profesional dari Swedia dengan kakek-kakek Suku Bajo untuk menyelam di lautan tanpa bantuan alat apapun. Pada akhirnya penyelam menyerah tidak kuat menahan nafas sebelum sang kakek dari Suku Bajo.

Suku Bajo merupakan seorang penjelajah laut dan perenang yang habat. Mereka adalah manusia ikan dari Indonesia. Tidak berlebihan menyebut demikian, karena berdasarkan data ilmiah, memang Suku Bajo memiliki limpa dengan ukuran rata-rata 50% lebih besar dibandingkan manusia dari suku bangsa lainnya. Limpa ini selanjutnya berfungsi sebagai tabung oksigen untuk aliran darah mereka saat sedang berenang di lautan luas.

Tidak cukup sampai disitu, para peneliti juga menemukan keberadaan gen yang disebut PDE10A pada Suku Bajo. Gen unik yang hanya dimiliki oleh orang-orang dari Suku Bajo. Para ahli menduga bahwa gen tersebut berfungsi mengontrol hormon tiroid tertentu. Pada tikut, hormon tiroid dikaitkan dengan ukuran limpa. Semakin tinggi kadar hormon tiroid, maka semakin besar pula ukuran organ limpa.

(travel.tribunews.com)

Ukuran limpa menjelaskan alasan kenapa orang-orang dari Suku Bajo dapat berenang dan bernafas dengan baik di dalam air. Seleksi alam telah membantu Suku Bajo mengembangkan keunggulan genetis mereka. Tubuh masyarakat Suku Bajo dapat merespon dengan baik ketinggian dan kedalaman ekstrim. Pada manusia normal, menyelam di kedalaman laut akan menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang berujung kematian.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

7 Tips Hadapai Resesi, Terus Liburan Tapi Keuangan Tetap Aman

The Tiing Hotel di Bali Raih Penghargaan Desain Hotel Terbaik 2020

7 Hotel Unik di Indonesia Bergaya Rumah Pohon untuk Staycation Seru

Hukum Merayakan Maulid Nabi dengan Tradisi Sekaten, Haram?

Polemik Jurrasic Park Komodo, Akhir Tragis Sang Naga Terakhir?

5 Hotel Eksklusif di Sekitar Candi Borobudur untuk Staycation Seru

FALLBACK
The END