facebook pixel

Saya Berhenti Sejenak dari Mendaki Gunung, Karena Saya Mencintai Gunung

Saya mencintai gunung, dan saya memutuskan untuk beristirahat sejak dari mendaki gunung. Karena itulah yang saya bisa lakukan.


“Pendaki gunung, sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
memploklamirkan dirimu pecinta alam
sementara maknanya belum kau miliki”

Lantunan lagu Rita Rubi yang diputar seorang teman kantor tetiba saja membuat saya ingat sebuah kemeja hitam lengan panjang, dengan sematan bendera merah putih di lengan kanan dan lambang organisasi pencinta alam di lengan kiri. Lengkap dengan nama dan nomor anggota di dada kanan. Kemeja hitam itu berhasil mengingatkan saya pada masa dimana mendaki gunung adalah hal pertama yang membuat saya bahagia.

Ingatan ini mengantarkan saya ke sebuah cerita lama, masa dimana gambaran saya tentang pendaki masih sangat abu-abu. Tahun 2010, saya memulai pendakian pertama bersama rombongan yang mayoritas tak punya pengalaman mendaki. Hanya ada satu dua orang senior yang sudah beberapa kali naik gunung. Yang pasti, modal saya mendaki waktu itu hanya rasa “suka”.

Kalau Kamu berpikir pendaki gunung itu keren, mungkin penilaian itu tak akan pernah Kamu berikan pada saya dan rombongan. Di mata khalayak, pendaki keren adalah mereka yang memakai tas carier besar, memakai sepatu boots, dan ikat kepala. Sedangkan saya? Hanya bermodal sepatu olahraga dan sandal jepit. Alih-alih dibilang keren, kalau saya mendaki dengan gaya seperti itu sekarang, mungkin saya akan dilabeli pendaki ndeso  atau pendaki alay. Yah.. mungkin memang begitu sih. Saya akui.

Meski hanya bersandal jepit, saya bahagia dengan mendaki gunung kala itu

 

mendaki gunung

Saya adalah orang di ujung kiri dengan sandal jepit khas Indonesia. Foto dokumentasi pribadi

Kalau dinilai dari keamanan, tentu mendaki kala itu jauh dari kata aman. Bayangkan saja, saya mendaki gunung hanya dengan sandal jepit. Tapi, entah mengapa mendaki gunung saat itu benar-benar bisa membuat saya bahagia, dan masalah tentang kuliah, keluarga, pacar (eh dulu saya masih jomblo), seakan-akan hilang begitu saja. Saya hanya ingat betapa indah ciptaan Tuhan, sampai saya hanya terdiam memandanginya.

Gairah bahagia itu entah kenapa mulai hilang beberapa tahun terakhir. Saya sendiri tak tahu apa alasannya. Apa mungkin karena gunung sudah terlalu ramai? Karena gunung sudah terlalu kotor? Atau karena saya sendiri yang mulai kehilangan motivasi?

Pernahkah Kamu merasakan hal yang sama dengan saya?

Bicara tentang motivasi, apa sebenarnya yang menjadi motivasimu mendaki gunung?

Pertanyaan itu kerap kali datang disaat saya merasa rindu. Sebab, saya tak pernah tahu apa motivasi saya untuk mendaki. Yang saya tahu, saya hanya jatuh cinta dan suka mendaki.

Saya penasaran pada sekian ribu pendaki yang selalu memadati gunung tanpa kenal waktu. Apakah mereka mendaki karena mengikuti tren, memang karena mencintai gunung, menikmati anugerah Tuhan, atau ada alasan lainnya? Mengapa mereka begitu bersemangat mendaki, namun tak pernah tahu hakikat mendaki? Mereka tinggalkan sampah di gunung, mereka lakukan aksi vandalisme, mereka rusak fasilitas di gunung.

Seorang teman yang sudah mendaki sejak masih SMA berkata,

Saya mendaki untuk mensyukuri anugerah Tuhan, bukan karena puncak, bukan karena gaya-gayaan, bukan juga karena tren.

Arif, teman saya yang sedang dalam misi mendaki everest bercerita,

Tuhan itu sudah menciptakan alam ini begitu indahnya. Tuhan juga sudah menjelaskan kok, kalau manusia harusnya bisa melihat betapa agungnya Dia lewat ciptaannya. Karena itulah saya mendaki.

Saya akui, saya kagum pada dua orang teman ini. Mereka punya motivasi yang menurut saya mulia. Nggak cuma untuk memenuhi ego supaya dibilang keren karena sudah mencapai banyak puncak. Bukan juga untuk sekedar mengikuti tren agar dibilang kekinian. Dan saya percaya bahwa di tengah pendaki musiman yang hanya serba ikut-ikutan, masih banyak pendaki yang memang memiliki tujuan mulia seperti dua orang teman saya, dan masih peduli akan kebersihan dan kelestarian gunung.

Saya tak memutuskan untuk berhenti mendaki, hanya beristirahat

Melihat hiruk pikuk dunia pendakian saat ini, jujur saya merasa sedih. Sebagai seorang yang pernah jatuh cinta pada gunung –sampai saat ini masih-, saya merasa bersedih karena gunung tak lagi sama seperti dulu.

Sampah yang kian bertumpuk, aksi vandalisme yang makin menggila, aksi pendaki yang merusak alam, tak adanya rasa peduli sesama pendaki dan masih banyak lagi lainnya. Hal-hal inilah yang kian lama membuat saya mengambil keputusan, bahwa saya harus istirahat sejenak. Mungkin suatu hari nanti, kalau gunung sudah kembali tenang, saya akan kembali mendaki.

Mungkin diantara Kamu juga ada yang memutuskan hal serupa. Mungkin juga ada dari Kamu yang masih tetap mendaki. Tak masalah.

Akankah anak cucu kita bisa menikmati gunung yang sama kelak?

Saya punya sebuah mimpi, ingin mengenalkan gunung dan alam kepada anak saya sejak kecil. Tak muluk-muluk, saya hanya ingin dia tumbuh jadi orang yang bertanggung jawab dan tangguh.

Tapi dibalik mimpi itu, ada rasa takut. Akankah anak saya masih bisa melihat dan menikmati gunung sama seperti saya dulu? Atau jangan-jangan, saat anak saya bertumbuh, gunung justru semakin rusak dan tak boleh lagi didaki?

Saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan selalu menjaga gunung-gunung kita. Iya, gunung kita. Bukan gunungmu, bukan gunungku, tapi gunung kita semua. Jika saja semua orang punya mimpi yang sama, mungkin gunung akan tetap terjaga. Andaikan begitu!

***

Pada akhirnya saya sadar, bahwa cara mencintai gunung tak melulu dengan mendaki.

Saya mencintai gunung dan saya memilih untuk istirahat sejenak dari pendakian. Lagu Rita Rubi menyadarkan saya, bahwa saya harus belajar bagaimana seharusnya seorang pendaki sejati bertindak.

 

Baca juga:

 

banner experience