Sidebar

Traveling Ternyata Meninggalkan 8% Jejak Karbon Pemicu Perubahan Iklim

Traveling Ternyata Meninggalkan 8% Jejak Karbon Pemicu Perubahan Iklim

Ketika kita jalan-jalan ke luar negeri dan melakukan penerbangan udara jarak jauh, kita akan meninggalkan jejak karbon, yang merupakan salah satu penyebab utama perubahan iklim.

SHARE :

Ditulis Oleh: Himas Nur

Perubahan iklim dan kerusakan alam di dunia rupanya disumbang oleh besarnya industri pariwisata kita. Mengapa bisa demikian?

Ketika kita jalan-jalan ke luar negeri dan melakukan penerbangan udara jarak jauh, kita akan meninggalkan jejak karbon dalam skala yang besar.

Baca Juga: Pembangunan Bandara Kulon Progo dan Penggusuran Lahan Petani Temon; Darah dan Tanah Milik Siapa?

Jejak karbon merupakan jumlah karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya yang dihasilkan lewat pembakaran bahan bakar fosil, salah satu penyebab utama perubahan iklim.

(Foto/Bigthink.com)

Penelitian Nature Climate Change menyebutkan bahwa aliran karbon terhubung dengan pariwisata di 160 negara. Gaya liburan mewah bertanggung jawab atas hampir 8 persen dari pembuangan gas rumah kaca dunia. Ini tiga persen lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya.

Sejalan dengan Nature, peneliti dari University of Sydney dan University of Queensland meneliti perihal berapa banyak karbon yang dihasilkan seorang turis dan lokasi pariwisata.

Riset menyebutkan bahwa penerbangan udara jarak jauh merupakan penyumbang terbesar jejak karbon di angka 12 persen dari total jejak karbon.

Diketahui bahwa industri pariwisata global penghasil karbon terbesar adalah Amerika Serikat. Negeri Paman Sam ini memproduksi hampir dua kali lipat emisi gas rumah kaca sebagai lokasi tujuan pariwisata dan mengirim turis ke luar negeri.

Selanjutnya, China menempati urutan kedua negara dengan penghasil karbon terbanyak di dunia.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Arunima Malik. Arunima mengungkapkan bahwa semenjak 2009 hingga 2013, emisi karbon dari pariwisata telah meningkat empat kali lebih banyak dari yang diduga.

(ilustrasi) iklim ekstrem dunia (Foto/Pixabay)

Dampak perubahan iklim ini akan berpengaruh pula pada lokasi tujuan wisata, terutama yang berdasar pada pulau-pulau wisata. Hal ini dapat diperparah dengan aktivitas karbon yang dihasilkan turis selama di lokasi wisata.

Freya Higgins Desbiolles, peneliti di bidang pariwisata dan keadilan sosial dari University of South Australia di Adelaide menjelaskan bahwa industri besar berpengaruh besar pula terhadap emisi buruk yang terjadi.

“Industri besar cenderung menyediakan perjalanan jarak jauh yang sumber energinya tidak bisa terbarukan,” ungkap Freya Higgins.

Bila sudah demikian, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus berdiam diri di rumah saja? Barangkali begitu. Namun, tinggal di rumah selamanya bukan pula pilihan yang tepat.

Upaya pengurangan emisi dan jejak karbon ini baiknya dilakukan oleh bahkan negara sekalipun. Menurut Organisasi Pariwisata Dunia PBB, pariwisata global menyumbang sekitar 10% PDB di dunia dan satu dari 10 kesempatan kerja.

Baca Juga: Wisata Hutan Mangrove Mengurangi Dampak Pemanasan Global, Bisakah?

Paris Climate Accord (Kesepakatan Paris) telah mengecualikan ekspedisi via udara dan bunker, hal ini berperan langsung dalam meminimalisasi pengeluaran emisi karbon sebanyak 12 persen.

Ketika kita peduli dan negara turut berperan aktif dalam mendukung industri pariwisata ramah lingkungan, maka secara tak langsung kita menyelamatkan bumi dan segala yang kita cintai yang turut mengada di dalamnya.

SHARE :


Rekomendasi

Umaid Bhawan Palace, Bekas Istana yang Disewakan untuk Penginapan

Rumah Pohon Suku Korowai, Potret Hidup Harmonis dengan Alam

Museum of Broken Relationship, Tempat Mengenang Kegagalan Cinta

Tradisi Berburu Paus di Lamalera, Antara Budaya atau Kelestarian Alam

Montage Palmetto Bluff, Tempat Justin Bieber dan Hailey Baldwin Menikah

5 Tempat untuk Berenang dan Berfoto Bersama Hiu Paus di Indonesia

FALLBACK
The END