Inovasi Bisnis Wisata di Tengah Pandemi Global, Lakukan Agar Pulih!

Industri pariwisata jadi yang terdampak selama pandemi. Oleh karena itu, inovasi bisnis wisata di tengah pandemi menjadi penting.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Hampir satu tahun dilanda pandemi membuat ekonomi Indonesia babak belur. Bahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III mengalami kontraksi cukup dalam, dan masuk jurang resesi. Industri pariwisata jadi sektor yang paling terdampak selama pandemi Covid-19. Oleh karena itu, saat sektor lain masih beroperasi walaupun tidak seoptimal biasa, sektor pariwisata harus merencanakan inovasi bisnis di tengah pandemi.

Tidak hanya Indonesia, pariwisata di hampir seluruh belahan dunia juga mengalami kegagalan yang sama. Pembatasan sosial dan larangan untuk keluar rumah menjadi penyebab utama banyak orang enggan bepergian. Berdasarkan data dari Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), kunjungan wisatawan di seluruh dunia mengalami penurunan 44% selama pandemi jika dibandingkan tahun 2019 lalu saat dunia baik-baik saja.

Banyak bisnis di sektor pariwisata yang mati suri hingga gulung tikar di masa-masa sulit ini. Inovasi bisnis di tengah pandemi menjadi hal penting agar ketika keadaan telah membaik tidak kehilangan daya tarik dan pesonanya. Setidaknya terdapat lima hal yang perlu diperhatikan, berikut ini adalah ulasannya.

1. Inovasi Kebersihan

Inovasi di bidang kebersihan adalah hal mutlak. Cara inovasi yang hampir pasti akan diterapkan yaitu penggunaan disinfektan. Destinasi pariwisata, transportasi publik, toilet umum, penginapan. dan tempat beribadah harus disemprot dengan disinfektan secara berkala untuk mencegah penularan Covid-19. Pastikan juga setiap sudut tempat-tempat tersebut menyediakan cairan sanitasi tangan gratis untuk semua wisatawan yang datang.

2. Inovasi Keamanan

Setiap tempat publik dalam industri pariwisata wajib memiliki satu ruang isolasi khusus dengan higienitas yang tinggi, lengkap dengan alat pelindung diri berstandar. Semua tempat sebaiknya memiliki dua rute, pertama untuk pintu masuk utama dan satunya sebagai rute evakuasi yang hanya dibuka saat darurat. Pihak pengelola bersama karyawan wajib dilengkapi asuransi kesehatan untuk berjaga-jaga apabila hal buruk terjadi.

3. Inovasi Fasilitas

Bagi bisnis pariwisata dengan skala besar seperti kawasan wisata terpadu, setidaknya harus memiliki klinik standar sederhana dengan ruang isolasi dan dokter jaga. Akan lebih baik jika dekat dengan rumah sakit. Fasilitas ini memberikan kepercayaan terhadap wisatawan untuk kembali berkunjung dan bertamasya setelah pandemi Covid-19 berlalu. Menyelenggarakan unit fasilitas ini memang akan sulit karena harganya tidak murah.

4. Inovasi Pelayanan

Pihak pemilik bisnis dapat menjalin kerjasama dengan lembaga kesehatan tertentu untuk mengadakan tes cepat Covid-19. Salah satu bidang bisnis di sektor ini yang telah menerapkan adalah maskapai penerbangan. Mereka yang akan pergi dengan pesawat diwajibkan untuk mengikuti tes Covid-19 sebelumnya. Bagi yang reaktif tidak akan diizinkan berangkat, diarahkan untuk melakukan proses reschedule atau refund tiket yang telah dibelinya.

5. Inovasi Lingkungan

Terakhir berkaitan dengan menjaga lingkungan hidup. Pengembangan satu destinasi wisata baru setidaknya harus menyisakan sebanyak 30% dari luas wilayahnya untuk ruang terbuka hijau. Berdasarkan data, penderita Covid-19 relatif lebih banyak berasal dari perkotaan padat dengan ruang terbuka hijau yang terbatas. Tak hanya itu, pengelola juga harus menyediakan satu lagi ruang untuk fasilitas tanggap bencana dan pengolahan limbah.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


REKOMENDASI

ARTIKEL KEREN PALING BARU