Muaro Jambi, Candi Terluas di Asia dan Pusat Pendidikan Buddha Dunia

Candi Muaro Jambi dikenal sebagai candi terluas di Asia Tenggara dengan luas mencapai 3.981 Ha, hampir delapan kali lebih luas dari Candi Borobudur.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Candi Muaro Jambi merupakan kompleks percandian bercorak Buddha di Jambi, Indonesia. Candi ini dikenal sebagai candi terluas di Asia Tenggara dengan luas mencapai 3.981 Ha, hampir delapan kali lebih luas dari Candi Borobudur di Magelang. Terdapat sekitar 11 kompleks candi yang dikenal, selain itu masih ada puluhan gundukan tanah yang kemungkinan besar di dalamnya terkubur struktur bangunan kuno.

Para ahli sejarah dan arkeologi berpendapat bahwa Muaro Jambi adalah peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya. Kompleks percandian ini pernah jadi pusat pengajaran agama Buddha di dunia. Pernyataan ini makin diperkuat dengan sumber tertulis dari Dinasti Tang di China yang menyebut bahwa seorang rahib bernama I-Tsing sempat menempuh pendidikan di wilayah Swarnadwipa (kini Sumatera) milik Sriwijaya.

Bahkan Candi Muaro Jambi memiliki keterkaitan dengan Nalanda, pusat pendidikan Buddha Mahayana tertua di dunia. Nalanda terletak di India yang didirikan pada masa Gupta sekitar abad ke-4 Masehi. Terdapat satu prasasti di Nalanda yang menunjukkan hubungan antara Raja Pala India dengan Balaputradewa dari Dinasti Syailendra. Tak sedikit dari kalangan bangsawan yang belajar Buddha di Nalanda.

(liputan6.com)

Awal Kehancuran Muaro Jambi

Selama sekitar 500 tahun lamanya kawasan Muaro Jambi ramai oleh para pendatang. Para biksu muda datang dari berbagai penjuru untuk belajar agama Buddha. Tiba-tiba ditinggalkan dan terlupakan begitu saja. Setelah ratusan tahun berlalu, masyarakat mulai bermukim kembali, namun kali ini di seberang Candi Muaro Jambi, di sisi lain dari Sungai Batanghari.

Kehancuran Muaro Jambi disertai dengan kemunduran kebudayaannya. Kemungkinan besar penyebabnya adalah serangan Kerajaan Cola dari India Selatan ke wilayah Semenanjung Malaka. Raja Rajendracola mulai menyerang dengan armada laut untuk menguasai pusat perdagangan di dunia saat itu, Semenanjung Malaka yang dikuasai Kerajaan Sriwijaya.

Penemuan Candi Muaro Jambi

Muaro Jambi pertama kali ditemukan pada masa kolonialisme Inggris pada tahun 1824 oleh seorang letnan bernama S.C, Crooke yang sedang berupaya melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Pada 1975, pemerintah Indonesia baru mulai serius untuk memugar kompleks percandian kuno yang berasal dari abad ke-7 hingga ke-12 Masehi tersebut.

(id.wikipedia.org)

Penemuan lempeng-lempeng yang bertuliskan wajra pada beberapa candi berbentuk mandala menunjukkan bahwa Buddha Mahayana Tantrayana merupakan agama mayoritas. Manik-manik dari Persia, China, serta India menandakan bahwa dahulu tempat ini pernah menjadi lokasi pertemuan berbagai budaya yang dibawa oleh pedagang atau siswa dari luar daerah.

Candi-candi di kompleks Muaro Jambi tersebar dari barat ke timur, sejauh 7,5 Km mengikuti aliran Sungai Batanghari. Candi ini adalah pusat agama Buddha, bukan pusat kerajaan. Hal ini bisa dilihat dari adanya pagar yang membatasi setiap candi untuk membedakan antara area sakral dan profan. Keberadaan kolam sebagai simbol kesucian juga ditemukan di setiap candi.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU