Candi Borobudur, Benarkah Dibangun Nabi Sulaiman AS?

Candi Borobudur merupakan candi Budha terbesar di dunia yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. UNESCO telah menetapkan Candi Borobudur sebagai situs warisan budaya dunia sejak tahun 1991. Mulai dibangun pada tahun 800 M, Candi Borobudur dibangun pada masa kejayaan Wangsa Syailendra di Pulau Jawa.

Tidak diketahui secara pasti siapa dan kegunaan Candi Borobudur, hal ini dikarenakan tidak ditemukannya catatan fisik berupa prasasti atau kitab yang menerangkan. Satu-satunya petunjuk yang digunakan adalah dengan membandingkan jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9.

Peninggalan Nabi Sulaiman AS

Beberapa tahun lalu, publik Indonesia sempat dihebohkan dengan teori KH Fahmi Basya yang menjelaskan bahwa Candi Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman AS yang dipublikasikan dalam buku Matematika Islam 3 (Republika, 2009). Banyak yang percaya, namun tidak sedikit yang justru meragukan teori tersebut.

KH Fahmi Basya mengungkapkan beberapa alasan dan bukti kuat yang mendukung teorinya, diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Tamatsil atau relief Candi Borobudur yang menggambarkan kehidupan rukun antara manusia, binatang, dan tumbuhan merupakan ilustrasi sesuatu yang pernah terjadi pada masa kehidupan Nabi Sulaiman AS.
  2. Relief bunga dan binatang pada Candi Borobudur menunjukkan mukjizat Nabi Sulaiman AS yang mampu berbicara fasih dengan makhluk lain.
  3. Candi Ratu Boko yang tak jauh dari Candi Borobudur merupakan kediaman Ratu Bilqis. Pendapat ini didukung dengan penemuan lempengan emas berukir lafaz bacaan basmallah di kolam candi.
  4. Stupa dan patung dibangun oleh bangsa jin. Konon pembangunannya berhenti setelah bangsa jin tahu bahwa Nabi Sulaiman AS wafat.
(tribunews.com)

Tidak Sesuai Bukti Arkeologi

Nama Borobudur disebut dengan Budur yang muncul dalam manuskrip kuno Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Banyak Arkeologi yang menentang pendapat KH Fami Basya. Menurut mereka kurang tepat jika pemamparan bukti hanya dengan matematika berdasarkan Al-Qur’an, karena Hindu dan Budha juga memiliki matematikanya sendiri. Teori KH Fahmi Basya disebut-sebut tidak bisa diuji secara empiris atau cuma cocoklogi.

Beberapa ahli arkeologi lainnya mengungkapkan, jika memang Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman maka seharusnya semua relief dan prasasti yang ditinggalkan menggunakan bahasa arab bukannya aksara jawa kuno. Banyak referensi ilmiah yang menyatakan bahwa Candi Borobudur adalah Candi Budha, mengingat kesamaan arsitektur dengan kuil-kuil Budha lainnya di dunia.

Dapatkan ulasan menarik tentang magelang dan tulisan Lain dari Taufiqur Rohman

Tags: ,

Paket Produk Penawaran

Pajang Iklan Anda Klik Untuk Daftar