Sidebar

Matthew Tandioputra, Pendaki yang Sukses Capai 7 Puncak Tertinggi Indonesia pada Usia 11 Tahun

Beberapa orang hanya melihat dari kulitnya lalu sibuk membicarakannya, tak banyak yang tahu tentang perjuangan Matthew dan keluarganya dalam mengejar mimpi.

SHARE :

Ditulis Oleh: Rizqi Y

Mendaki gunung selalu membutuhkan sebuah perjuangan yang luar biasa. Terlepas dari berapa banyak uang yang Kamu punya, seberapa canggih alat yang Kamu miliki, selagi tak ada tekad di hatimu, maka puncak gunung hanyalah sebatas angan-angan.

Tujuh puncak gunung tertinggi nusantara, yaitu Gunung Semeru (3676 mdpl), Gunung Kerinci (3805 mdpl), Gunung Latimojong (3478 mdpl), Gunung Binaiya (3027 mdpl), Gunung Bukitraya (2278 mdpl), Gunung Rinjani (3726 mdpl), dan Gunung Cartenz (4884 mdpl) adalah impian banyak pendaki Indonesia. Bisa berdiri di tujuh puncak tertinggi tersebut merupakan sebuah kebanggaan dan prestasi tersendiri bagi para pendaki. Namun tentunya itu tak mudah, butuh perjuangan besar saat ingin menggapai tujuh puncak ini. Itu pula yang dilakukan Matthew Tandioputra, anak berumur 11 tahun yang sukses mencapai tujuh puncak nusantara.

Matthew Tandioputra adalah salah satu pendaki cilik Indonesia yang punya kecintaan dan semangat luar biasa di dunia pendakian. Ia sukses menggapai tujuh puncak nusantara bahkan ikut aktif dalam salah satu film dokumenter bertema pendakian, Negeri Dongeng dari Aksa 7.

Dan di balik prestasi Matthew pastinya tak lepas dari peran dan dukungan orang tuanya Joel Tandionugroho (42) dan Claudia (37).

Awal mula Matthew mengenal dan jatuh hati pada gunung dan pendakian

Awal mula Matthew Tandioputra jatuh hati pada gunung. Foto oleh Joel

“Awal umur 4, kami suka ikutan camping cantik. Tahun 2013 Matt mulai kenal dunia lari. Awalnya sih lari road biasa, tapi Maret 2014 dia mulai diajak lari trail,” cerita Joel Tandionugroho , ayah Matthew.

Claudia, ibu Matthew juga bercerita hal serupa. Sebelum terjun ke dunia pendakian Matthew pernah melihat ayahnya mendapatkan sebuah medali dari ajang lomba lari marathon. Dari sana Matt ternyata ikut lari juga karena ingin mendapat medali, sampai akhirnya ikut dalam salah satu komunitas lari dan kenal dengan banyak pelari gunung (trail run).

Matthew juga sempat menceritakan hal serupa tentang awal mula dirinya jatuh hati pada gunung,

“Pertama kali mendaki gunung diajakin papa, tapi awalnya dari lari. Pas udah diajak papa naik gunung ya senang aja,” cerita Matthew. 

Puncak gunung pertama untuk Matthew bersama keluarganya adalah di Burangrang. Dari sanalah dia mulai senang lari di alam, dan melanjutkan lari ke beberapa gunung misalnya Tangkuban Parahu dan Papandayan. Saat liburan sekolah 2014 Matthew diajak orang tuanya untuk mendaki ke 7 gunung di sekitar Bandung. Semua dilakukan dengan sistem trail run dan tek tok. 

Rasa penasaran Matthew yang tinggi tentang gunung-gunung di Bandung membawanya ke dalam ekspedisi “7 Summits of Bandung” dengan dibantu informasi dari dunia maya dan teman-teman pelari dari Bandung Explorer. 

Alasan lain yang membuat orang tuanya semakin semangat mengajak Matthew mendaki adalah sebagai sarana untuk terapi juga. Matthew ternyata sempat didiagnosa “kelebihan energi” yang membuatnya sulit konsentrasi. Terapi yang harus dilakoninya adalah pergi ke alam terbuka, meniti pematang, tali dan berjalan di jalan yang rata. Dan mendaki gunung justru membuatnya lebih cepat selesai dari terapinya. 

Dukungan keluarga yang selalu mendampingi setiap langkah Matthew Tandioputra menjajaki puncak tertinggi negeri Indonesia

Matthew dan keluarganya di Puncak Ciremai. Foto oleh Joel

Mendaki atap negeri bagi seorang bocah 11 tahun pasti butuh banyak dukungan dari orang tua. Beruntung, Matthew ternyata mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Bahkan tak hanya ayah, ibu dan adiknya pun sering kali menemani Matthew untuk mendaki.

“Waktu masih 7 Summits of Bandung dan 7 Summits of Java beberapa gunung saya dan Dave (adiknya) ikut mendaki. Lawu dan Ceremai Adeknya pun sampe puncak, Sumbing kami cuma sampai Watu Kotak,” ungkap Claudia, ibu Matthew. 

Bisa dibilang keluarga Matthew memang keluarga pendaki. Sejak ayah dan ibunya masih kuliah di Salatiga, mereka sering mendaki gunung untuk menghilangkan kebosanan. Makanya, tak heran kalau hobi itu menurun pada Matthew dan juga Dave yang saat itu masih berusia 6 tahun.  Tapi Joel dan Claudia tak pernah memaksakan keinginan mereka pada Matt dan Dave. Semua kesenangan mendaki gunung dan ekspedisi yang dilakoni Matthew berasal dari keinginannya sendiri.

Hampir di semua gunung yang didaki Matt, keluarganya selalu mendampingi. 

“Kecuali ke Cartenz ya, karena nggak bisa dipastikan berapa kami bakal naik. Di Timika itu nggak ada apa-apa, cuma bisa di hotel. Dan ancaman malaria endemiknya juga tinggi, makanya Mama dan Dede (Dave) nggak ikut,” ujar Joel. 

Matthew sendiri punya kondisi khusus di mana dirinya lebih suka mendaki bersama ayah atau keluarga fullnya.

“Kalau lagi mendaki panjang, aku lebih seneng sama keluarga. Tapi kalau mendakinya lagi race ya enaknya sama papa aja,” ujar Matthew. 

Yang jelas Matt selalu punya semangat tinggi dalam hal mendaki gunung!

Sulitnya mengambil cuti kerja dan libur sekolah membuat Matthew dan keluarganya sering mendaki dengan sistem tek tok

Matthew dan keluarganya sering mendaki tek tok. Foto oleh Joel

Saat mendaki, keluarga ini memang jarang membawa porter, karena memang biasanya mereka mendaki dengan sistem tek tok, yaitu mendaki sampai puncak lalu langsung turun, tanpa melakukan camping. Jadi barang yang harus dibawa pun minimalis, tak perlu bawa tenda dan sebagainya.

“Kebanyakan tek tok, 7 Summits of Bandung tek tok, 7 Summits of Java juga tek tok, kecuali Semeru dan Arjuna-Welirang semalam di pondokan (pagi dari Tretes sampai Welirang sore, turun camping di pondokan, besok paginya naik Arjuno, turun langsung Tretes). Tujuh Puncak Nusantara, Kerinci & Latimojong di tek-tok juga,” terang Joel. 

Selain mendaki tek-tok Matthew juga pernah mendaki dengan menyewa porter, yaitu saat mendaki ke Gunung Rinjani. Meskipun demikian, ini tak menjadikan Matt seorang pendaki cilik yang manja. Karena selagi dirinya masih bisa berjalan sendiri, dia akan melakukannya sendiri.

Terbiasa mendaki dengan sistem tek tok juga menjadikan Matthew punya semangat dan stamina yang luar biasa. 

Pendakian yang penuh cerita dan perjuangan

Selalu ada perjuangan yang tak mudah di setiap pendakian. Foto oleh Joel

Bagi ibunda Matt, pendakian tersulit selama ini adalah di Gunung Rinjani. Ini tak lepas dari tragedi yang menimpa Matt, kakinya luka dan harus menjalani operasi sebanyak dua kali dalam enam bulan. Matt diduga mengalami infeksi binatang laut, karena sebelum mendaki ke Rinjani memang sempat mampir ke pantai.

Meski dengan kondisi kaki luka parah, Matt tetap bersemangat untuk menyelesaikan pendakiannya. Meski saat pulang ia harus digendong. 

“Matt itu anaknya punya semangat tinggi, biasanya kalau dia masih bisa jalan sendiri dia nggak mau digendong. Tapi untuk kasus Rinjani, sepertinya Matt sudah nggak kuat,” ujar Claudia. 

Hingga kinipun tulang kaki Matt di bagian jempol agak bengkok akibat kejadian tersebut. Namun Matt tak pernah menyerah untuk mendaki,

“Kakinya sekarang sudah nggak sakit. Walaupun pernah sakit, tapi nggak kapok mendaki,” tambah Matt.

Beda dengan ibunya, Matt mengaku bahwa pendakian terberat baginya adalah di Cartenz. Ini tak lepas dari cuaca ekstrim dan juga medan pendakian yang terjal. Matt bercerita,

“Paling berat itu ya Cartenz. Karena jalurnya susah, terus dingin karena ada es dan saljunya.” 

Matthew saat di Puncak Cartenz. Foto oleh Joel

Jangankan untuk Matt yang masih anak-anak, bagi pendaki dewasa pun Cartenz bukanlah gunung yang mudah untuk didaki. Butuh usaha dan perjuangan ekstra untuk bisa sampai di puncaknya. Matt harus menyeberang seutas tali dalam cuaca ekstrem sebelum tiba di puncak, Maka wajar kalau ini adalah pendakian terberat baginya.

Matthew sendiri merupakan salah satu pendaki termuda yang telah menggapai puncak Cartenz. Tentunya ini sebuah prestasi yang membanggakan, untuk Matt dan juga keluarganya. 

Sosok Matthew di mata “mereka”

Sosok Matthew di mata mereka. Foto dari instagram Matthew

Matthew adalah anak yang punya energi luar biasa. Bagi orang-orang di sekitar Matthew, dia punya banyak semangat positif dalam dirinya. 

Anggi Frisca (33), sutradara yang mengajak Matt dalam ekspedisi Aksa 7 dalam proses pembuatan film dokumenter Negeri Dongeng punya kesan tersendiri tentang Matt. Saat itu Matt bersama Anggi mendaki bersama di Gunung Semeru. 

“Matthew itu anak yang penuh impian. Dia punya segudang pertanyaan dalam kepalanya. Dengan dukungan orang tuanya, Matt bisa menyelesaikan program pendakiannya dalam waktu relatif singkat,” ujar Anggi Frisca. 

Bagi ayahnya yang selalu menemani pendakian, Matt adalah anak yang kuat dan tak banyak air mata. Dalam kondisi apapun dia tetap bersemangat dan punya energi luar biasa. Ia pun bangga atas apa yang telah dicapai Matt. 

Bahkan menurut Joel, semangat Matthew pun mendapat apresiasi luar biasa dari Ardesir Yaftebi, world 7 summiter yang menemani Matt ke Carstenz.

“Kata Ardeshir Yafteb, Matt itu nggak ada air mata, nggak ada keluhan. Itu yang saya lihat juga di hampir semua gunung, kecuali Rinjani,” tambah Joel. 

Sedangkan bagi sang ibu, Matt merupakan seorang anak yang membanggakan orang tuanya dan juga punya semangat luar biasa. Hanya saja Matt memang sedikit bicara untuk membagikan cerita tentang pengalamannya mendaki.

Tetap berpikiran positif menanggapi pencibir 


Nama Matthew memang langsung naik saat kabar dirinya berhasil mencapai puncak Cartenz tersebar di media sosial. Claudia pun mengaku bahwa setelah pendakian tersebut terasa sekali pro kontra di sosial media. Tapi Joel dan Claudia menanggapinya dengan bijaksana. 

Meski tak sedikit yang mencibir karena dianggap mendaki hanya karena punya uang, Claudia berpikiran positif menanggapinya. 

“Semua perlu usaha, dengan banyak uang pun, kalau tanpa usaha dan semangat tidak akan berhasil. Kami sebagai orangtua hanya mendukung. Anak memilih jalannya, selagi itu baik dan tidak merugikan orang lain ya kita dukung. Kita beri bekal dan carikan sponsor tentunya. Makanya di setiap pendakian, Matt selalu didampingi ayahnya, bukan berarti kita lepas sendiri,” cerita Claudia.

Seluruh pendakian yang dilakukan Matthew dan keluarganya hanya mendapat sedikit sekali sponsor, kebanyakan dari tempat ayah Matt bekerja. Bahkan menurut Joel, mereka harus menjual mobil yang baru lunas 2016 lalu untuk biaya operasi Matt dan juga untuk pendakian. Jadi semua pencapaian Matthew dan keluarganya tak melulu mengandalkan sponsor yang tak seberapa. 

Sama seperti Claudia, Joel pun menanggapi dengan positif setiap cibiran yang datang pada mereka,

“Kami nggak bisa membuat semua orang suka dengan apa yang sudah kami capai. Apa yang kami capai dan terpampang di media itu semua bonus, utamanya kami mendapatkan nilai-nilai keluarga yang mungkin tak bisa dirasakan orang lain,” ujar Joel.

Dari awal mendaki gunung, Joel memang selalu berusaha mendaki bersama keluarganya. Meskipun nanti Claudia dan Dave menunggu di desa terakhir dan tak ikut ke puncak. Setelahnya, biasanya mereka akan mampir ke tempat wisata  di sekitaran area pendakian. Misalnya ke daerah wisata Batu (Malang) waktu ke Semeru, main ke Toraja waktu ke Latimojong, juga ke Sawai dan Pantai Ora waktu ke Binaiya.

Bukan tentang seberapa banyak uangmu, tapi seberapa kuat tekadmu. Karena sebanyak apapun uangmu jika tak ada tekad di hatimu, maka puncak-puncak itu hanyalah bagian dari mimpi.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Prihatin Sampah, Pemilik Tur Operator Lakukan Aksi Bersih Sampah di Puncak Carstensz

Fakta di Balik Mahalnya Pendakian Cartenz

Khansa Syahlaa, Gadis 11 Tahun yang Sukses Wujudkan Mimpi Seven Summits!

9 Gaya Anak Selebriti Saat Liburan Ini Bikin Gemas!

Kisah-kisah Pendaki Cilik Indonesia yang Bisa Bikin Kamu Iri

Pendakian Puncak Cartenz, Saat Warga Lokal Terpinggirkan

FALLBACK
The END