Sidebar

5 Kuliner yang Wajib Dicoba Setelah Turun dari Gunung Prau

Setelah selesai turun Gunung Prau menu makanan apa yang ingin kamu coba? Mie instan di basecamp? Rugi! Lebih baik coba makanan ini;

SHARE :

Ditulis Oleh: Echi

“Sampai basecamp hanya makan mie instant?”

Pendakian itu harusnya menyenangkan, bukannya menyengsarakan. Beratnya beban ransel dan jalur pendakian Gunung Prau yang cukup menguras tenaga harus dibayar dengan kenikmatan makanan yang tiada duanya. Sangat disayangkan jika hanya makan mie instant di basecamp Gunung Prau setelah lelah mendaki.

Dari sekian banyak pilihan menu makanan dan minuman, kami punya 5 rekomendasi kuliner khas Dieng, mengganti energimu yang terbuang dari pendakian Gunung Prau. 

Baca juga: Konon di Gunung Prau sering terdengar suara lirih, suara apakah itu? 

1. Istirahatkan tubuhmu sambil menyantap mie ongklok di Warung Api Selera Raja 

Warung Api Selera Raja. Foto dari sini

Pendakian yang menguras banyak energi membutuhkan asupan makanan untuk me-recharge energi yang hilang. Sepertinya, mie ongklok jadi kuliner yang paling banyak dicari para pendaki setelah turun Gunung Prau. 

Mie Ongklok merupakan olahan mie yang direbus lalu diracik dalam mangkuk yang ditambah dengan potongan kol, daun kucai, serta kuah kental berkanji. Mie Ongklok biasanya disajikan dengan sate sapi dan tempe kemul khas Wonosobo. 

Menemukan warung mie ongklok di Dieng pun mudah. Saat kamu keluar dari basecamp pendakian Gunung Prau, di sepanjang jalan keluar menuju pusat kota Wonosobo terdapat warung-warung penjual mie ongklok. Tapi, warung Api Selera Raja yang berada di sekitar area kompleks Candi Arjuna bisa jadi pilihan. Tempatnya yang luas sangat nyaman untuk menyantap semangkuk mie ongklok. Selain itu, rumah makan ini jadi tempat yang nyaman untuk sekedar menyelonjorkan kaki setelah lelah mendaki.

2. Tempe kemul 

Mie kemul kuning khas Dieng. Foto dari sini

Setelah kamu selesai melakukan pendakian, tempe kemul bisa jadi penunda lapar sementara sebelum kamu menyantap satu porsi mie ongklok. Camilan ringan namun juga mengenyangkan ini berbahan dasar tempe yang dibalut dengan campuran tepung berbumbu dan kucai, kemudian di goreng. Biasanya, tempe kemul banyak tersedia di warung-warung mie ongklok. 

Nama tempe kemul sendiri konon diberikan karena dulunya kawasan Dieng sering tertutup kabut. Suhu udara yang sangat dingin membuat para warganya sering menggunakan kemul alias selimut. Maka dibuatlah makanan berupa tempe kemul ini, sebagai ciri khas masyarakat Dieng. 

Baca juga: Rekomendasi warung mie ongklok di Dieng yang bisa kamu coba setelah mendaki Gunung Prau

3. Sate sapi di warung mie ongklok 

Sate sapi teman makan mie ongklok yang terbaik. Foto dari Wike Sulistiarmi / Phinemo

Yang tidak boleh dilewatkan, menyantap sate sapi sebagai teman makan mie ongklok. Kandungan protein, zat besi, dan lemak yang terdapat pada daging sapi menjadi sumber energi terbaik. Satu mangkuk mie ongklok dan sate sapi rasanya sudah cukup untuk menggantikan energimu yang hilang setelah melakukan pendakian. 

4. Kembalikan stamina tubuhmu dengan Purwaceng (pimpinella pruatjan)

Purwaceng untuk hangatkan badan. Sumber foto

Banyak orang yang mengenal purwaceng sebagai minuman herbal peningkat vitalitas pria semata. Padahal, minuman khas Dieng ini punya khasiat yang lebih dari itu. Purwaceng bermanfaat untuk menghangatkan tubuh dan mengambilkan stamina yang hilang. Kamu, para pendaki wanita sebenarnya pun bisa mencicipi purwaceng.

Untuk wanita yang ingin mencoba minum purwaceng, cobalah purwaceng dalam bentuk serbuk dan biasanya dicampur dengan kopi atau susu. Setelah meminumnya, tubuhmu akan terasa lebih hangat dan segar. 

5. Manisan carica sebagai penunda lapar dan dahaga 

Manisan carica. Foto dari sini

Kalau kamu mencari minuman yang menyegarkan, satu gelas manisan carica Dieng bisa menghilangkan dahagamu. Manisan carica terbuat dari buah carica, buah khas Dieng yang masih satu rumpun dengan pepaya ini memiliki tekstur yang kenyal. 

Manisan carica banyak ditemukan di warung-warung di Dieng. Telitilah dalam memilih. Manisan carica yang kurang baik memiliki larutan yang gelap atau keruh. Hal ini dikarenakan proses filtrasi pada sari biji buah carica kurang maksimal. Warna larutan yang terlalu terang seperti kuning atau oranye yang terlalu mencolok juga menjadi indikasi bahwa manisan tersebut menggunakan terlalu banyak pewarna. 

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Ritual Potong Rambut Gimbal Festival Dieng 2020 Digelar Virtual

Kenapa Dieng Bersalju Setiap Tahun? Fenomena Langka di Negeri Tropis

Candi Terbesar di Indonesia Pernah Runtuh dan Terbengkalai, Kok Bisa?

Tips Berwisata ke Dieng, Panduan Lengkap Traveling di Titik Tertinggi Jawa Tengah

Backpacker ke Dieng dengan Motor, Berikut Tipsnya

Purwaceng Dieng, Viagra of Java yang Melegenda

FALLBACK
The END