Sidebar

Kenapa Dieng Bersalju Setiap Tahun? Fenomena Langka di Negeri Tropis

Kenapa Dieng selalu bersalju saat kemarau? Penyebabnya adalah aliran massa udara dingin dan kering dari Australia yang dikenal dengan aliran monsun dingin

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Dataran Tinggi Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah yang masuk dalam dua kabupaten, yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Lokasinya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Ketinggian rata-rata Dataran Tinggi Dieng adalah 2.000 mdpl dengan suhu berkisar antara 12.-20 derajat Celcius di siang hari, dan 6-10 derajat Celcius di malam hari.

Beberapa waktu belakangan, Dataran Tinggi Dieng kembali menjadi sebuah perbincangan hangat di sejumlah media setelah diliputi oleh embun beku. Bukan kali pertama, kejadian embun beku yang menyerupai salju ini bisa dibilang fenomena rutin setiap tahun saat musim kemarau tiba. Fenomena embun beku selalu berhasil menjadi daya tarik wisatawan. Namun karena tahun ini dunia dilanda pandemi Covid-19, Dieng sepi oleh pengunjung.

(twitter/jarr0820)

Embun Es Bukan Salju?

Sebenarnya butir-butiran es di Dataran Tinggi Dieng Bukanlah salju, tapi embun es atau disebut juga frost. Embun es jauh berbeda dengan salju yang turun di negeri beriklim subtropis. Perbedaan es dan salju terdapat pada proses air membeku menjadi bentuk padat. Butir salju terbentuk dari uap air yang membeku oleh angin dingin di musim dingin, sedangkan embun es berasal dari embun yang membeku akibat suhu dingin.

Fenomena embun es biasanya terjadi pada awal musim kemarau setelah musim hujan berakhir dan suhu udara berada pada titik yang rendah, yaitu dibawah nol derajat Celcius. Bahkan proses pembekuan embun pun dapat dilihat langsung oleh masyarakat lokal. Beberapa hari lalu, suhu udara mencapai -3 derajat Celcius. Suhu saat itu sangat dingin, bahkan sampai membuat badan menjadi bergetar tidak tenang.

(twitter/jarr0820)

Kenapa Dieng Bersalju?

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R. Parabowo, di tahun 2019 lalu pernah menjelaskan terkait fenomena ini. Menurut Mulyono, embun es di Dataran Tinggi Dieng merupakan imbas dari aliran massa udara dingin dan kering dari Australia yang dikenal dengan aliran monsun dingin. Wilayah yang dilewati aliran angin ini adalah bagian selatan Indonesia, yaitu Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.

Kondisi udara akan cenderung lebih dingin saat malam hari, terutama di daerah-daerah dataran tinggi atau pegunungan. Ini merupakan fenomena normal yang memang akan secara rutin terjadi ketika memasuki musim kemarau. Saat kemarau, udara akan sangat sedikit tertutup oleh awan dan saat siang permukaan tanah mendapat radiasi panas yang cukup banyak. Akibatnya, akan sangat panas di siang hari dan dingin di malam hari.

Ketika malam hari, energi panas yang diberikan oleh matahari kemudian akan dilepaskan ke atmosfer. Inilah yang membuat suhu udara menjadi dingin. Sebenarnya fenomena embun es tidak hanya terjadi di Dataran Tinggi Dieng saja, melainkan juga di sekitar kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur, Frans Sales Lega di NTT, dan Tretes di Pasuruan. Fenomena ini diprediksi akan berlangsung hingga September nanti.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

5 Hotel Terbaik Dunia yang Ada di Indonesia, Langganan Artis Holywood

Amanwana Resort, Glamping Super Mewah di Pulau Terpencil Sumbawa

Ritual Potong Rambut Gimbal Festival Dieng 2020 Digelar Virtual

Destinasi Wisata Kopi Segera Hadir di Pulau Flores, Siap?

6 Pantai untuk Surfing Dekat Jakarta, Alternatif Tujuan Liburan Akhir Pekan

Apel Pantai, Awas di Pantai Ada Pohon Paling Mematikan di Dunia!

FALLBACK
The END