Bisnis yang Untung Besar Saat Wabah Covid-19, Nasib Industri Wisata?

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan di ambang krisis yang akan segera melanda karena Covid-19, terdapat sektor bisnis yang meraup untung besar.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Pandemi Virus Corona (Covid-19) yang mewabah sejak akhir 2019 lalu telah membuat seluruh lini kehidupan di dunia jungkir-balik. Hampir seluruh negara di dunia terjangkit wabah Covid-19. Hingga hari ini (21/4) tercatat 2.472.259 orang terinfeksi Covid-19, 169.986 diantaranya dinyatakan telah meninggal dunia. Meskipun tidak secara langsung, Covid-19 turut memukul sektor bisnis dan ekonomi hingga berada di ambang krisis.

Sesaat ketika, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus infkesi Covid-19 pada Senin (2/3) lalu, Indeks Saham Harga Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia bereaksi, melemah 91,46 poin (1.68%) ke posisi 5.361,25. Seiring bertambahnya jumlah pasien Covid-19, sektor ekonomi pun perlahan turut tergerus dengan imbuan pemerintah untuk menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home).

Sektor lainnya yang tidak memungkinkan menerapkan kebijakan bekerja dari rumah dihimbau untuk mengurangi jam kerja atau karyawan oleh pemerintah, demi menekan penyebaran Covid-19. Alhasil, dampaknya pun turut membuat produksi sektor bisnis terganggu, pemasukannya juga ikut menurun. Setiap sektor bisnis memang memiliki ketahanan yang berbeda-beda, namun jika kondisi ini terus berlanjut dipastikan tidak akan ada lagi yang mampu bertahan.

Sektor Bisnis yang Untung Besar

Siapa sangka, di ambang krisis yang akan segera melanda, terdapat sektor bisnis yang meraup untung besar. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR menyebut beberapa sektor bisnis yang berpotensi meraup untung besar adalah tekstil dan produksi tekstil; kimia, farmasi, dan alat kesehatan; makanan dan minuman; elektronik; jasa telekomunikasi; dan jasa logistik.

Sektor tekstil dan produk tekstil berpotensi dapat meraih untung besar melalui diversifikasi produk seperti Alat Pelindung Diri (APD) dan masker. Sektor kimia, farmasi, dan alat kesehatan menyokong kebutuhan primer penanganan Covid-19. Industri makanan dan minuman adalah kebutuhan primer yang pasti diperlukan oleh masyarakat sejalan dengan tumbuhnya sektor logistik karena pemberlakuan physical distancing. Sedangkan sektor telekomunikasi dan elektronik menjadi andalan karena membantu selama diterapkannya kebijakan bekerja dari rumah.

Bagaimana Nasib Bisnis di Industri Pariwisata?

Bisnis di Industri Pariwisata adalah satu dari enam sektor bisnis yang diperkirakan mengalami kerugian besar selama pandemi Covid-19. Sektor tersebut adalah otomotif; keuangan; pertambangan; tansportasi darat, laut, udara; konstruksi; dan tentu saja pariwisata. Sektor pertanian dan UMKM masih dapat melakukan diversifikasi produk, meskipun permintaan terancam turun.

Masih terlalu dini untuk menghitung kerugian yang dialami Industri Pariwisata mengingat pandemi Covid-19 berlum juga memperlihatkan tanda-tanda akan mereda. Namun berdasarkan perhitungan awal dari Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI), potensi kerugian pariwisata Indonesia mencapai Rp 21 T. Jumlah ini akan terus bertambah jika pandemi Covid-19 tak segera mereda.

Okupansi hotel juga mengalami penurunan drastis sejak awal tahun lalu, sekitar 50 persen. Dampaknya sangat besar, hampir semua karyawan dirumahkan hingga kondisi dinilai mulai membaik. Jika hingga akhir April tidak kunjung ada perubahan, diprediksi akan banyak hotel yang gulung tikar karena seiring dengan masuknya bulan puasa dan lebaran 1441 H.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


REKOMENDASI

ARTIKEL KEREN PALING BARU