Pengalaman Luar Biasa Menjadi Relawan di Raja Ampat

Foto oleh Josefine Yaputri

Ini kali kedua saya mengunjungi Raja Ampat. Saya membawa sebuah misi , yaitu menjadi volunteer pengajar bahasa inggris, utamanya bagi petugas patroli laut suatu yayasan.

Berada di suatu tempat pariwisata untuk bekerja terasa begitu berbeda. Meski begitu, saya tidak lupa untuk bersenang-senang. Bahkan, saya dapat belajar untuk lebih memahami diri sendiri.

Membagi waktu selama 9 minggu antara Sorong dan Misool, saya menemukan 9 kenikmatan saat volunteering di Raja Ampat;

1. Menyantap mi instan demi menyelamatkan populasi ikan di Raja Ampat

Pantai-Tanjung-Batu

Foto oleh Josefine Yaputri

Kesenjangan kesejahteraan dan tidak meratanya pembangunan di negeri ini membuat orang-orang di Papua hidup dalam keterbatasan. Akses menuju Papua sering dianggap sulit karena memerlukan biaya yang cukup tinggi. Bagi saya, biaya yang tinggi tersebut masuk akal, mengingat harga BBM eceran di Papua bisa mencapai Rp 18.000,-/L.

Selama 9 minggu berada di tempat ini, saya menantang diri saya sendiri untuk hidup dengan segala keterbatasan yang ada.

Banyak orang yang ragu dan mempertanyakan mengapa saya mau jauh-jauh ke Papua dan bekerja, apalagi tanpa dibayar. Tapi yang jelas, saya tahu bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali.

Selama volunteering, saya berhasil mengembangkan diri saya sendiri dan meningkatkan kemampuan bertahan hidup di lingkungan yang penuh keterbatasan.

Tiap hari saya disibukkan dengan gigitan nyamuk dan agas yang membuat sekujur tubuh saya penuh luka dan bentol. Adapula hari-hari dimana perut kami hanya diisi mi instan karena kehabisan bahan lauk-pauk di pulau. Jika kamu bertanya-tanya mengapa saya tidak makan ikan, saya hanya bisa menjawab bahwa selama volunteering, saya tinggal di kawasan konservasi yang tidak memperkenankan siapapun untuk memancing.

Dengan kata lain, menyantap mie instan setiap hari sama dengan membantu ikan-ikan di Raja Ampat bertambah besar.

Ada hari-hari dimana saya hanya bisa menggunakan listrik ketika hari mulai gelap.

Di saat-saat itulah, saya menjadi lebih memahami diri saya sendiri. Saya banyak membaca dan menulis. Saya banyak mengamati kondisi sekitar sambil merenungi hari-hari yang penuh dengan keterbatasan.

Saya belajar untuk lebih banyak bersyukur selama volunteering. Hal yang terkadang terlupa saat kita hidup nyaman.

2. Berbagi ilmu dengan para murid yang begitu antusias

Mengajar bahasa Inggris terdengar mudah, namun ternyata tidak sama sekali. Murid-murid saya adalah petugas patroli laut yayasan tempat saya tinggal di Raja Ampat dimana rata-rata dari mereka sudah berkeluarga.

Saya harus meraba-raba kemampuan belajar mereka, terutama kemampuan membaca dan menulis mereka, karena tak jarang para lulusan SMA di Raja Ampat masih belum lancar membaca. Setelah mengetahui kemampuan belajar mereka, saya baru bisa mulai memberikan materi bahasa Inggris.

Saya juga sempat membuat sebuah buku panduan belajar Bahasa Inggris yang tebalnya hampir 100 halaman untuk membantu proses belajar. Murid-murid saya begitu senang saya buatkan buku tersebut. Bahkan ada seorang murid yang membaca di setiap waktu luang yang dia punya, termasuk saat dia baru bangun dan akan beranjak tidur.

Saya ingat bagaimana para murid saya, memanggil saya “Ibu Guru” dan meminta saya untuk tidak kembali ke Jakarta supaya mereka tetap bisa belajar bahasa Inggris.

Saya ingat bagaimana mereka belajar dengan begitu antusias di tepi pantai meskipun tiba-tiba hujan dan rela pindah ke dalam pos yang sempit hanya untuk belajar.

Saya tidak bisa lupa semangat dan antusiasme mereka dalam belajar, sekalipun hari sudah malam, kantuk, agas, dan nyamuk menghinggapi mereka.

Rasanya begitu menyenangkan, bisa berbagi ilmu dengan mereka yang masih ingin terus belajar, tidak peduli berapa usia mereka.

3. Bertemu anak-anak Papua yang ramah dan narsis

Saya-dan-Opin

Foto oleh Josefine Yaputri

Saya adalah pecinta anak-anak. Mata saya langsung berbinar jika melihat anak-anak kecil.

Selama 9 bulan, saya sering bertemu anak-anak Papua yang lucu. Rambut keriting, kulit hitam, dan gigi putih. Mereka terlihat sangat menggemaskan.

Saya bertemu anak kecil berusia dua tahun dan memiliki nama mirip dengan saya, yaitu Yosephine.

Saya, Josefine biasa dipanggil ‘Sefin’, bertemu  Yosephine yang biasa dipanggil ‘Opin’.

Bagi saya, anak-anak Papua adalah potret keceriaan Papua yang begitu sederhana.

4. Wisata kuliner, dari papeda sampai ulat sagu

Papeda-Pertama-Saya

Foto oleh Josefine Yaputri

Papeda pertama saya cicipi ketika berada di sebuah rumah keluarga Papua.

Papeda atau sagu kental tersebut disajikan dengan ikan kuah kuning, sayur kangkung, dan gulai daging rusa. Enak sekali! Saat menyendok papeda hangat dalam rendaman kuah kuning yang sedikit asam, kemudian menelannya, tenggorokan saya sedikit merasa geli. Kegelian itu memberi sensasi ketagihan. Saya tidak bisa berhenti menyeruput papeda dan menyantapnya bersama sayur kangkung yang gurih dan ikan yang empuk.

Saat asyik menyantap papeda, saya diberi sebuah piring cantik. Sebuah piring adat khas Papua yang terbuat dari keramik, berwarna putih, dan memiliki motif unik yang mengelilingi bagian dalamnya. Motif di piring saya berwarna kuning keemasan dengan bentuk seperti benteng, persegi setengah jadi yang menyambung naik turun—melingkari bagian dalam si piring.

Piring adat tersebut diberikan untuk menyambut saya sebagai tamu. Namun tidak semua keluarga Papua biasa memberikan piring adat untuk tamunya.

Mungkin karena ini kali kedua saya bertemu dengan Mace -sebutan untuk “ibu” di Papua-, akhirnya saya mendapat piring cantik, karena sudah dianggap cukup akrab dengannya. Selain untuk menyambut tamu, piring adat diberikan saat akan meminang seseorang.

Tidak hanya papeda, saya juga sempat menikmati kuliner ekstrim, yaitu ulat sagu.

Jujur saja, sampai sekarang, tiap kali membayangkannya, saya langsung merinding karena geli. Saya ingat bagaimana saya menghabiskan setengah jam hanya untuk mempersiapkan diri mengunyah satu ulat sagu yang dimasak balado oleh seorang teman. Luumayan enak, teksturnya agak mirip dengan sosis karena dari luar terasa garing dan dalamnya begitu kenyal.

5. Menyelam gratis bersama ribuan biota laut yang cantik

Pari-Manta-di-Misool

Foto oleh Josefine Yaputri

Setiap kali ada yang bertanya pada saya tentang Raja Ampat, saya selalu bilang bahwa tidak lengkap rasanya ke Raja Ampat kalau tidak menyelam atau diving karena tiap tahunnya, ribuan turis dari luar Indonesia jauh-jauh pergi ke Raja Ampat hanya untuk menyelam.

Sebagai volunteer di Raja Ampat, saya sangat beruntung karena bisa mendapatkan kesempatan untuk menyelam secara gratis!

Kalau turis-turis yang datang ke Raja Ampat biasa membayar sekitar 50 euro atau sekitar Rp 750.000 – Rp 800.000,-  untuk satu kali menyelam, saya tidak perlu mengeluarkan biaya sama sekali.

Selain bisa menyelam gratis, sebagai seorang penyelam yang telah bersertifikat open water, saya juga telah menambah 8 dive log ke buku catatan menyelam saya.

Selama 8 kali menyelam itulah,saya kerap bertemu dengan pari manta besar . Gerakan mereka unik seolah terbang di dalam laut. Saya juga sempat melihat Pygmy Seahorse imut yang besarnya hanya setengah buku jari tangan. Mata saya juga terus dimanjakan dengan warna-warni hard dan soft corals yang tumbuh subur.

Selain itu, sayapun kerap bersua dengan Black Tip, hiu karang yang ramah, sampai Wobbegong, hiu berjenggot yang sering bersembunyi di balik karang.

Bertemu hiu saat menyelam disini bukan hal yang mengherankan karena Raja Ampat memang dikenal sebagai shark sanctuary atau habitat berlindung dari para hiu.

6. Menonton bioskop senja hampir setiap hari

Senja-di-Sorong

Foto oleh Josefine Yaputri

Meskipun melihat senja atau sunset sering sekali membuat hati saya galau, saya tidak pernah bosan menikmatinya. Semburat warna senja yang berpadu selalu menyejukkan hati.

Ketika berada di Papua Barat, senja yang paling saya nikmati adalah senja yang saya tonton di Tembok Berlin, Sorong.

Setiap kali berada di Sorong pada masa magang volunteer, saya berusaha untuk tidak melewatkan momen menikmati senja. Mulai dari yang berwarna merah muda, jingga, biru, hingga hijau tosca, semua senja di Sorong benar-benar berhasil menghibur hati saya, terutama ketika saya rindu dengan orang-orang di rumah.

Sorong mungkin tidak semaju kota-kota di Jawa karena tidak ada bioskop, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan bioskop senja yang dia punya.

Duduk di Tembok Berlin sambil makan gorengan yang dijajakan di sepanjang jalan adalah cara terbaik untuk menikmati senja di Sorong.

7. Belajar bahasa dan logat Papua yang khas

Anak-anak-Papua-yang-Ramah-dan-Narsis

Foto oleh Josefine Yaputri

Bila kamu pernah mendengar suara orang-orang Papua yang terdengar marah-marah, ingatlah, mereka bukan sedang marah. Begitulah cara mereka berbicara.

Berada 9 minggu di Papua Barat, terutama di Sorong dan Misool, pada akhirnya membuat saya terbiasa berbicara dengan logat Papua, dengan intonasi yang sering naik di akhir kalimat.

Sebagai seorang lulusan sastra yang gemar belajar bahasa, saya senang sekali karena bisa belajar bahasa dan logat Papua secara cuma-cuma, langsung di daerah asalnya.

Saya tidak bisa lupa bagaimana orang-orang di sana memuji cara bicara saya yang sudah terdengar begitu alami seperti orang Papua pada umumnya. Jujur, saya begitu rindu berbicara dengan logat Papua. Saya rindu memanggil para bapak dengan sebutan ‘pace’ serta mendengar kata ‘ko’ yang berarti ‘kamu’.

8. Naik taksi ramai penumpang sembari menikmati musik aneka genre

Kebanyakan taksi di kota-kota Pulau Jawa adalah jenis mobil sedan dengan jumlah penumpang maksimal empat orang -dan biasanya adalah rombongan kita sendiri. Beda dengan Sorong, taksi di sini justru hadir dalam bentuk lebih besar dengan penumpang lebih banyak. Dengan kata lain, taksi di Sorong adalah angkot atau opelet.

Bila kebanyakan angkot di Pulau Jawa hadir dalam kursi yang melingkar, angkot di Sorong yang disebut taksi ini memiliki kursi-kursi yang menghadap ke depan. Di dekat kursi sopir, ada tali yang dihubungkan dengan gagang pintu belakang, sehingga sopir bisa menutup pintu dari tempat dia duduk.

Bagian terfavorit dari taksi-angkot Sorong adalah alunan musik di dalamnya. Mirip dengan taksi-angkot yang pernah saya naiki di Tomohon, Sulawesi Utara. Taksi-angkot di Sorong menyajikan beragam genre musik sesuai selera pak sopir, mulai dari hiphop, lagu rohani, hingga lagu dangdut!

9. Menonton pertandingan sepak bola di sore hari

Menonton-Sepak-Bola-di-Sorong

Foto oleh Josefine Yaputri

Walaupun saya bukan penggemar olahraga sepak bola, menonton pertandingan sepak bola di Lapangan Hockey-Sorong merupakan salah satu aktivitas yang sering saya lakukan.

Pada sore hari, sambil menunggu senja datang, saya terkadang menonton pertandingan sepak bola yang selalu dipadati penonton. Mulai dari anak kecil hingga orang tua, mereka semua ramai bersorak. Ada yang menikmati sambil makan gorengan, ada pula yang menikmati sambil mengunyah sirih pinang.

***

Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkeliling di negeri sendiri dan berusaha mengenali apa yang ada di dalamnya.

Tidak peduli ke bagian Indonesia mana kamu melangkah, kamu akan tahu bahwa setiap sudut Indonesia adalah rumah. Papua Barat, hanya satu dari sekian banyak rumah yang saya punya di Indonesia.

Dapatkan ulasan menarik tentang dan tulisan Lain dari Josefine Yaputri

Tags: , , , ,

Paket Produk Penawaran

Pajang Paket Perjalanan Anda Disini. Klik Untuk Daftar