Sidebar

3 Pembelajaran dari Kegagalan First Travel dalam Mengelola Bisnis Travel

Agar tidak bernasib sama dengan First Travel, berikut ini adalah beberapa tips mengelola bisnis tour travel pariwisata yang dapat diterapkan.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Siapa tak kenal dengan First Travel, tour operator kenamaan Indonesia yang tersandung kasus penipuan ini gagal memberangkatkan sebanyak 63.000 calon jamaah haji/umroh ke tanah suci. Dahulu, First Travel adalah salah satu tour operator terbesar di Indonesia yang malang melintang di bidang travel umroh sejak tahun 2012. Namun kini kesuksesan First Travel hanya tinggal kenangan, Direktur Utama First Travel dijatuhi hukuman 20 tahun dan seluruh asetnya disita oleh negara.

Kasus yang dialami oleh First Travel dapat menjadi pembelajaran berharga bagi para pelaku bisnis pariwisata di Indonesia, terutama tour operator agar tidak mengalami hal yang sama. Agar tidak bernasib sama dengan First Travel, berikut ini adalah beberapa tips mengelola bisnis pariwisata yang dapat diterapkan.

Para petinggi First Travel yang dihukum karena telah menggelapkan dana 63.000 calon jamaah haji/umroh (merdeka.com).

1. Memperhitungkan Promo

First Travel diketahui memberikan harga promo yang tidak diperhitungkan secara matang. Berdasarkan pengakuan dari Direktur Utama First Travel kepada Bareksa di Jakarta (24/08/2017), semua promo yang diberikan First Travel kepada calon jamaah disubsidi oleh keuangan perusahaan. Uang perusahaan terlalu banyak keluar untuk mensubsidi jamaah umroh yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang.

Sebelum berniat menerapkan promo khusus berupa potongan harga untuk mendorong penjualan, sebaiknya terlebih dahulu memeriksa kembali dan merencanakan struktur harga agar melindungi margin keuntungan. Perlu diperhatikan bahwa sebuah penjualan tanpa rencana adalah bencana. Brikut ini beberapa dasar untuk merencanakan promo dan strategi harga.

2. Menata Kembali Sistem Pengelolaan Keuangan

Salah satu kesalahan First Travel adalah tidak fokus pada bidang bisnis yang dijalaninya sejak awal, yakni bidang travel haji/umroh. First Travel diketahui memiliki sistem pengelolaan keuangan yang buruk, uang calon jamaah yang telah disetorkan disimpan dalam rekening yang bercampur dengan dana dari lini bisnis perseroan lainnya, bahkan termasuk dana keuangan pribadi sang pemiliknya.

Jangan sekali-kali mencampur uang perusahaan dengan uang pribadi agar tidak bernasib sama dengan First Travel. Lakukan pengelolaan keuangan perusahaan dengan menyimpan hasil penjualan di rekening khusus tersendiri. Sangat dianjurkan untuk menyimpan keuntungan di rekening dengan bunga tinggi untuk beberapa waktu sambil melakukan evaluasi.

3. Jangan Mudah Memberikan Bonus

Sistem kepesertaan di First Travel sungguh sangat menggiurkan, dimana setiap agen akan mendapatkan bonus dari perseroan jika dapat mengajak perserta lain untuk berangkat haji/umroh melalui First Travel. Bonus yang diberikan berupa potongan harga yang bersumber dari dana keuangan internal perusahaan.

Mendorong penjualan memang penting, namun semua itu perlu strategi dengan perencanaan matang agar tidak berubah menjadi bumerang yang justru menghancurkan bisnis. Lakukan perencanaan dengan matang agar bisnis yang dijalankan tetap menghasilkan keuntungan, bukan sebaliknya.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Bisnis yang Untung Besar Saat Wabah Covid-19, Nasib Industri Wisata?

Dampak Wabah Covid-19 pada Bisnis Travel Agen, Jatuh Tertimpa Tangga

4 Kriteria Pariwisata Berkelanjutan yang Harus Diterapkan Tour Operator

5 Tren Produk Wisata yang Diprediksi Naik Berdasarkan Data Pencarian Google 2019

3 Target Pasar Potensial Open Trip, Tour Agent Harus Tahu!

Maksimalkan Link Bio Instagram untuk Meningkatkan Penjualan

FALLBACK
The END