3 Kota Termahal di Dunia Selama Pandemi Covid-19, Mana Saja?

Economist Interlligence Unit (EIU) telah menetapkan tiga kota sebagai yang termahal di dunia selama pandemi Covid-19 pada tahun 2020.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Economist Interlligence Unit (EIU) telah menetapkan tiga kota sebagai yang termahal di dunia selama pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Laporan EIU menilai kota termahal berdasarkan berbagai faktor, seperti harga sandang, makanan, transportasi, dan lainnya. Perubahan didorong oleh biaya hidup, dan fluktuasi nilai mata uang terhadap Dollar AS di sejumlah negara.

Pandemi Covid-19 juga mempengaruhi kategori tertentu di beberapa kota. Misalnya biaya produk permintaan tinggi seperti komputer yang melonjak tinggi di beberapa negara. Sedangkan biaya produk permintaan rendah seperti pakaian mengalami penurunan drastis. EUI memperkirakan bahwa tren ini akan terus berlanjut hingga tahun 2021, selama pandemi Covid-19.

Adapun kota termahal di dunia tahun 2020 selama pandemi Covid-19 yaitu Paris, Zurich, dan Hong Kong. Paris dan Zurich berhasil menggeser Osaka dan Singapura yang memegang predikat tersebut pada 2019 bersama-sama dengan Hong Kong. Singapura saat ini duduk di peringkat keempat, Osaka dan Tel Aviv di urutan kelima. Jenewa dan New York urutan nomor tujuh. Kopenhagen dan Loas Angeles di peringkat sembilan.

(en.parisinfo.com)

Secara keseluruhan, peringkat 10 teratas sebagai kota termahal di dunia terbagi dalam benua Eropa, Asia, Amerika, dan Timur Tengah. Kota Paris di Prancis menjadi salah satu tempat tinggal termahal, meski harga alkohol, transportasi, dan tembakau lebih murah dari kota-kota lainnya di Eropa. Kopenhagen masuk daftar karena mahalnya biaya transportasi, rekreasi.

Paris dan Zurich meraih peringkat teratas karena dipengaruhi mata uang Euro dan Franc Swiss yang sedang naik daun sepanjang pandemi ini. Aneh, Euro terus naik padahal perekonomian dunia sedang terpuruk. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik. Fluktuasi harga mata uang terjadi selama intervensi Bank Sentral, ketidakstabilan politik, perubahan suku bunga, angka ekonomi, dan transaksi lot.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU