Upacara Ujar-ujar, Ritual Persembahan Suku Tengger, Bukit B-29

Suku Tengger di Bukit B-29 Jawa Timur memiliki ritual upacara yang unik, upacara ujar-ujar.

SHARE :

Ditulis Oleh: Umu Umaedah

Foto oleh Bromo-tour

Pukul 4 pagi, saya terbangun saking dinginnya suhu disini. Saya keluar dari tenda. Daripada terus meringkuk dalam tenda dan kedinginan, lebih baik bergerak untuk menghangatkan diri.

Peralatan memasak kusiapkan untuk merebus air. Secangkir wedang jahe adalah pilihan tepat untuk sambut pagi.

Mendengar bunyi gaduh, satu persatu teman-teman saya ikut bermain api. Fajar pun sebentar lagi menampakkan jingganya. Untuk alasan apa lagi mereka beranjak dari tidur kalau bukan untuk menikmati puncak B-29, Lumajang. Bonusnya, puncak Bromo dan Semeru bisa dinikmati juga dari sini.

Puas memencet shutter kamera, saya tertarik untuk turun bukit mendekati sekumpulan warga Tengger Argosari.

Secara bergantian, orang-orang meletakkan sesaji ketiga buah tugu kecil berbalut kain putih, tempat pemujaan orang Hindu. Di sebelah tugu, seekor anak kambing berbulu putih kembang kempis setelah disembelih.

Tempat ini penuh sesak tak bersekat. Warga Tengger mulai dari anak kecil hingga dewasa tumpah menjadi satu di sini. Kamera kembali saya bidik.

‘Dari mana, Mbak?’ laki-laki berbalut sarung, bertopi, dan bersepatu boot menyapa saya yang masih tengah asik mengamati jalannya upacara.

‘Dari Banjarnegara, Pak.’

‘Banjarnegara itu mana?’

Saya sudah menduga pertanyaan seperti ini pasti akan selalu ada ketika saya menyebut kota asal saya ini.

‘Jawa Tengah Pak. Tiga Jam dari Jogja,’ Jogja menjadi patokan saya untuk menunjukkan arah. ‘Maaf Pak, sebenarnya ini upacara dalam rangka apa?’

‘Namanya upacara Ujar-ujar. Warga Tengger biasa melakukan upacara ini sebagai bentuk rasa syukur mereka karena hajat tertentu.’

‘Apa dengan kehadiran pendatang tidak mengganggu jalannya aktivitas upacara ya, Pak? Saya rasa ini upacara yang sakral.’

‘Selama mereka tidak berbuat onar yang mengganggu kami, tidak masalah. Justru kami bisa memperkenalkan adat kami kepada pendatang yang memang belum tahu. Karena berkat mereka juga, perekonomian desa kami semakin berputar.’

Lelaki berbalut sarung di samping saya sesekali menghembuskan asap rokok.

‘Dan di upacara ini harus ada sesuatu yang dikorbankan.’ Ia melanjutkannya singkat.

‘Anak kambing itu salah satu contohnya Pak?’

‘Iya. Saya suka kasihan sebenarnya. Masih kecil sudah dijadikan korban.’ Ia tertawa kecil. ‘Rombongannya mana, Mbak?’

‘Mereka ada di sini juga pak, tapi saya terlalu asyik mengambil gambar dan sekarang, entahlah malah terbpisah.’

‘Kamu itu mirip dengan keponakan saya.’

Aku tertawa. ‘Wah kalau dihitung-hitung kembaran saya banyak juga berarti, soalnya orang-orang yang saya temui di jalan sering menyebut saya mirip dengan keluarga mereka, Pak,’ saya tertawa.

Lelaki berbalut sarung yang tidak kuketahui namanya ikut terkekeh.

‘Pak, saya pamit dulu. Hari semakin siang, saya harus segera berkemas.’

‘Iya, Mbak. Terima kasih sudah datang ke sini.Jangan kapok kesini, kami sangat senang kalau ada orang luar datang, jadi ramai. Hati-hati.’

Saya undur diri, segera mencari teman-teman di tengah hiruk pikuk upacara warga Tengger ini.

Warga Tengger di bukit B-29 ternyata lebih ramah dari yang saya pikir sebelumnya. Mereka tidak segan-segan tersenyum ataupun membuka pembicaraan.  Dengan penampilannya berbalut sarung, bertopi dan bersepatu boot, wisatawan akan dengan mudah mengenali warga  asli Tengger di kawasan  Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini.

Sebelum upacara berakhir, saya dan teman-teman segera mengundurkan diri dan berkemas pulang.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU