Sidebar

Menggantungkan Cita-cita di Ujung layar Perahu Sandeq, Peninggalan Budaya Suku Mandar

Menggantungkan Cita-cita di Ujung layar Perahu Sandeq, Peninggalan Budaya Suku Mandar

Setiap orang punya cita-cita, menjajal menjadi solo backpacker menyadarkanku betapa penting arti dari cita-cita dan identitas

SHARE :

Ditulis Oleh: Prameswari Mahendrati

Aroma garam yang dibawa oleh angin laut begitu tajam menusuk hidung saya. Rasa lengket di kulit yang semakin coklat sudah semakin terasa. Lelah berjalan, saya sandarkan tubuh sejenak di sebuah perahu kayu yang tidak terlalu kelihatan kokoh dan besar. Kulepaskan kacamataku dan sesekali memotret keadaan sekitar.

Ini kali pertamanya saya menjajal sebagai seorang solo backpacker. Rasanya? Lebih sepi dari yang dipikirkan, tidak ada teman bersenda gurau, hanya berbincang dengan orang baru yang hanya sepintas lalu pergi.

“Riri, sudah kubilang, kau tak boleh duduk di sini, ini kesayanganku”, lamunanku buyar ketika Tobo menegurku sambil menepuk bahuku. Ia adalah teman baruku selama di Mandar, saya lebih memilih tinggal di salah satu rumah warga dibandingkan harus mencari penginapan. Selain untuk menghemat, tujuan utamanya agar saya bisa lebih dekat berbaur dengan warga di Suku Mandar.

“Dari pada kau di sini, ayo kita jalan-jalan ke sana, kita lihat ada paman yang akan memilih kayu” ucapnya sembari menarik tanganku. Sambil berjalan menjauhi pantai, Tobo menceritakan tentang mimpinya untuk bisa menjadi seorang passandeq nasional, sehingga ia bisa pergi ke beberapa negara untuk menampilkan kebolehannya sebagai passandeq, sebutan untuk awak perahu sandeq.

Saya pernah menyaksikan acara televisi yang menampilkan kebolehan para passandeq ketika Hut Kemerdekaan RI. Olah raga ini memang sudah begitu tersohor. Pantas saja ia begitu getol berlatih fisik dan merawat sandeq peninggalan almarhum ayahnya yang juga seorang passandeq.

“Kau tau Ri, kalau aku bisa menjadi pemenang di perlombaan ini, aku bisa mengangkat derajat keluargaku, aku bisa mewujudkan cita-cita ayahku yang belum tercapai, dan tentunya aku akan terkenal sebagai pria jantan”. Kata-katanya seketika membuatku terdiam, ia memiliki keinginan begitu gigih untuk meraih mimpinya.

Aku jadi teringat ucapan kindo, sebutan untuk ibu. Beliau mengatakan bahwa perahu sandeq adalah kebanggaan suku Mandar, alat transportasi ini tidak hanya difungsikan untuk mencari ikan dan mengantarkan dagangan. Perahu ini adalah warisan nenek moyang yang mengandung nilai-nilai adat.

Tak terasa setelah kami berbincang akhirnya kami sampai di sebuah hutan yang dekat dengan pantai, rupanya di sini suasana sudah sangat ramai. Ada seorang lelaki separuh baya yang tampak berdoa terhadap salah satu pohon.

“Riri, kau harus perhatikan, itu adalah bagian penting dari ritual sebelum membuat sandeq”, timpanya sambil menunjuk bapak-bapak tersebut. Sang bapak tampak meletakkan makanan lalu berdoa dan menyentuh pohon.

Tak tahan dengan rasa penasaran, akhirnya saya bertanya pada Tobo, ia menjelaskan cukup singkat dan jelas. Rupanya ini adalah ritual dengan pilihan hari baik untuk meminta izin pemotongan pohon liar agar ketika pembuatan sandeq terhindar dari hal-hal buruk dan aura jahat. Sedangkan makanan sendiri rupanya untuk persembahan bagi penunggu pohon sebagai wujud dari penghormatan.

Dari sini, saya sadar begitu berharganya sandeq bagi warga Suku Mandar, sebongkah kayu dirangkai menjadi sebuah kerangka, sehingga dapat membentuk sebuah identitas budaya dan status sosial seseorang.

“Nenek Moyangku Seorang Pelaut…” lirik lagu yang benar-benar menggambarkan warga Suku Mandar. Ketangguhan pemuda untuk berlomba-lomba mencapai impian mendai seorang passandeq, junjungan nilai-nilai budaya yang tak ditinggalkan warga dalam hingga kini, keindahan dan kecepatan sandeq yang telah tersohor di nusantara, meyakinkan saya bahwa inilah kearifan budaya lokal yang sesungguhnya, gambaran maritim dari Indonesia.

Memandang Tobo dan sandeq-sandeq yang berbaris di pinggir pantai, rasa rindu mungkin mungkin akan membanjiri ketika saya tiba di Semarang. Mungkin suatu saat, saya akan mengajak anakku kelak untuk berkunjung kemari dan menyaksikan seorang pria gagah menjadi pemimpin awak sandeq, sehingga ia akan tahu betapa indahnya negeriku, negeri kita.

Baca juga artikel : 7 Cara Sakti Untuk Menjadi Seorang Solo Traveler

SHARE :


Rekomendasi

Tradisi Berburu Paus di Lamalera, Antara Budaya atau Kelestarian Alam
Montage Palmetto Bluff, Tempat Justin Bieber dan Hailey Baldwin Menikah
5 Tempat untuk Berenang dan Berfoto Bersama Hiu Paus di Indonesia
The St Regis Bali Resort, Hotel Megah Tempat Raja Salman Menginap
Danau Kaco di Gunung Kerinci, Cerita Tragis dan Misteri yang Melegenda
Musim Sakura di Jepang Tahun 2020 Dimulai Pada Bulan Maret
FALLBACK
The END