Pengalaman Wisata ke Suku Baduy Dalam, Kamu Harus Coba

libregraphics.asia

Perjalanan saya kali ini bisa dibilang berbeda dari perjalanan-perjalanan saya yang sebelumnya. Perjalanan saya sebelumnya cenderung berkutat pada tempat-tempat wisata, ah itu sudah biasa karena siapapun bisa datang ke sana. Kali ini, saya ingin menjajal sebuah pengalaman yang lebih berbeda. Berkunjung ke berbagai tempat wisata memang tidak ada salahnya, menikmati berbagai keindahan, panorama, wahana, dan kuliner yang telah dikelola dengan apiknya.

Apakah kamu pernah berpikir untuk berpetualang ke sebuah tempat, tempat yang tidak pernah mengalami filtrasi budaya luar, tempat yang masih benar-benar perawan dari kehidupan glamor perkotaan. Itulah yang sedang terbesit dipikiran saya saat ini.

Badan terasa menggigil begitu saya mencelupkan sebagian badan saya di sebuah sungai kampung Cibeo. Peralatan mandi yang saya bawa dari rumah sepertinya mubazir, saya lupa kalau saya akan ke Baduy Dalam, peralatan itu semua tidak dibutuhkan di sini. Hanya menggunakan batu dan aliran air sungai, begitulah mereka menyebutnya mandi, jika kamu berkunjung ke Baduy Luar mungkin peralatan mandi itu masih berfungsi dengan baik, tapi tidak di Baduy Dalam, itu pengalaman anti mainstream pertama saya di sini.

Layaknya seorang tamu, pasti kamu berpikir kalau tuan rumah akan menyambut dan menemui tamu tersebut secara langsung. Paling tidak saya pernah mendengarkan pengalaman seorang teman yang berkunjung ke sebuah suku di pedalaman pulau Kalimantan Tengah, masyarakat biasa menyebutnya Suku Dayak. Di sana ia disambut dengan tradisi potong pantan, teman saya pun diminta untuk memotong batang bambu hijau yang dipasang pada bagian pintu gerbang menuju desa, musik tradisional dan nyanyian menggunakan bahasa Sangian mengiringi jalannya upacara.

Berbeda dengan pengalaman teman saya di suku Dayak, sudah sehari saya tinggal di sini dan diajak berkeliling oleh Pak Samin, pendamping lokal selama di kampung Cibeo, tetapi saya belum pernah melihat batang hidung ketua adat, suku Baduy Dalam menyebutnya puun. Ternyata menurut Pak Samin, tidak sembarang orang bisa bertemu dengan puun. Saya pikir saya akan disambut oleh seorang puun seperti layaknya pengalaman teman saya di suku Dayak, ternyata itu hanya spekulasi saya belaka. Bahkan kalau ingin bertemu dengan puun sekalipun harus berjarak sekitar seratus meter, benar-benar ketua adat yang exclusive.

Semakin lama daya berada di sini, jiwa travelling saya semakin tertantang, coba kamu bayangkan, tidak ada gadged, tidak ada alas kaki, tidak boleh menebang pohon, tidak boleh membawa alat musik, tidak boleh membawa minuman yang memabukan. Hampir semua aturan berupa kalimat larangan.

Suku Baduy Dalam adalah suku yang sangat tertutup, tetapi bukan berarti mereka tidak mengetahui informasi dari dunia luar, suatu ketika saya berbincang dengan Pak Samin tentang bencana lumpur Lapindo, salah satu penduduk bernama Ambu Suraja mengatakan bahwa “sampean bumi haturan tatu” (kaki bumi sedang terluka). Begitulah pemikiran masyarakat suku Baduy Dalam, masih berpatokan pada alam. Benar-benar masyarakat yang jauh dari kontaminasi dunia luar dan modernisasi.

Modernisasi memang serba memudahkan dalam menjalani hidup, semua serba praktis, segala apa yang ingin kita tahu tersedia, cukup hanya mengetik beberapa kata yang ada di gadgetmu maka semua yang kamu butuhkan akan muncul, tetapi pengaruh modernisasi tidak hanya memudahkan apa yang kita temukan, tetapi juga menambah berbagai permasalahan kehidupan, di dsinilah letak kekuatan masyarakat Baduy Dalam, mereka berpikir sesederhana mungkin. Itulah hal sederhana yang membuat mereka selalu bahagia dalam menjalani hidup, tidak ada beban dari dunia luar yang menimpa mereka. Kesederhanaan, keseimbangan, dan keharmonisan, itulah pelajaran yang bisa dipetik.

Dapatkan ulasan menarik tentang dan tulisan Lain dari Prameswari Mahendrati

Tags: , , , ,

Paket Produk Penawaran

Pajang Paket Perjalanan Anda Disini. Klik Untuk Daftar