Siapapun membutuhkan liburan untuk menyegarkan pikiran. Apalagi anak kantoran yang duduk seharian di depan meja kerja dari pukul 8 pagi hingga 5 petang.
Aktivitas kegiatan di luar ruangan seperti naik gunung baik dianjurkan untuk refreshing sekaligus melemaskan otot-otot yang tegang. Meski naik gunung di kalangan anak kantoran sudah menjadi tren, namun masih ada beberapa hal yang disepelekan.
Untuk itu kami khusus mewawancarai Ketua KPGIR Pusat, Kaka, berkaitan dengan tips naik gunung untuk anak kantoran. Berikut tips naik gunung yang wajib diperhatikan:
Siapkan segala kebutuhan dan perlengkapannya seperti logistik, transportasi, dan akomodasi.
Untuk keperluan logistik, pilih lah menu makanan yang memang baik untuk tubuh dan memiliki banyak sumber energi. Banyak sedikitnya bahan makanan yang dibawa tergantung dari lama pendakian dan karakter gunung yang akan didaki.
Kemudian, pertimbangkan juga masalah transportasi. Persiapkan transportasi apa yang akan digunakan selama menuju basecamp dan pulang kembali ke kota asal.
Begitu pun dengan akomodasi. Pastikan juga kapan tiba di basecamp pendakian, apakah membutuhkan tempat bermalam atau tidak.
Namun ada yang sering terabaikan, yaitu persiapan fisik. Banyak di antara kita yang naik gunung hanya bermodal logistik dan nekat. Hasilnya, kecelakaan kecil seperti terkilir atau pun terlalu cepat capek dijumpai saat pendakian.
Untuk menghindari hal tersebut, baiknya olahraga rutin. Minimal sekali dalam seminggu. Tak perlu olahraga yang berat, cukup yang ringan ringan saja seperti jogging atau lari lari kecil minimal 30 menit.
Persiapan fisik yang kurang kerap membuat kita lebih cepat ngos-ngosan atau pun nafas tersengal-sengal. Hal ini dikarenakan kurangnya olahraga dan juga pelatihan pernapasan.
Maka dari itu, selain olahraga ringan, penting juga untuk lakukan olah pernapasan seperti yoga sebelum lakukan pendakian. Caranya dengan menarik nafas perlahan kemudian ditahan lalu dihembuskan.
Tak dapat cuti atau pun tak ada libur panjang kerap menjadi alasan banyak anak kantoran yang gagal merencanakan mendaki gunung. Padahal, kalau sudah diniatkan, naik gunung tanpa cuti pun bisa saja dilakukan.
Pertama, berangkatlah pada Jumat malam. Kemudian, keesokan harinya lakukan pendakian. Di hari berikutnya, bisa turun gunung dan lanjutkan perjalanan pulang. Dengan catatan, gunung yang didaki tersebut tak butuh waktu berhari-hari untuk didaki.
Menurut Kaka, dengan masa libur yang singkat dan jam kerja yang padat, lebih baik memilih gunung dengan jalur pendakian yang singkat. Misalnya, Guung Papandayan, Gunung Garut, Gunung Prau, Gunung Andong, atau pun Gunung Ungaran.
Gunung-gunung tersebut cukup mudah dijangkau dari Jakarta dan sekiarnya. Kurang lebih membutuhkan waktu perjalanan selama 3 hari 2 malam.
Duduk atau pun selonjoran adalah hal yang biasa dilakukan pendaki saat sedang istirahat namun sebetulnya tak baik dilakukan. Setelah lelah lakukan pendakian, menekuk kaki bisa sebabkan cedera otot. Otot akan kram dan kaki akan lebih mudah lelah.
Sebaiknya berdiri beberapa menit dengan posisi menunduk ke bawah, kemudian selonjorkan kaki. Cara tersebut akan membantu mengistirahatkan tubuh tanpa membuat otot kram.