Sokushinbutsu, Ritual Bunuh Diri di Jepang dengan Mengawetkan Tubuhnya Sendiri

Sokushinbutsu terkenal sebagai ritual bunuh diri di kalangan Biksu. Konon, ritual bunuh diri inilah yang paling mengerikan dan menyakitkan karena butuh waktu 10 tahun untuk bisa benar-benar berhasil meninggal dengan kondisi tubuh awet.

Ditulis Oleh Wike Sulistiarmi

Inilah beberapa mumi biksu. (Foto/twindoctorstv.com)

Meskipun menyakitkan, ritual bunuh diri adalah sebuah tradisi penting yang tidak bisa dipisahkan dari negara Jepang. Sebab Jepang menganggap mati bunuh diri lebih terhormat daripada mati di tangan musuh. Karena sudah seperti tradisi, Jepang punya bermacam-macam ritual bunuh diri, salah satunya adalah Sokushinbutsu.

Baca juga ritual bunuh diri wanita Jepang, mengerikan tapi dianggap paling terhormat.

Sokushinbutsu

Biksu meninggal karena lakukan tradisi bunuh diri. (Foto/twindoctorstv.com/)

Sokushinbutsu terkenal sebagai ritual bunuh diri di kalangan Biksu. Konon, ritual bunuh diri inilah yang paling mengerikan dan menyakitkan karena menggunakan bahan pengawetan mayat atau lebih dikenal dengan mumifikasi dalam kondisi sang biksu masih hidup. Itu pun dilakukan sendiri oleh sang biksu.

Perlahan tapi menyakitkan, itulah hal yang bisa menggambarkan cara bunuh diri para biksu di Jepang ini.

Di Prefektur Yamagata terdapat dua mumi biksu yang konon meninggal dengan proses Sokushinbutsu. Bukan hanya itu saja, ternyata di bagian utara Jepang terdapat kurang lebih 24 mumi Biksu yang diawetkan dengan proses yang sama.

Konon, seorang biksu yang melakukan tradisi Sokushinbutso memiliki tujuan agar sang biksu mencapai kesempurnaan dan memperoleh kedudukan yang tinggi di surga.

Tradisi bunuh diri ini butuh waktu 10 tahun hingga dikatakan berhasil

Sokushinbutsu

Tragis, bunuh diri dengan mengawetkan diri sendiri. (Foto/twindoctorstv.com)

Kuukai adalah biksu pertama yang melakukan tradisi bunuh diri ini. Biksu Kuukai juga merupakan pendiri Sekte Shingon Buddhisme, yakni sekte dengan ide pencerahan melalui hukuman fisik.

Biksu Kuukai terbilang sukses dalam menjalankan praktek Sokushinbutso. Karena tubuhnya yang berada di suatu komplek candi Gunung Koya di Pefektur Wakayama telah awet hingga berusia 1.000.

Meskipun sejarah mencatat praktek Sokushinbutso sudah dilakukan oleh ratusan biksu, namun hanya puluhan biksu saja yang sukses melakukan ritual ini. Untuk diketahui, butuh waktu kurang lebih 10 tahun agar tubuhnya awet.

Proses ritual bunuh diri Sokushinbutso

Tidak sembarangan orang bisa melakukan ritual ini, pertama seorang biksu hanya diijinkan untuk makan kacang-kacangan dan biji-bijian yang didapatkan di hutan.

Diet ketat harus dilakukan dalam jangka waktu 1000 hari atau sekitar 3 tahun. Selama itu pula sang biksu akan menjalani selala macam aktivitas fisik seperti biasanya.

Tujuan diet ini adalah untuk menghilangkan lemak di tubuh sehingga terkuras habis dan akan terurai dengan mudah setelah kematiannya.

Tahap kedua, biksu harus melakukan diet lebih ketat dari sebelumnya. Selama 1000 hari ia hanya mengonsumsi kulit dan akar pohon. Biasanya, pada tahap ini sang biksu akan terlihat seperti kerangka hidup. Ia kekurangan cairan dan kelembaban tubuh. Hal ini akan memudahkan tubuh untuk diawetkan.

Baca juga: 5 Tradisi Kematian Paling Menyeramkan di Dunia, Ada Suku yang Makan Mayat Sebagai Ungkapan Bela Sungkawa

Sokushinbutsu

Inilah beberapa mumi biksu. (Foto/twindoctorstv.com)

Tahap selanjutnya, biksu akan mengonsumsi teh khusus terbuat dari getah pohon Urushi selama 1000 hari. Getah ini biasanya digunakan sebagai pernis untuk mangkuk dan mebel. Teh ini sangat beracun dan ketika dikonsumsi akan membuat peminumnya mengalami muntah, berkeringat, dan buang air. Menyebabkan tubuh kekurangan cairan cukup hebat dan berfungsi mencegah belatung tidak memakan si mayat biksu.

Langkah terakhir, biksu akan ditempatkan di ruang peti batu yang cukup besar, kemudian duduk dengan gaya bersila dalam jangka waktu tertentu, biasanya 1000 hari.

Pada peti itu dibuatlah saluran udara. Dengan dibekali lonceng, biksu akan membunyikan lonceng tersebut sebagai pertanda kepada orang yang mengawasinya bahwa dia masih hidup. Apabila lonceng tak lagi berbunyi, tandanya sang biksu telah meninggal.

Dapatkan ulasan menarik lainnya tentang TRADISI UNIK, tulisan lain Wike Sulistiarmi

Kontes foto, video pendek, dan desain logo BTNGMb berhadiah total puluhan juta rupiah. Ikuti sekarang

Tag : ,



Berikan Komentar di Bawah

Airy Rooms
Next Post