Sisi Gelap Kota Jogja yang Tidak Banyak Diketahui Orang, Ngeri!

Jogja ramai diperbincangkan warga net, setelah salah satu akun di Twitter mengungkapkan sisi gelap dibalik keistimewaan Jogja yang tidak banyak diketahui.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Beberapa waktu belakangan ini nama Jogja ramai diperbincangkan oleh warga net, setelah salah satu akun di Twitter mengungkapkan sisi gelap dibalik keistimewaan Jogja yang tidak banyak diketahui orang. Tak pelak, seketika hal ini menjadi Trending Topic di linimasa Twitter. Romantisasi Jogja oleh wisatawan dan para pendatang seakan tak berarti lagi.

D.I. Yogyakarta merupakan satu dari empat wilayah otonomi khusus di Indonesia yang beribukota di Yogyakarta. Berbeda dengan provinsi lain, kursi kepada daerah di D.I. Yogyakarta diduduki oleh trah dari keluarga Keraton Yogyakarta. Yogyakarta atau Jogja dikenal luas oleh wisatawan sebagai Kota Pelajar dengan adat tradisi Jawa yang masih kental lestari.

Siapa sangka dibalik Jogja yang istimewa, ada sisi gelap yang selama ini tidak diketahui oleh banyak orang. Akun @humanitrash membagikan potret meme Taj Mahal di India yang berbatasan dengan area pemukiman kumuh padat penduduk. Meme ini seolah merepresentasikan kondisi Jogja saat ini dengan segudang permasalahan sosial lainnya.

(twitter/samslhahah)

Jogja Kota Mal dan Hotel

Perubahan sosial besar-besaran tengah terjadi di Jogja. Julukan Kota Jogja sebagai Kota Pelajar rasanya tak lagi relevan. Dalam beberapa tahun saja, mal dan hotel terus tumbuh sangat pesat untuk melayani kebutuhan para wisatawan dan pelajar yang berkunjung ke Jogja. Harga sewanya pun bervariasi, mulai dari yang termurah hingga paling mahal. Semuanya ada.

Tidak hanya itu, jika dahulu Jogja dikenal sebagai sebuah kota dengan biaya makan murah dengan banyaknya angkringan, kini tidak lagi. Survei dari Bank Indonesia wilayah Yogyakarta menunjukkan bahwa biaya hidup dan konsumsi di kota ini terus mengalami peningkatan. Nilai kenaikannya ekuivalen dengan tingkat inflasi yang melanda negara Indonesia.

Menjamurnya mal dan hotel mengakibatkan dampak pada penyusutan air tanah di musim kemarau. Dengan kata lain, pemukiman masyarakat akan mengalami kesulitan air bersih saat musim kering tiba. Hanya karena demi memajukan aspek pariwisata, kehidupan masyarakat lokal di Jogja harus dikorbankan. Bukankan fenomena ini begitu memprihatinkan?

UMR Rendah dan Masalah Sosial

Sungguh ironi, menjamurnya mal dan hotel serta kenaikan biaya hidup di Jogja tidak diimbangi dengan kenaikan kesejahteraan masyarakatnya. UMK pekerja di Jogja hanya berada di kisaran Rp 2 juta per bulan, disebut yang paling rendah di Pulau Jawa. Dengan gaji sekecil itu, para pekerja sudah pasti tidak mungkin mampu memenuhi gaya hidup di Jogja.

Belum lagi berbagai permasalahan sosial seperti aksi kekerasan oleh para pelajar bergaya preman yang marak. Rasisme terhadap mahasiswa dari wilayah Indonesia timur. Di pedesaan Kulon Progo maupun Gunungkidul, masyarakatnya sedang menghadapi konflik agraria. Dan ada juga aksi eksekusi yang pernah terjadi di sebuah lembaga pemasyarakatan sipil.

(suara.com)

Aksi Premanisme Klitih

Klitih berasal dari bahasa jawa yang maknanya aktivitas mencari angin di luar rumah atau keluyuran. Dalam hal ini, klitih merupakan salah satu fenomena sosial berupa aksi premanisme di D.I. Yogyakarta dan sekitarnya. Fenomena semacam ini terjadi pada kalangan muda yang masih pelajar SMP atau SMA. Biasanya motifnya adalah persaingan antar geng.

Pelaku akan mencari korban yang merupakan anggota geng saingan di daerah yang sepi kemudian melakukan perundungan secara fisik. Barang berharga milik korban juga terkadang diambil. Bahkan beberapa korban seringkali ditemukan tergeletak tak bernyawa. Namun tidak jarang, korban penyerangan dilakukan secara acak kepada siapapun yang melintas.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mendiskreditkan Jogja, juga bukan untuk mengajak berhenti menikmati keistimewaan Jogja itu sendiri. Melalui tulisan ini harapannya kawan-kawan semua dapat melihat Jogja bukan dari sektor pariwisata saja, namun juga ketimpangan-ketimpangan akses terhadap pendidikan, tanah, perumahan, dan pangan agar nantinya Jogja bisa istimewa untuk dinikmati kita semua.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU