Sepenggal Cerita Dari Serambi Mekah

SHARE :

Ditulis Oleh: Prameswari Mahendrati

Ingatanku sempat melayang ketika melihat salah satu iklan mengenai tayangan acara memperingati 8 tahun bencana tsunami Aceh yang akan segera ditayangkan. Aku teringat 8 tahun silam, ketika Ayahku hendak menjamah kota Serambi Mekah untuk traveling bersama teman-teman komunitas di kantornya. Ayah memang memiliki hobi traveling sejak masih menjadi mahasiswa, dan masih tetap ia lakukan disela-sela waktu cuti nya, tidak hanya maniak traveling, ia juga mengajarkan saya untuk mencintai negeri melalui traveling.

Saya sangat paham kalau salah satu cita-cita nya adalah berkeliling Indonesia, Asia, Amerika, Eropa, Afrika, begitulah yang ia katakan kepadaku. Satu hari sebelum hari keberangkatannya untuk traveling ke kota itu, terjadi bencana yang menggemparkan seluruh dunia. Tentu saja, dengan usia yang masih ABG yang ada dipikiranku hanyalah rasa takut.

Tiga hari setelah bencana itu disiarkan, Ayah saya pun tak mebatalkan niatnya untuk pergi ke kota itu, hanya niat yang berbeda, jika mulanya beliau hendak pergi karena urusan pekerjaan, kali itu ia membelokan diri dengan urusan hati nuraninya.

“Di mana ada yang membutuhkan, di situlah kamu seharusnya berada, karena traveling tidak hanya sebatas mengagumi sebuah panorama, sebuah tempat, tetapi bagaimana kita memberikan arti kepada orang di sekitar”. Kalimat itu masih sangat jelas terekam diingatan saya hingga usiaku telah beranjak dewasa. 3 minggu sudah ayah pergi ke kota di ujung Pulau Sumatera tanpa ada kabar. Perasaan yang sangat wajar apabila seluruh orang khawatir, tapi lagi-lagi saya ingat kata ayah, “kalau ayah gak ada kabar, tandanya ayah sedang sibuk bantu orang, jangan takut”.

Waktu kepulangan ayah yang selalu kutunggu-tunggu akhirnya datanglah, ayah tiba dengan selamat tanpa kurang apapun, tanpa membawa tas yang berisi pakaian yang ia bawa ketika berkemas sebelum berangkat, hanya membawa tas selempang berisikan dompet dan kamera. Aku menunggu-nunggu cerita dari ayah, kira-kira beginilah cerita yang masih saya ingat;

1. Bangunan yang Tegak Berdiri

Bangunan yang telah lama menjadi kebanggaan masyarakat Aceh bernama masjid Baiturrahim dan telah berusia 123 tahun itu tetap berdiri tegak di tengah-tengah bangunan lain yang telah rata dengan tanah.

Ini salah satu fakta yang diceritakan ayah dan hingga sekarang dianggap sebagai mukzizat oleh masyarakat Aceh. Saat bencana itulah perasaan sedih tidak dapat terbendung melihat bagisan mayat-mayat yang entah tak diketahui identitasnya dan masjid ini pun menjadi andalan untuk mengevakuasi korban luka-luka.

Hingga kini masjid itu semakin ramai dikunjungi terutama menjelang  peringatan hari tsunami aceh 26 Desember, biasanya masyarakat Aceh melakukan doa bersama untuk para korban meninggal.

2. Kapal Laut yang Berpindah Tempat

Guncangan gempa dari dasar laut sebesar 9.3 SR menyebabkan sebuah kapal sebesar PLTD terseret hingga 2.5 m ke daratan. Tak ada yang menduga seberapa hebat arus air laut hingga menyebabkan alat transportasi laut ini berpindah tempat. Tidak hanya satu, terdapat satu kapal nelayan, kapal Lampulo yang juga terseret ke daratan, namun badan kapal ini menyelamatkan puluhan jiwa yang berlindung di dalam kapal sehingga tidak terseret arus.

Sampai sekarang kedua kapal itu pun dibiarkan tetap berdiam di darat, tempat benda itu terseret karena dianggap memiliki kisah historis. Foto kedua yang ditunjukan ayah membuatku tak bisa berkata apa-apa, saya hanya bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya bencana yang menimpa mereka sembari memandang oleh-oleh foto yang sebenarnya tak ingin saya lihat.

3. Rumah Sakit Sebagai Kuburan Massal

Ribuan korban yang kehilangan nyawa dan berserakan di mana-mana, menyebabkan para korban disemayamkan secara massal, dengan keadaan tangan berlumpur, ayah memindahkan jasad-jasad di tempat yang lebih layak. Sayang sekali rumah sakit yang seharusnya sangat dibutuhkan malah hancur lebur dengan menyisakan puing-puing yang berserakan.

Rumah Sakit Meuraxa merupakan salah satu rumah sakit yang lokasinya berubah fungsi dari tempat perawatan orang sakit dan kini menjadi tempat peristirahatan massal bagi para korban tak selamat.

4. Kisah Manusia Pohon

Bantuan tidak melulu melalui cara evakuasi, “menampung cerita dan bercengkrama juga salah satu cara yang berharga”, kata ayah. Ayah sempat bercengkrama dan berbagi cerita kepada beberapa korban selamat dengan tujuan membantu mereka keluar dari kesedihannya sejenak.

Maramis, salah satu laki-laki separuh baya yang selamat akibat memanjat dan bertahan di sebatang pohon kelapa. Sambil menawarkan sebatang rokok dan secangkir kopi, ayah pun mengajak bapak Maramis untuk berbincang di pendopo pengungsian, beliau tidak menceritakan sama sekali perihal keluarganya, mungkin terlalu pahit, ia hanya sekedar bercerita bagaimana ia menyelamatkan diri dan bagaimana ia melanjutkan hidup.

5. Hewan Pembawa Korban Selamat

Beberapa dari korban selamat mengaku bahwa mereka melihat gerombolan kambing, anjing, dan 8 ekor sapi yang berlarian secara tiba-tiba menuju arah bukit. Sebagian warga selamat mengaku merasa curiga dengan kelakuan aneh dari hewan yang tidak biasa ini, akhirnya beberapa warga mengajak anak-anak mereka untuk menuju bukit mengikuti kumpulan hewan-hewan itu, namun sebagian warga lain tidak percaya dan entah bagaimana kabarnya sekarang.

10 tahun telah berlalu, tak terasa semenjak saya mendengar langsung kisah dari ayah secara langsung. Kini saya yakin Aceh sudah pulih, Aceh sudah bangkit. Bencana itu hanyalah akan jadi rekam jejak dokumenter di memori mereka.

Kini sudah bukan saatnyalah mengenang berbagai kedehihan yang menimpa mereka, kini tinggal bagaimana kita membingkai kisah memilukan menjadi harapan yang cerah untuk Serambi Mekah. Biarkan mereka melupakan, lupa bukan berarti dilupakan bukan?

Baca juga Berkunjung Ke Museum Tsunami Aceh Tak Pernah Mudah, Terutama Bagi Para Korban Tsunami

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU