Seni Debus Pusaka Banten, Misteri Kesenian Sufi Kuno di Nusantara

Berbeda dengan Debus dari daerah lainnya, Seni Debus Pusaka Banten memiliki ciri khas yaitu penggunaan senjata berbentuk godo dengan ujung seperti pahat.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Siapa tidak kenal Debus, kesenian bela diri yang dijumpai di Aceh, Minang, dan Banten yang mempertunjukan kemampuan kekebalan tubuh. Janggal, mereka yang turut serta dalam atraksi Debus seolah kebal terhadap senjata tajam, api, hingga air keras. Konon, atraksi Debus pertama adalah Seni Debus Pusaka yang berasal dari Provinsi Banten.

Debus Pusaka Banten bermula pada masa kejayaan Maulanan Hasanuddin dari Kesultanan Banten di abad ke-16 M, sekitar 1532-1570. Debus pada saat itu digunakan untuk mengobarkan semangat juang rakyat Banten dalam melawan kolonialisme keji yang dilakukan oleh Belanda. Kesenian Debus Pusaka Banten merupakan kombinasi antara seni tari dan suara.

Berbeda dengan Debus dari daerah lainnya, Debus Pusaka Banten memiliki ciri khas yaitu penggunaan senjata berbentuk godo yang memiliki ujung seperti pahat. Alat uji kekebalan ini disebut dengan debus (al-madad) oleh masyarakat Banten. Dalam pertunjukan, alat tersebut akan dihujamkan ke tubuh para lakonnya. Karena kesaktian serta ilmu tinggi, jelas senjata itu tidak akan menembus kulit dan seolah menjadi benda bohongan (gedebus).

(netralnews.com)

Filosofi Debus Pusaka Banten

Informasi terkait gambaran senjata Debus dan filosofinya dapat dilihat di naskah pontang yang ditulis masa Sultan Abul Mufakir, raja keempat dari Kesultanan Banten (1596-1651). Gambar senjata Debus adalah ilustrasi susunan kata ‘Muhammad’ yang berdapan, bertemu huruf ‘mim’ di bagian pangkal huruf ‘dal’ di ujungnya. Sedangkan di tengah kata ‘Muhammad’ tertulis kalimat ‘la ilaha illa Allah‘. Semua tertulis dalam huruf Arab.

Gambar senjata Debus adalah lambang ajaran tasawuf martabat tujuh yang diajarkan dalam kitab Tuhfat al-mursalat. Martabat tujuh berisi tentang ajaran kesatuan Tuhan dalam alam semesta, yaitu ahadiyah, wahdah, wadiyah-wahdaniyah, alam arwah, alam amsal, alam ajsam, dan alam insal.

Secara sederhana, martabat tujuh menjelaskan bahwa dalam diri manusia bersemayam secara akumulatif sifat ketuhanan, anasir penciptaan manusia utama (Muhammad SAW), anasir penciptaan manusia pertama (Adam AS), serta jiwa halus dan kasa yang terhimpun dalam raga manusia. Mereka yang mampu mengelola serta merawat martabat tujuh pada dirinya maka akan selamat lahir dan batin.

(indozone.id)

Sakti dan Kebal Senjata

Debus selalu dikaitkan dengan ilmu kekebalan tubuh sehingga tidak bisa dilukai oleh apapun. Tubuh yang tidak tertembus senjata ini merupakan pembuktian manusia yang selamat. Mengapa mereka kebal senjata? Sebab mereka mampu mengelola dan merawat potensi martabat tujuh yang ada dalam dirinya layaknya sebuah ruang kosong.

Tubuh yang dihujam Debus tidak terluka maupun berbekas, karena sejatinya senjata tersebut hanya mengenai ruang kosong. Ruang kosong adalah wujud ahadiyah Allah SWT. Sedangkan Debus menjadi wujud wahidiyah-wahdaniyah; perpaduan antara anasir Muhammad SAW dan anasir penciptaan Adam AS.

Seni pertunjukan Debus merupakan wujud bentuk keasyikan seseorang saat bersanding dengan Tuhan. Pemain Debus terlalu larut dengan rasa bahagianya kepada Tuhan hingga hirau pada jiwa kasarnya yang dihujam bertubi-tubi menggunakan Debus. Atraksi ekstrem ini harus didampingi oleh seorang guru sufi atau mursyid selaku pembimbing rohani.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU