Sidebar

Sejarah Suku Minang, Etnis Petualang yang Mendirikan Negara Filipina

Tidak banyak yang tahu, dalam sejarah Suku Minang juga menjelajah hingga Kepulauan Filipina dan berperan besar dalam mendirikan Negara Filipina.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Minangkabau atau Minang merujuk pada entitas kultural dan geografis yang ditandai dengan penggunaan bahasa, adat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, dan identitas agama Islam. Suku Minang hidup bermukim di daratan Sumatera Barat, dan sebagian kecil di Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Utara, Aceh, dan Negeri Sembilan di Malaysia.

Orang Minang adalah etnis yang unggul di Indonesia karena menonjol dalam bidang perniagaan, profesional, dan inteletual. Mereka menjadi pewaris sah dari tradisi lama Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang gemar berniaga dan dinamis. Tidak heran jika hampir separuh dari kelompok etnis ini hidup sukses di tanah perantauan melalui perdagangan.

Berdasarkan Tambo Minangkabau (sastra yang bercerita legenda lokal) yang diwariskan secara turun temurun, sejarah Suku Minang berasal dari keturunan langsung Iskandar Zulkarnain. Meskipun kisah tersebut lebih kepada legenda fiktif dibandingkan fakta ilmiah, namun kisahnya dapat dibandingkan Sulalatus Salatin yang ditulis pada abad ke-16.

Sulalatus Salatin merupakan karya sastra berupa manuskrip yang ditulis dengan abjad jawi, bercerita dentang penurunan raja-raja di Kerajaan Melayu. Dalam salah satu bagian Sulalatus Salatin diceritakan bagaimana masyarakat Minang saat itu menunjuk Sang Supurba, salah seorang keturunan langsung Iskandar Zulkarnain untuk menjadi raja mereka.

Sedangkan dari pandangan antropologi, Suku Minang adalah bagian dari Deutro Melayu yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan ke Pulau Sumatera pada 2.500-2.000 tahun lalu. Suku Minang masuk dari arah timur Pulau Sumatera, menyusuri Sungai Kampar sampai ke dataran tinggi yang disebut darek, sekarang menjadi kampung halaman Suku Minang.

Wanita-wanita dari Suku Minang (IDN Times).

Etnis Perantau yang Mendirikan Filipina

Seperti yang disinggung sebelumnya, Suku Minang merupakan etnis yang gemar berniaga dan dinamis. Mereka sering kali melakukan diaspora ke berbagai daerah di Indonesia bahkan dunia untuk mencari penghidupan layak. Suku Minang di luar negeri banyak terkonsentrasi di Kuala Lumpur, Seremban, Singapura, Jeddah, Sideny, dan Melbourne.

Tidak banyak yang tahu bahwa jauh sebelum negara Indonesia berdiri, Suku Minang juga menjelajah hingga Kepulauan Filipina dan berperan besar dalam mendirikan Negara Filipina. Bukan bualan, fakta ini sudah teruji secara ilmiah, dan bahkan sampai sekarang masih berdiri patung Raja Sulaeman yang berdarah Minang di salah satu sudut kotanya.

Dalam disertasi Mochtar Naim pada tahun 1974 yang berjudul “Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau” diceritakan tentang perjalanan sebagian masyarakat Minang yang bermigrasi di Kepulauan Sulu. Salah seorang anggota Suku Minang pada abad ke-16 kemudian berhasil menjadi sosok raja, dan menjadi satu dari tiga raja besar yang berpengaruh di Filipina.

Pada abad ke-16, Filipina diperintah tiga raja besar, yaitu Raja Sulaeman, Raja Matanda, dan Raja Lakundala. Raja Sulaeman adalah seorang muslim yang berdarah Minang, memerintah di Tondo dan Manila. Bersama Raja Matanda, Raja Sulaeman memerintah Suku Tagalog di selatan Sungai Pesig di Manila. Sedangkan Raja Lakundala bertahta di wilayah bagian utara.

Patung Raja Sulaeman pendiri Filipina (Bombastis).

Tiga Raja tersebut bersatu dalam Kerajaan Manila. Sebelum Spanyol datang menjajah Filipina, kerajaan ini berkembang pesat dan banyak menjalin kerja sama dengan kerajaan-kerajaan lain di pulau seberang, Selama masa pemerintahannya, Raja Sulaeman berhasil mengenalkan Islam. Bahkan konon nama Filipina disebut berasal dari serapan kata Fi’amanillah.

Saat Spanyol datang melakukan kolonialisme, Raja Sulaeman bersama tiga raja lainnya melakukan pertempuran yang dikenal Perang Bangkusay. Namun karena Spanyol memakai senjata api yang modern, Raja Sulaeman pun kalah. Tiga raja kemudian ditawan dan Kota Manila dibakar. Tentara Islam di Kerajaan Manila lalu dikristenisasi secara paksa oleh Spanyol.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Hotel Mexolie, Kisah Kelam dan Sejarah Kebumen yang Dihilangkan

Timor Leste Menyesal, Ingin Gabung Lagi dengan Indonesia, Bisa?

Sejarah Suku Tidung yang Dikira Cina, Sub-Etnis Suku Dayak yang Muslim

Kenapa Bulan Suro Dianggap Keramat Oleh Orang Jawa? Ini Jawabannya

Ganti Rugi Penjajahan, Indonesia Ganti Rugi pada Belanda, Kok Bisa?

Ada Suku Batak di Filipina, Satu Nenek Moyang dengan Batak Sumatera?

FALLBACK
The END