Post-Kolonialisme, Penyebab Fenomena Foto Bersama Bule

Indonesia memesona bukan hanya karena alamnya, tapi orang-orangnya. Selain ramah, orang Indonesia memang unik. Salah satu keunikannya adalah suka mengajak turis asing (bule) untuk foto bersama. Tak harus cakep, yang penting bule. Jadi, tak heran kalau bule di Indonesia sudah seperti artis.

Baca juga: Curhat bule Amerika, “boleh foto bareng tapi lihat situasi kami”

yang khas dari jogja

Keramahan warga Jogja kepada turis asing. Foto dari gapuranews.com

Kami pernah mewawancarai seorang turis asing asal Amerika Serikat yang sedang melakoni tugasnya sebagai volunteer di Semarang.

Dalam wawancara tersebut, David (nama turis asing yang kami wawancarai-red), mengaku bahwa dirinya merasa diperlakukan sebagai sosok superstar saat di Indonesia. Ia diperlakukan dengan sangat manis dan kerap diajak foto bersama, berbeda dengan warga lokal. Hal tersebut membuatnya merasa mendapatkan perlakuan rasis.

Nyatanya, apa yang dialami David tidak hanya ditemui di Indonesia. Tren foto bersama bule pun dijumpai di negara-negara kawasan Asia lainnya seperti Vietnam, Kamboja, India. Kami pernah berbincang dengan turis asal Belanda bernama Michel. Ia mengalami hal serupa ketika traveling di Vietnam.

Perilaku minta foto bersama turis asing khususnya berkulit putih ini erat kaitannya dengan perasaan inferior akibat masa post-kolonialisme

turis asing

Tiap negara punya etika berbeda. Foto oleh Echi/Phinemo.com

Post-kolonialisme adalah perspektif dan kajian akademik seputar diskursus dan praktik budaya kolonialisme (atau neo-kolonialisme) serta dampaknya pada lintas-bidang kehidupan yang dihasilkan oleh negara penjajah ke negara yang dijajah.

Bila ditelusuri, negara-negara bekas jajahan Belanda, Inggris, Portugis, dan Prancis seperti Indonesia, Vietnam, Cambodia, India memang kerap menganggap turis asing berkulit putih sebagai sosok yang diagungkan salah satu cirinya adalah meminta foto bersama.

Melansir dari tirto.id, bukan hal yang aneh bila warga lokal mengagungkan mereka mengingat semasa zaman penjajahan, para kolonial mengatur negara jajahannya dengan memberikan ‘peradaban’.

Masih dilansir dari sumber yang sama, Dosen dan Ketua Jurusan Sosiologi UNY Grendi Hendrastomo menambahkan bila melihat fenomena foto bersama bule dari kacamata post-kolonialisme, memang bisa memunculkan rasa inferior saat berhadapan dengan bule atau turis asing berkulit putih.

“Orang Asia sejak dulu memang inferior ketimbang orang asing, bahkan sampai sekarang yang menganggap berkiblat ke Barat adalah segalanya. Barat dianggap menara suar yang kita melihatnya, kita ingin dekat dan menganggapnya sebagai sebuah pencapaian,” jelas Grendi Hendrastomo dikutip dari sumber yang sama.

Baca juga: 10 hal yang disepelekan orang Indonesia namun dicintai turis asing

Selain itu, media termasuk industri pertelevisian memiliki peran besar dalam membingkai turis asing sebagai sosok yang superior. Lihat saja, aktris maupun aktor dengan penampilan fisik menyerupai bule laris manis. Ya, meski aktor layar kaca dengan tampang lokal Indonesia pun ada, namun jumlahnya minoritas. Itu pun harus memiliki skill yang mumpuni.

Jadi ada semacam ‘penjajahan’ kultural yang mengawetkan perasaan superior dan inferior.” jelas Grendi.

Penjajahan kultural ini tak akan usai bila kita tetap memupuknya dengan memperlakukan bule bak super star.

Bersikap ramah dan baik pada bule yang datang ke Indonesia bukanlah sebuah kesalahan. Apalagi bangsa kita memang dikenal sebagai bangsa yang ramah di mata dunia. Namun bukan berarti kita menganggap mereka lebih tinggi atau lebih baik dari kita, sedangkan bangsa kita lebih rendah dari mereka. Bersikaplah biasa seperti kita memerlakukan orang lain seperti pada umumnya.

Dapatkan ulasan menarik tentang turis asing dan tulisan Lain dari Echi

Tags: ,

Pajang Iklan Anda Klik Untuk Daftar







Loading Next Article ....