Pedagang Sate Misterius di Bali Mulai Resahkan Turis Mancanegara

Tidak banyak yang tahu, tapi peredaran daging anjing di Bali memang benar adanya.

SHARE :

Ditulis Oleh: Echi

Pernahkah Kamu mendengar tentang ‘Itoshiya rōken monogatari’ atau “Kisah Anjing Tua yang Tercinta” dari Jepang? Kalau kami menyebut nama “Hachiko”, mungkin Kamu baru akan ingat kisah anjing tua yang menyedihkan ini.  

Kisah tentang Hachiko, seekor anjing tua malang yang peroleh perlakuan kasar saat menanti tuannya di stasiun kereta berhasil mengambil simpati banyak orang, terutama Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Hirokichi Saitō menuliskan kisah sedih anjing tua ini dan mengirimkannya ke Tokyo Asahi Shimbun. Sejak kisah malang anjing tua beredar, ternyata Hachiko mulai peroleh banyak simpati. Hachiko disayangi. Hachiko dicintai.

Paling tidak, Hachiko sedikit lebih beruntung daripada anjing-anjing yang ada di Bali. Kondisi anjing liar di Bali ternyata tak bisa dibilang baik. 

Fakta, bukan hoax semata 

Jual sate RW alias anjing. Sumber

Setiap harinya, puluhan anjing di Bali ditangkap dan dibunuh dengan keji. Anjing-anjing yang berkeliaran di perumahan warga ditembak mati. Lalu, ada di antara mereka yang ditangkap, diikat, dan dipukul hingga meregang nyawa. Mirisnya, setelah anjing tersebut mati, para pelaku perburuan anjing ini mengambil bangkai untuk diperjualbelikan dan dikonsumsi kepada para turis di Bali. Menyedihkan. Tapi, seperti itulah fakta terselubung yang ada. 

Fakta ini terungkap setelah video perburuan dan penjualan daging anjing ilegal beredar luas di internet. Kami sempat berbincang dengan seorang tokoh masyarakat di Bali, Gusti Ngurah Harta. Ia membenarkan isu ini.

Masyarakat menangkap anjing pada malam hari di perumahan warga. Setelah tertangkap, anjing-anjing hasil buruan diperjualbelikan. Ini kegiatan yang tidak bisa dibenarkan, kata Gusti Ngurah Harta.

Ketika malam jadi waktu yang mematikan 

Anjing ini mati setelah memakan umpan beracun. Sumber

Malam hari menjadi waktu paling mematikan buat para anjing di Bali. Setiap malamnya, para pemburu memasang umpan beracun dan meletakannya di jalanan di perumahan warga. Anjing liar dan anjing peliharaan ini dimatikan dengan senapan yang sudah diberi racun. Bangkai-bangkai yang tergelatak di jalanan kemudian diambil diam-diam. 

Jika anjing tersebut tertangkap hidup-hidup, mereka dimasukan ke dalam karung. Disiksa, dipukul hingga mati. Anjing yang dianggap sebagai hewan setia dan memiliki perasaan ini tidak bisa meronta apalagi melawan. 

Daging anjing kemudian dikuliti dan diolah sebagai bahan makanan. Sate anjing, jadi salah satu menu daging anjing banyak beredar di Bali. Tapi, jangan harap menemukan menu “sate anjing” dalam buku menu. Karena tidak satu pun dari penjual daging anjing ini mencantumkan label nama. Paling populer, olahan anjing ini diberi nama “RW” alias Rintek Wuuk yang dalam eufemisme Manado berarti anjing. 

Peredaran daging anjing ini meresahkan turis yang ada di Bali

Ramainya berita perjualbelian sate anjing di Bali ini membuat banyak turis, mancanegara khususnya, merasa khawatir dengan sate yang sudah dikonsumsi. Sementara, beberapa dari mereka membeli sate keliling di pinggir pantai tanpa tahu bagaimana proses pembuatannya. 

Dan benar saja, sebuah video investigasi yang berhasil didokumentasikan oleh Secure Animal Australia menjawab semuanya. Dalam video tersebut, seorang penjual terlihat sedang menjajakan sate kepada para turis asing yang sedang duduk-duduk di pinggir pantai. Namun, dia tidak pernah mengatakan cerita yang sebenarnya. 

Penjual: “Sate just $1”

Turis : “Mystery bag. What is, chicken?”

Penjual: “Sate”

Turis: “chicken satay? not dog?”

Penjual : “No, not dog.”

Turis: “I’m happy just as long as it’s not dog.”

Seperti membeli kucing dalam karung. Mereka hanya tahu, sate tersebut enak. Darimana asal muasal daging sate tersebut dan bagaimana proses pengolahannya masih menjadi tanda tanya. Kalau Kamu perhatikan video lebih seksama, pada detik 0:17, si investigator menanyakan tentang sate apa yang dia jual. Jawabannya? Mengejutkan. 

“Kamu jual sate apa?” Tanya si investigator. “Dog sate” Jawab penjual dengan santainya lalu pergi menjajakan sate tersebut kepada para turis asing yang sedang duduk bersantai di tepi pantai.

Secure Animal Australia menunjukkan hasil investigasi yang memprihatinkan

Misteri sate tak bernama. Sumber

Kasus peredaran daging anjing ilegal di Bali ini ternyata menarik perhatian media internasional dan lembaga perlindungan hewan di Australia, Secure Animal Australia. Melansir dari website resmi Secure Animal Australia, tim investigasi menunjukkan hasil yang mengerikan. 

Jumlah anjing yang dikonsumsi di Bali 7 kali lipat lebih banyak dari festival makan anjing di China (Yulin Dog Eating Festival). 

Sama seperti apa yang dikatakan Ngurah Harta. Menurut Secure Animal Australia, anjing-anjing yang berkeliaran di perumahan dan di jalanan diburu dan ditangkap dengan membabi buta. Dalam seminggu, ratusan anjing mati dibunuh dan dikonsumsi. 

Total sekitar 80.000 hingga 100.000 ekor anjing dikonsumsi di Bali per tahunnya 

Data ini kami dapatkan setelah berbincang dengan Manager BAWA (Bali Animal Welfare Association), I Gusti Ngurah Bagus. Menurutnya, 

Olahan daging anjing ini dijual di warung-warung rumahan di Bali sebagai bisnis keluarga. Mereka tidak buka setiap saat, hanya membuka warungnya saat ada permintaan dari konsumen atau ketersediaan logistik (daging anjing). Jadi, bukan seperti restaurant umumnya yang buka setiap waktu. Ada 80 warung di Bali yang menjual RW. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari warung-warung tersebut, total 80.000 hingga 100.000 ekor dikonsumsi per tahun. 

Bali Animal Welfare Association sebagai NGO yang memiliki misi perlindungan terhadap hewan-hewan liar di Bali mengaku tidak tahu menahu mengenai video pemburuan anjing ilegal tersebut. Tapi, mereka membenarkan kalau di Bali sendiri memang ada warung-warung rumahan yang menjual olahan daging anjing. Kalau dikalkulasi, sekitar 80.000 – 100.000 anjing dikonsumsi per tahunnya. 

Daging anjing tidak baik buat kesehatan 

Gusti Ngurah Harta dan putranya. Sumber foto

Beberapa warga sekitar percayai bahwa daging anjing baik untuk meningkatkan vitalitas. Maka, mengkonsumsi daging anjing bukanlah hal yang membahayakan. Padahal, sebuah penelitian yang dilakukan Dr. Andre Dawson, direktur New South Wales Poisons Information Centre dan kepala bidang toksikologi di Royal Prince Alfred Hospital membuktikan hal yang berlainan. 

Menurutnya, daging anjing yang dibunuh menggunakan racun telah terkontaminasi. Efeknya, kamu yang mengkonsumsi daging ini akan mengalami mual, diare, sakit pada otot dan sesak napas. Mengerikannya, racun yang terdapat dalam daging anjing bisa saja mematikan. 

Untuk Kamu yang akan berlibur ke Bali 

Supaya Kamu terhindar dari jebakan daging anjing ini, hindarilah membeli sate atau olahan daging dengan sembarangan. Lebih baik, membeli makan di restoran atau tempat makan yang terpercaya. Apalagi kalau Kamu melihat tempat makan yang mencantumkan menu RW di dalam buku menunya. Sudah dipastikan warung tersebut menjual bahan makanan dari olahan daging anjing. 

Masa depan pariwisata Bali 

Kasus peredaran daging anjing ilegal ini memang menyita perhatian dunia. Jika tidak segera dihentikan, bukan hanya nasib anjing-anjing malang ini yang menjadi korban, tapi juga pariwisata Bali. Peredaran daging anjing ini akan memunculkan kekhawatiran saat akan konsumsi makanan di Bali. Dengan demikian, kepercayaan turis asing akan keamanan (khususnya makanan) akan dipertanyakan. 

***

This article has been updated (17/8) by adding information

“Total sekitar 80.000 hingga 100.000 ekor anjing dikonsumsi di Bali per tahunnya”

 

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU