Sidebar

Menghidupkan Karakter Dalam Kisah Perjalanan Naratif

Menghidupkan Karakter Dalam Kisah Perjalanan Naratif

Menjadikan orang yang ditemui diperjalanan sebagai tokoh utama adalah salah satu teknik kreatif dalam sebuah tulisan perjalanan naratif.

SHARE :

Ditulis Oleh: Windy Ariestanty

Editorial: Setelah pada tulisan sebelumnya, Windy Ariestanty mengulas alasannya memilih tulisan perjalanan naratif, kali ini dia membeberkan salah satu teknik kreatif yang dapat digunakan untuk menghidupkan tulisan perjalanan naratif, yaitu dengan menjadikan seseorang yang ditemui dalam perjalanan sebagai tokoh utama.

Biksu Cilik dan Kamera. Rasa ingin tahu ada di dalam diri setiap manusia, termasuk seorang biksu cilik di Pagoda Shwegugyi, Bagan, Myanmar. Foto oleh Windy Ariestanty

Pada hakekatnya, tulisan perjalanan selalu merupakan perkara manusia-manusia yang bersikap melewati waktu. Dan ‘Naratif,’ kata Mark Kramer, ‘adalah soal manusia-manusia bersikap melewati waktu itu.’

Cerita tentang Tuan Ibrahim begitu membekas di ingatan saya. Lelaki pengusaha itu sangat menyukai budaya Barat—dalam hal ini Amerika Serikat. Ia mengendarai Mercedes, suka berkemeja kotak-kotak dan mengenakan celana jins biru, bangga dengan fakta bahwa Beirut memiliki dua Hard Rock Café, dan beranggapan bahasa Inggrisnya beraksen Amerika.

Saya mengenal Tuan Ibrahim dari tulisan Rolf Potts berjudul ‘My Beirut Hostage Crisis’ yang dimuat di ‘The Kindness of Strangers’, sebuah kompilasi tulisan nonfiksi perjalanan naratif yang dieditori oleh Don George. Buku terbitan Lonely Planet yang menceritakan kebaikan-kebaikan dari orang yang tak kita kenal selama perjalanan ini mendapatkan pengantar dari Dalai Lama. Hanny Kusumawati, rekan saya di @jktonfoot, meminta saya membaca kisah Potts di Beirut. ‘Tuan Ibrahim-nya lucu, W,’ kata Hanny sambil menyodorkan buku itu.

Dan benar saja. Tuan Ibrahim memang lucu sekaligus bintang utama dalam tulisan tersebut.

Potts bertemu Tuan Ibrahim di sudut rue Hamra and Jeanne d’Arc yang berada di Distrik Hambra, bagian Barat Beirut. Saat itu Potts sedang sibuk mengamati peta di tangan, mencari The Hole in The Wall, sebuah pub yang direkomendasikan oleh kenalan temannya.

Pertemuan Potts dengan Tuan Ibrahim mengantarkan ia menjelajah Beirut dari sisi yang diinginkan dan dianggap Tuan Ibrahim harus dilihat orang asing. Tuan Ibrahim mengajak Potts ke lokasi-lokasi yang menurutnya membanggakan, seperti restoran buffet kelas atas Weekland, berlayar, dan menyambangi bangunan-bangunan modern (mal, hotel, bioskop, dan resort mewah).

Ia membawa Potts menjauh dari area-area reruntuhan perang di Beirut. Padahal, selama di Beirut, Potts mendapatkan kenyataan bahwa sangat sulit untuk seorang pelancong tidak menjadi seorang ‘war tourist’. Potts sendiri sebenarnya kurang tertarik dengan pariwisata perang. Namun, entah mengapa, ia mendapati dirinya terpikat pada puing-puing sisa perang di Beirut sehingga terdorong mengeksplorasi lebih banyak.

Sayangnya, Tuan Ibrahim yang mendapuk diri sendiri sebagai pemandu wisata pribadi Potts berpikiran lain. Ia ingin orang asing yang mengunjungi Beirut melihat negerinya tak berbeda dengan Eropa, bahkan kalau bisa, Beirut adalah Amerika yang lain.

‘The Green Line bukan untuk turis!’ sentak Tuan Ibrahim sambil menggerak-gerakkan telunjuk di depan wajah Potts sewaktu ia mengetahui kawan baru Amerika-nya pergi mengunjungi The Green Line.

‘Saya pikir akan sangat menarik bila….’ Potts coba menjelaskan apa yang ia pikirkan.

‘Apakah kami terlihat seperti teroris?’ Tuan Ibrahim menukas kalimat Potts dengan gestur yang menunjukkan ia marah.

‘Tentu saja tidak!’

‘Tentu saja tidak! Lihat itu. Ini seperti Eropa. Tidakkah ini mirip Eropa?’

‘Ya, tempat ini sangat bagus.’

‘Lalu mengapa kau pergi melihat gedung tua yang dindingnya dipenuhi tembakan peluru?’

Satu ketika Potts berusaha melepaskan diri dari Tuan Ibrahim yang terus menempel dan menjejalinya dengan wisata Beirut versi lelaki itu. Potts memutuskan mengeksplorasi tempat yang ia anggap menarik dan tak mungkin ia kunjungi bersama Tuan Ibrahim. Setelah sekian jam berkeliling, ia kembali ke hotel. Tiba di hotel, ia mendapati Tuan Ibrahim telah menunggunya selama dua jam lebih. Lelaki itu marah karena Potts sama sekali tak meneleponnya dan merasa sebagai teman, Potts telah mengkhianatinya dengan tak berkabar sama sekali. Lelaki berusia 32 tahun ini menghukum Potts dengan menyuruhnya menghabiskan semangkuk besar pudding cokelat buatan saudara perempuannya.

Setelah insiden memakan puding cokelat semangkuk besar, Potts memutuskan meninggalkan Beirut menuju Tripoli, sebuah pelabuhan di pantai barat laut Lebanon. Ia hanya meninggalkan sebuah pesan untuk Tuan Ibrahim yang dititipkan kepada manajer hotel.

I’m sorry to have to tell you this way, but I had to go to Syria on short notice. Thank you for your kindness and hospitality. I will remember Lebanon well.”

***

Perempuan Nelayan Sangihe. Setiap pagi, kapal-kapal nelayan merapat ke Pasar Pelabuhan Lama, Tahuna, Sangihe, untuk menjual hasil tangkapan mereka semalam. Foto oleh Windy Ariestanty

Sama seperti dalam elemen dasar penulisan fiksi, tulisan nonfiksi naratif (termasuk di dalamnya tulisan perjalanan naratif) yang bagus disangga oleh tiga kaki, yaitu karakter, tindakan, dan adegan. Dan karakter menjadi hal yang didahulukan karena ia menggerakkan dua kaki lainnya. Personalitas, nilai, dan hasrat dari karakter menghasilkan sebuah tindakan. Dan sudut pandang yang menunjukkan keinginan dari karakter akan mendorong ia melakukan tindakan.

Kisah perjalanan sendiri pun sebenarnya adalah kisah-kisah manusia di belahan Bumi mana pun yang bergerak menyikapi waktu dan menjawab tantangan hidup dalam keseharian. Tuan Ibrahim yang pernah tinggal di The Green Line menjelma menjadi pemuja tentara asing karena sewaktu kecil ia sering mendapatkan makanan dari tentara yang berjaga di daerah ini, tetapi justru ia tak menginginkan para wisatawan mengunjungi tempat itu. Ia memiliki keyakinan sebagai warga negara berkewajiban menunjukkan kepada para wisatawan bahwa negerinya bukanlah sebuah negeri yang porak poranda akibat perang. Keyakinan ini menerbitkan inisiatif dalam dirinya untuk memandu Potts. Harapan Tuan Ibrahim sederhana, ia ingin Potts bisa mengabarkan kepada orang-orang di luar sana bahwa Lebanon tak kalah dengan Eropa, bahwa Lebanon berisi orang-orang genius dan bukan teroris. Pendapat seperti itu akan tercipta apabila Potts melihat pembangunan area-area megah dan reruntuhan bersejarah di Beirut, bukan puing-puing sisa perang.

Warna Hidup. Tangan-tangan pewarna batik di Trusmi, Cirebon, menggambarkan kisah perjalanan manusia-manusia mengolah sebuah kain putih menjadi berwarna elok. Foto oleh Windy Ariestanty

Menjadikan seseorang yang ditemui di perjalanan sebagai bintang utama dalam tulisan perjalanan naratif adalah salah satu teknik kreatif yang bisa digunakan. Manusia adalah makhluk yang secara alami merupakan ladang cerita. Lewat kontak antarmanusia, kita belajar banyak hal. Ada banyak manusia yang menginspirasi, yang membuat kita mengenal atau mengenang sebuah tempat atau bahkan memberi pengaruh pada diri kita. ‘My Beirut Hostage Crisis’ mengenalkan Beirut dari dua sisi yang bertentangan kepada saya. Tuan Ibrahim menjadi sosok yang menampilkan Beirut dari sudut pandang seorang penduduk lokal yang memiliki trauma perang sehingga menginginkan orang-orang asing hanya menyaksikan modernisasi, sementara keinginan Potts untuk mengekplorasi bekas-bekas area perang mengajak saya melihat sisi lain Beirut yang menarik dari sudut pandang seorang pejalan asal Amerika Serikat.

Pada akhirnya, masa lalu dan motiflah yang memberi nilai moral pada tindakan setiap manusia. Alih-alih merasa terganggu dengan Tuan Ibrahim yang digambarkan selalu berang setiap kali melihat Potts tidak antusias dengan tujuan ‘wisata’ yang diaturnya, cerita Potts justru berhasil menerbitkan simpati kepada lelaki ini. Potts memasukkan latar belakang Tuan Ibrahim yang berhasil ia gali selama perjalanan ke tulisan, membuat saya sebagai pembaca mendapatkan gambaran tentang lelaki yang memutuskan berselibat dan menjauhi alkohol. Lelaki yang semasa kecil tinggal di The Green Line yang merupakan ‘area bekas perang’ ini lahir di keluarga campuran. Ayahnya seorang muslim Sunni, sementara ibunya seorang nasrani Maronite. Ketika akhirnya Amerika menarik diri dari Beirut dan rumah Ibrahim hancur dalam pertempuran yang sedang berlangsung, keluarganya menyelamatkan diri ke pinggiran kota.

Perang memang selalu meninggalkan trauma, setipis apa pun dan dalam bentuk apa pun. Bahwa kebaikan sekalipun adalah sesuatu yang absurd nilainya. Pertentangan adalah hal yang menjadikan tulisan nonfiksi perjalanan bergaya naratif yang ditulis Potts memikat. Antara keegoisan dan kebaikan hati, kekinian dan masa lalu, pembangunan dan reruntuhan, cinta dan benci, kelemahan dan kekuatan, serta antara apa yang dianggap baik oleh Tuan Ibrahim dan apa yang diinginkan penulis. Bukankah memang kerap manusia berada di persimpangan seperti itu? Karakter-karakter di dalam tulisan ini—lewat tindakan dan sudut pandang—menggerakkan cerita dan mengenalkan Beirut dengan cara yang berbeda kepada pembaca.

Tulisan perjalanan naratif adalah kisah-kisah perjalanan yang melampaui letak geografis dan kronologi. Semua kisah perjalanan pada dasarnya adalah soal karakter manusia yang bergerak, berjuang, dan bersikap melewati waktu. Dan manusia yang tengah berupaya adalah karakter yang luar biasa memikat untuk dituliskan. [13]

@windyariestanty adalah penulis buku Life Traveler dan salah satu ikon inspiratif 2015 Hard Rock FM Bali untuk bidang traveling & writing

SHARE :


Rekomendasi

FALLBACK
The END