Mengapa Saya Memilih Tulisan Perjalanan Naratif

Windy Ariestanty • February 17, 2015

@windyariestanty adalah penulis buku Life Traveler dan salah satu ikon inspiratif 2015 Hard Rock FM Bali untuk bidang traveling & writing

raja-ampat

Alam adalah ruang belajar. Salah satu peserta penulisan kreatif membaca buku sambil menikmati sunset di tepian pantai Pulau Misool, Raja Ampat. Foto oleh Windy Ariestanty

Pada awal-awal saya belajar menulis kisah perjalanan, saya pernah bertanya kepada seorang penulis perjalanan yang karyanya kerap dimuat di media-media.

‘Apa hal paling penting ketika membuat tulisan perjalanan?’ Ia menjawab, ‘Tulisanmu harus bikin pembaca ingin pergi ke tempat tersebut.’

Saya tercekat. Itu pekerjaan berat. Saya pun bertanya mengapa.

‘Karena kita sedang menuliskan tempat. Ini berbeda dengan menulis novel atau cerita,’ sahutnya.

Saya tak lagi bertanya karena kepala saya keburu dipadati banyak pikiran tentang bagaimana membuat orang ingin pergi ke tempat yang saya ceritakan.

Berbulan-bulan lamanya saya bergumul dengan beragam tulisan perjalanan. Mencoba menemukan tulisan bagaimana yang membuat saya sampai ingin pergi ke suatu tempat. Nihil.

Saya menemukan kenyataan, bukan tulisan-tulisan itu yang membuat saya ingin pergi, melainkan foto-foto yang terpampang.

Sampai suatu ketika saya secara tidak sengaja membaca tulisan berjudul Travels in Georgia karya John McPhee.

Tulisan McPhee tidak membuat saya serta merta ingin ke Georgia, AS. Sebaliknya, saya terperangkap di dalam kisah petualangan penulis bersama dua orang ahli biologi dan ekologi—Carol Ruckdeschel dan Sam—mengelilingi Georgia untuk memunguti bangkai hewan-hewan yang mati tertabrak di jalanan. Sampai hari ini, tulisan itu masih menancap di benak saya.

Saya dibawa memasuki hutan-hutan pinus di negara bagian Georgia lewat peristiwa ditemukannya kura-kura sekarat di tepi jalan. Setelah Carol meminta seorang sheriff menembak mati kura-kura itu, perempuan berusia dua puluhan itu—masih di tepi jalan—mengiris-iris kura-kura yang diperkirakannya berusia sepuluh tahun, memisahkan daging dari cangkang dan mengambil telurnya.

‘Oh, menyedihkan. Kau hendak melakukan tugasmu, kan, Nak?’ kata Carol kepada kura-kura mati. ‘Itu kenapa kau naik ke darat. Kau hendak menguburkan telur-telur ini di tempat yang kau tahu aman…..’

Dengan pisau yang digunakannya untuk mengiris kura-kura, Carol menguburkan telur-telur ke pasir. Lebih banyak dan lebih cepat daripada yang ibu kura-kura itu bisa lakukan seandainya ia masih hidup.

Carol memisahkan daging untuk mereka makan lalu memasukkannya ke karung plastik. ‘Baiklah. Ini adalah anugerah yang kita dapatkan dari atas,’ ujar Carol, ‘sekarang, mari kita kembalikan ia ke tempat asalnya.’ Ia membuang bagian yang tidak bisa dimakan–cangkang, cakar, leher—ke kolam tempat kura-kura itu.

Pembaca yang awalnya belum diberi tahu apa profesi Carol Ruckdeschel akan merasa bersimpati kepada kura-kura malang itu. Padahal, tindakan yang dilakukan Carol adalah upaya menyelamatkan. Seperti menanam dua atau tiga pohon untuk satu pohon yang ditebang. Peristiwa itu terjadi pada hari kedua McPhee mengikuti dua ahli biologi dan ekologi ini. Ia memilih peristiwa ‘kura-kura’ sebagai pembuka cerita yang mengantarkan pembaca memasuki petualangan ketiganya, mengenali hutan-hutan liar, wilayah-wilayah konservasi, dan hewan-hewan di negara bagian ini bersama Carol dan Sam.

Pada satu percakapan, McPhee menanyakan apa yang paling dirindukan perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktunya di hutan-hutan liar bersama hewan-hewan.

‘Sama seperti manusia lainnya, pada akhirnya aku merindukan pertemanan,’ jawab Carol.

Jawabannya inilah yang menjadi momen Aha! saya.

Saya seperti diingatkan bahwa pada dasarnya tulisan perjalanan selalu kembali kepada nilai-nilai universal dalam kehidupan. Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa membawa pembaca turut serta, merasakan, dan dengan sendirinya menjelma teman perjalanan yang baik bagi pembacanya.

Belakangan saya baru tahu bahwa Travels in Georgia adalah salah satu tulisan nonfiksi naratif terbaik yang pernah ada pada pertengahan abad 20.

McPhee sendiri disebut-sebut sebagai salah satu penulis nonfiksi naratif papan atas dunia. The Pine Barrens masuk ke ‘The 86 Greatest Travel Books of All Time’ pada kategori perjalanan naratif meskipun McPhee sendiri tak pernah melabeli dirinya sebagai penulis perjalanan.

Petter Hessler, salah satu penulis perjalanan berpengaruh mengakui karya-karya McPhee justru memperluas genre tulisan perjalanan. Kekuatan utama dari tulisan-tulisannya terletak pada struktur. Ia tak hanya memaparkan apa yang dilihat dan didapatkannya selama perjalanan, tetapi meramunya dengan alur yang memikat lewat struktur.

Tulisan McPhee tidak memaparkan sesuatu berdasarkan urutan waktu (kronologi), melainkan apa yang paling penting untuk disampaikan.

Dan itulah hal yang terpenting di dalam menulis naratif: menemukan apa yang ingin disampaikan.

***

‘If you want to write successful narrative, half the battle is knowing what you are looking for,’ kata Jack Hart di bukunya yang berjudul ‘Storycraft, The Complete Guide to Writing Narrative Nonfiction’, tetapi ia pun menambahkan bahwa untuk menuliskan kisah nonfiksi naratif yang bagus, maka menemukan struktur yang cocok dengan materi tulisan yang dimiliki adalah salah satu kuncinya.

Saya tidak akan membicarakan struktur dalam tulisan ini. Tapi, sedari awal saya memberi bocoran hal penting yang justru jarang disampaikan para penulis.

Mereka yang memilih menggeluti kisah-kisah nonfiksi bergaya naratif, cepat atau lambat akan berhadapan dengan persoalan struktur bila ingin menulis kisah yang baik.

McPhee lewat Travels in Georgia mengajak saya bertemu penulis-penulis perjalanan naratif lainnya. Saya berkenalan dengan Bill Bryson, V.S Naipaul, dan Susan Orlean. Masih ada sejumlah nama lain yang membuat saya berdecak. Kejelian mata mereka mencari cerita di balik perjalanan membuat saya tak hanya berjalan-jalan, tetapi juga kembali belajar menulis dan mendapatkan cara pandang baru.

Lewat tulisan-tulisan mereka, saya menyadari bahwa bahan dasar dalam tulisan perjalanan naratif bersifat universal dan tidak hitam-putih. Hal pertama yang dibutuhkan adalah ketajaman mata untuk mengenali mana yang berpotensi menjadi ‘cerita’ dari setiap kejadian atau realitas di perjalanan.

Satu ketika, saya membaca tulisan Susan Orlean tentang perjalanannya di Fez, salah satu kota di Maroko. Ketika banyak tulisan perjalanan di Maroko membicarakan pasar-pasar di kota tua yang terkesan magis dan eksotis, ‘Morroco’s Extraordinary Donkeys’ karya Susan Orlean justru membuat saya mengenal Fez lewat keledai, hewan pengantar utama di negara ini.

firenze

Perempuan penjual tas kulit di Pasar kulit Firenze sedang asyik membaca buku selagi menunggui dagangannya. Foto oleh Windy Ariestanty

Ia memulai ceritanya dengan sebuah pengakuan bahwa keledai yang tak mungkin ia lupakan berasal dari sudut-sudut medina (kota tua) Fez, yang punggungnya dibebani enam televisi berwarna. Mereka bertemu di sebuah persimpangan jalan yang selebar keset kamar mandi. Susan mengaku ia terpukau dengan binatang ini sejak pertemuan pertama mereka sepuluh tahun silam sebelum kedatangan keduanya ke Maroko.

‘Ketika kunjungan berakhir dan harus pulang, saya menyadari, saya sudah jatuh cinta kepada para keledai, kepada kelembutan sederhana di wajah mereka dan tindak tanduk yang penuh kepatuhan dan kesabaran, bahkan juga kebandelan mereka,’ tulis Susan.

Di Amerika, tulis Susan, wajah pesimis keledai digemari karena dianggap lucu. Sementara di Maroko, wajah pesimis keledai yang penuh kepatuhan itu sering berbarengan dengan kelelahan dan keputusasaan sebagai hewan pekerja.

Pada kunjungan keduanya, Susan menjelajah pasar-pasar keledai di Maroko. Ia menyeret saya ke Casablanca, Rabat, dan Fez untuk mencari tahu soal keledai yang merebut hatinya.

Ia menyambangi para pemilik, penjual, dan dokter hewan yang bertugas memeriksa hewan ini. Saya tertawa sewaktu ia mengira bahwa H’mar adalah nama populer untuk keledai di Maroko, sampai kemudian seorang pemiliki keledai memberi tahu bahwa di negeri itu, keledai tak diberi nama seperti anjing atau hewan piaraan lain.

H’mar adalah keledai dalam bahasa Arab. ‘Keledai hanya taksi,’ jelas lelaki itu.

Sebuah jawaban yang membuat Susan bertanya-tanya mengapa di Maroko, hewan berjasa ini tak diapresiasi. Petualangan saya menjelajah Maroko bersama Susan berlanjut. Berikutnya, ia mengajak saya mondar-mandir di lorong-lorong medina Fez untuk menemukan di mana hewan-hewan ini tinggal.

Di Fez, area urban terluas di dunia yang tak bisa dilewati mobil dan truk, keledai justru memadati lorong-lorongnya tanpa diketahui dari mana mereka berasal.

Selain turut merasakan hiruk-pikuk jual-beli keledai di Khemis-des Zemamra, pasar keledai terbesar di Maroko, pada akhir cerita saya pun bisa merasakan kekecewaan Susan.

Ia tak bisa membawa pulang seekor keledai cokelat mungil yang ditawarkan kepadanya seharga 1200 Dirham di pasar yang berjarak tempuh lima jam berkendara dari Fez.

***

Kebanyakan orang berpikir bahwa tulisan perjalanan naratif berkaitan dengan kemampuan mendeskripsikan tempat dan diksi. Tentu saja kedua hal itu penting. Namun, ada yang jauh lebih penting sebelum kita membicarakan soal deskripsi dan pilihan kata.

Menulis bukan soal membuat kalimat yang bagus atau sempurna. Ini soal memilih apa yang ingin kita sampaikan dan bagaimana menyampaikannya.

Pada Makassar International Writers Festival 2014 ketika saya mengisi workshop tulisan perjalanan naratif, seorang peserta bertanya apa hal yang harus mereka lakukan untuk bisa membuat tulisan perjalanan naratif.

‘Membaca lebih banyak, menulis lebih banyak, dan yang paling penting terus melakukan perjalanan,’ jawab saya.

Membaca lebih banyak adalah cara belajar yang efektif. Di kelas menulis untuk jenis tulisan apa pun, salah satu hal yang wajib dilakukan para peserta adalah membaca banyak karya penulis lain dan mencermati cara mereka menulis.

Saya suka membedah cara para penulis-penulis yang saya sebutkan namanya tadi dalam menyampaikan sudut pandang dan teknik-teknik menulis yang mereka gunakan. Setelah itu, saya berlatih menulis cerita-cerita yang saya temukan selama perjalanan. Belajar memasukkan data dan informasi berkenaan dengan tempat ke tulisan tanpa membuat tulisan tersebut menjadi Wikipedia.

Menulis-perjalanan

Sewaktu di Kampung Harapan Jaya, Pulau Misool, Raja Ampat, berbagi soal penulisan kreatif bersama teman-teman di sana. Foto oleh Dwi Aryo T

Konon, penulis yang baik adalah seorang pengamat yang baik. Dalam tulisan perjalanan naratif, pengamatan yang dilakukan penulis tak hanya eksternal, tetapi juga internal. Ia merumuskan pesan apa yang ingin disampaikan lewat tulisan perjalanannya lalu menata tahapan-tahapan yang membawa ia ke pemikiran tersebut dalam bentuk tulisan.

Dari para penulis tadilah saya belajar menulis kisah perjalanan yang saya mau. Sebuah tulisan yang mengajak pembaca menikmati dan turut dalam perjalanan yang melampaui letak geografis.

Bila pada akhirnya pembaca tergelitik untuk menyambangi tempat-tempat yang menjadi lokasi cerita, maka itu adalah dampak dari sebuah tulisan perjalanan yang baik, yang berhasil memikat hati dan melibatkan pembaca.

Menulis tak ubahnya perjalanan itu sendiri. Bahkan, pada setiap proses menulis kisah perjalanan naratif, seseorang melakukan dua perjalanan sekaligus dalam satu waktu;

–menjelajahi semesta dan mengeksplorasi kata-kata. [13]


Bingung membuat judul untuk tulisan di blogmu? Tonton ini



Tinggalkan Komentar



Artikel Terkait