facebook pixel

Jangan lagi Memetik Edelweis

Di tengah gencarnya gerakan untuk tak lagi memetik edelweis, masih saja ada orang-orang yang bangga memamerkan foto edelweis yang mereka petik di sosial media.


edelweis

“Keindahan sesungguhnya dari edelweis adalah saat tangkainya bergoyang tertiup angin gunung.” Foto oleh Satta Widjaja

Awal saya mengenal dunia pendakian, edelweis menjadi salah satu tujuan. Cerita tentang keindahannya membuat hati penasaran.

Pendakian pertama saya adalah Gunung Merbabu melewati jalur Thekelan. Saat itu saya tak berhasil menemukan setangkaipun edelweis.

Saya beruntung tak menemukannya saat itu, karena jika saya menemukannya pasti sudah saya petik beberapa bundel untuk saya bawa pulang. Sebuah kebodohan pendaki pemula.

Setelah beberapa kali pendakian dan memantau grup para pendaki di facebook, saya merasa tersentil.

Memetik edelweis adalah salah satu hal terbodoh yang dilakukan para pendaki.

Suatu saat keindahannya hanya menjadi mitos

‘Ini Nak, foto ayah dulu saat mendaki gunung ini, pemandangannya sangat bagus,’ si ayah membongkar album lama.

‘Wah, bunga-bunganya bagus Yah, aku mau lihat langsung,’ dengan mata berbinar si anak memohon pada ayahnya. 

‘Maaf Nak, bunga ini sudah tidak ada, sudah lama punah,’ si Ayah menjelaskan dengan nada menyesal.

‘Ah Ayah bohong, jangan-jangan bunga-bunga di foto itu cuma editan?’ si Anak merajuk.

Sebuah dialog yang mungkin saja terjadi di masa depan jika kebodohan memetik edelweis terus berlanjut.

Bunga edelweis kini termasuk bunga yang dilindungi karena populasinya yang semakin menurun.

Saat mendaki Gunung Sumbing pada 2008 lalu bersama seorang kawan, saya dengan mudah menemukan rimbunan edelweis. Berdaun panjang, tipis dan berbulu lebat. Bagian tengahnya berwarna oranye dengan kepala bunganya menyerupai aster.

Memandang rimbunan edelweis di ketinggian seperti itu, ditemani sejuknya angin gunung cukup menenangkan hati.

Kawan saya tersebut kembali mendaki Gunung Sumbing beberapa minggu lalu. Sepulang dari sana dia bercerita, bunga edelweis di Sumbing tak serimbun dulu.

Bahkan saat turun gunung, dia memergoki 3 orang pendaki dengan slayer betuliskan salah satu universitas ternama di Indonesia membawa beberapa bundel bunga edelweis. Dia sempat menegur  dan berdebat dengan ketiga pendaki. Perdebatan mereka selesai setelah dilerai beberapa warga lokal yang kebetulan lewat.

Saya sedih mendengarnya. Mendengar kisah para “pecinta alam” yang tak lagi “mencintai alam”.

Bunga edelweis hanya dapat tumbuh di dataran tinggi. Hanya sedikit orang yang dapat membudidayakannya. Jika terus menerus dipetik, bukan tak mungkin dia akan benar-benar punah.

Beruntung, saat saya ke Dataran Tinggi Dieng bulan lalu, ternyata sudah banyak petani lokal yang membudidayakan bunga edelweis ini. Mereka menanamnya pada ketinggian 1000 mdpl di tanah liat berkapur. Para petani ini sehari-hari hanya tinggal dikampung dan bertani.

Para petani ini sehari-hari hanya tinggal dikampung dan bertani.Namun “orang-orang kampung” ini lebih tahu cara menjaga kelestarian alam dibanding sekelompok “orang kota” yang mengaku berpendidikan.

Demi mitos cinta abadi

Dulu, saat akan mendaki, tak jarang saya mendapat titipan dari beberapa teman untuk membawakan beberapa tangkai bunga edelweis.

Mereka ingin memberikannya pada pacar mereka sebagai simbol cinta abadi. Sebuah tingkah laku “alay” yang telah menjamur. Bagaimana mungkin, sebuah tindakan merusak alam dikaitkan dengan kata “cinta”.

Di sebuah grup facebook para pendaki, saya menemukan sebuah foto dengan caption “Ini edelweisku, mana edelweismu?”. Si pemilik foto, mengenakan jaket merah dengan ikat kepala hitam, mengacungkan bundel bunga edelweis ke arah kamera sembari tersenyum bangga.

Foto tersebut memancing banyak respon – yang semuanya negatif. Sebagian besar menegur, sebagian kecil memaki si pemilik foto.

Hal yang mengherankan adalah, si pemilik foto membela diri dengan berkata ‘Ini simbol perjuangan, tak mudah mendapatkan bunga ini. Cinta abadi hanya bisa didapatkan dengan perjuangan dan pengorbanan besar. Itulah makna bunga edelweis sesungguhnya.’

Mungkin si pemilik foto tak paham “makna sesungguhnya bunga edelweis” bagi keseimbangan alam.

Bunga edelweis termasuk tumbuhan pioner atau pelopor pada tanah vulkanik muda. Dia berfungsi “menghutankan” tanah pegunungan. Selain itu, bunga edelweis memiliki kemampuan menahan hempasan air hujan sehingga berguna mencegah erosi di lereng gunung.

Meski kita hanya memetik bunganya tanpa mencabut tangkainya, hal tersebut akan mengganggu proses penyebaran serbuk sari di edelweis.

Edelweis, nasibmu kini

Dua tahun lalu, saya berkunjung ke Bromo. Disana banyak warga lokal menjual bunga edelweis. Saya tak bisa menyalahkan mereka, himpitan ekonomi menjadi alasan. Saya yakin, jika ada hal lain yang dapat dilakukan, mereka lebih memilih tak memetik edelweis.

Hal yang saya sesalkan adalah, kurangnya permberdayaan oleh pihak berwenang disana. Warga lokal di sekitar tempat wisata justru banyak yang hidup kekurangan sehingga terpaksa melakukan hal-hal merugikan alam – seperti memetik edelweis untuk bertahan hidup.

Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, terdapat ladang edelweis dengan luas berkali-kali lipat sebuah lapangan sepakbola. Larangan memetiknya terpampang jelas. Seorang murid taman kanak-kanak pun dapat membacanya, apalagi para pendaki dengan pendidikan tinggi. Sayang, hati dan pikiran terkadang tak sinkron. Banyak oknum pendaki diam-diam tetap memetiknya dan menyembunyikannya dalam tas sehingga tak ketahuan petugas.

Seorang kawan saya yang hobi mendaki pernah memamerkan beberapa tangkai edelweis ke hadapan saya. Saya tanya apa alasannya memetik bunga tersebut. Lagi-lagi sebuah alasan tak masuk akal yang keluar.

‘Saya petik agar orang-orang kota tahu keindahan edelweis yang sebenarnya,’ katanya dengan  mantap.

‘Jika kamu ingin menunjukannya pada orang kota, bawalah orang-orang kota itu ke gunung, bukan bawa bunga itu ke kota, kau salah,’ jawabku cepat.

Keindahan bunga edelweis yang sebenarnya adalah saat tangkainya bergoyang tertiup angin gunung, bukan di dalam vas bunga.

Biarkan edelweis bermekaran di alamnya, jangan usik mereka. Tepati janji kita sebagai pecinta alam.

Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan bunuh apapun kecuali waktu.

banner experience