Sidebar

Etika Foto Selfie dan Upaya Menjadi Populer dengan Tetap Merawat Lingkungan

Tetap menjadi populer, kekinian namun juga bertanggung jawab ketika foto selfie di wisata alam dan destinasi viral, kenapa tidak?

SHARE :

Ditulis Oleh: Himas Nur

Foto selfie sudah jamak dan merupakan sesuatu yang lumrah dilakukan oleh tiap manusia digital masa kini.

Mengabadikan momen berlatar destinasi dimana kita berada plus memajang potret diri di dalamnya sudah menjadi pemandangan yang biasa kita lihat di linimasa.

Baca Juga: Sky Garden Bandung, Surga Dunia untuk Pencinta Selfie Berlatar Bunga-Bunga Artsy

Perkembangan dunia digital dan era media sosial berperan penting dalam tren selfie atau swafoto di kekinian. Contoh yang paling nyata ialah Instagram.

Watak Instagram yang berorientasi visual membuat engagement (jumlah interaksi terhadap sebuah akun lebih besar) dibandingkan media sosial lain.

Instagram memang memudahkan para traveler menemukan destinasi wisata. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur yang memungkinkan pengguna mengambil dan membagikan baik foto maupun video.

Tak hanya itu, mereka juga bisa mencantumkan lokasi di mana gambar tersebut diambil (geotagging). Namun tahukah Anda bahwa tren ini bak pisau bermata dua?

Menjadi populer dan merusak lingkungan

hamparan bunga matahari di Toronto yang sempat viral (Foto/assafphotography)

Kebun bunga matahari Bogle Seeds Farm di Toronto dikabarkan tutup untuk selamanya pada Selasa (31/7/2018) lalu. The Globe and Mail mengabarkan bahwa gelombang wisatawan yang datang untuk berswafoto setelah kebun bunga matahari tersebut viral di Instagram kian membuncah.

Besarnya jumlah wisatawan menimbulkan persoalan, mulai dari masuknya pengunjung ke ladang tanpa izin hingga kecelakaan kecil antar-kendaraan turis.

Keluarga Bogle juga khawatir wisatawan akan menyakiti bunga matahari yang termasuk tanaman sensitif. Akhirnya, mereka memilih menutup Bogle Seeds Farm dari wisatawan yang ingin berfoto di kebun bunga matahari.

Tak hanya luar negeri, beberapa kebun dan destinasi wisata alam yang ada di Indonesia juga mengalami hal serupa.

Pada November 2015, Dilaporkan bahwa selama seminggu, kebun bunga amarilis di Kecamatan Patuk, Gunungkidul didatangi oleh ribuan wisatawan yang ingin melihat-lihat dan berswafoto. Akibatnya, bunga amarilis milik pasangan Sukadi dan Wartini rusak terinjak-injak.

Sebulan kemudian, Liputan6 mengabarkan kerusakan serupa. Sekitar empat sampai lima lajur tanaman Kebun Raya Baturraden dengan lebar 30-40 cm dan kedalaman 2,5 meter rusak akibat ulah para pengunjung. Mereka berswafoto di hamparan bunga (flower bed) jenis Miana Daun Merah meski papan peringatan telah dipasang.

Foto Selfie dengan bertanggung jawab

mulai perhatikan lingkungan juga saat liburan di wisata alam (Foto/Gedangsari)

Pengalaman berbagi foto dan video yang ditawarkan Instagram sebenarnya bisa mendatangkan manfaat bagi lingkungan.

“Tak hanya membentuk komunitas di mana orang saling terhubung dan membagikan momen dalam hidupnya, hal itu juga dapat digunakan untuk menyoroti isu sosial dan lingkungan yang penting,” ungkap Carrie Miller, penulis National Geographic asal New Zealand.

Namun kesempatan ini tentu mesti diimbangi dengan laku wisatawan ketika mengunjungi suatu objek wisata, bahkan tak hanya oleh wisatawan semata.

Pendiri dan pemimpin redaksi Modern Hikers Casey Schreiner menilai solusi menghentikan degradasi lingkungan akibat aktivitas para pengguna Instagram harus melibatkan semua pihak.

Dikabarkan oleh situs Outside Online, Caseymengungkapkan  jembatan penghubung antara pengurus tempat wisata, agensi perjalanan, kelompok pecinta alam, dan para turis mesti dibangun untuk meminimalisasi kerugian.

Tak hanya itu, kelompok pecinta alam, agensi perjalanan, dan pengelola tempat wisata mesti menyosialisasikan etika memotret bagi pengunjung secara konsisten.

Baca Juga: Foto Selfie, Pria Terjatuh dari Atas Air Terjun Setinggi 15 Meter

Chris Burkard, seorang fotografer yang sempat diwawancarai National Geographic mengungkapkan bahwa persoalan semacam ini tak bisa diselesaikan dengan cara menghentikan kegiatan pelesir seseorang.

“Jawabannya bukan menyetop aktivitas travelling tapi jalan-jalanlah dengan bertanggung jawab. Cobalah pergi ke suatu tempat bukan untuk pamer dan bagilah pengalaman Anda, alih-alih berusaha meniru orang lain.”

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Waspadai Budaya Selfie Saat Traveling, 259 Tewas dalam 6 Tahun

Swafoto Ternyata Bisa Berbahaya Jika Anda Tidak Berhati-hati, Berikut Serba-serbinya!

Lucu! Inilah Potret Super Menggemaskan Saat Hewan Sedang Selfie

Catat! Jangan Lakukan Hal Ini Saat Foto Selfie dengan Smartphone

Demi Selfie, Pria Ini Nekat Langgar Aturan di Kawasan Candi Borobudur

Dikira Karya Seni, Kacamata yang Tertinggal Ini Dikerubuti Pengunjung Galeri Seni

FALLBACK
The END