Waspadai Budaya Selfie Saat Traveling, 259 Tewas dalam 6 Tahun

Telah banyak orang yang rela mengindahkan keamanan demi kenyamanan visual para followernya, mari lebih cerdas dalam melakukan budaya selfie saat traveling

SHARE :

Ditulis Oleh: Himas Nur

Budaya selfie saat traveling telah jamak dilakukan oleh para traveler yang tengah berlibur dan menikmati suatu pemandangan di destinasi wisata yang sedang dikunjungi.

Menjadi terkenal dan fenomenal menjelma sebuah keniscayaan di zaman yang serba digital. Berbagai cara ditempuh, termasuk dengan budaya selfie saat traveling, terlebih bila foto-foto yang dihasilkan merupakan foto ekstrem.

Baca Juga: Mayoritas Generasi Milenial Tak Pernah Benar-benar Menikmati Liburannya, Mengapa?

Foto selfie ekstrem ini bisa berarti foto yang membahayakan, tak hanya kepada diri sendiri namun juga alam dan lingkungan sekitar. Telah banyak orang yang rela mengindahkan keamanan demi kenyamanan visual para followernya.

Foto selfie ekstrem seringkali dilakukan demi mendapatkan feed instagram yang sensasional dan mendulang double tap yang menjanjikan. Namun bukankah hal tersebut ialah semu semata?

Bahaya budaya selfie saat traveling yang berlebihan

Penuh gaya, seorang pengunjung berfoto dan bersandar pada batang pohon yang rawan (Foto oleh Himas Nur)

Berdasarkan data yang dikumpulkan sejak Oktober 2011 hingga November 2017, terdapat 259 kematian akibat selfie. Banyak penyebab kematian karena selfie yang terjadi, mulai dari tenggelam, tertabrak kendaraan hingga jatuh dari tebing tinggi.

Mayoritas korban datang dari kaum laki-laki dengan persentase sebesar 72,5 persen, sedangkan wanita sebanyak 27,5 persen.

Dalam laporan yang diterbitkan di Journal of Family Medicine and Primary Care, para peneliti memang mengakui kekuatan selfie sebagai wadah untuk mengekspresikan diri. Sayangnya tak sedikit orang yang melakukannya secara berlebihan sehingga membahayakan diri mereka sendiri.

“Selfie sendiri bukanlah hal yang membahayakan, namun perilaku manusialah yang membuat selfie menjadi hal yang berbahaya. Setiap orang harus dididik mengenai perilaku berisiko dan tempat-tempat berisiko yang tidak diperbolehkan untuk mengambil selfie,” kata Dr. Agam Bansal, salah satu peneliti yang menulis di jurnal tersebut.

Milenial korban terbanyak

budaya swafoto yang membahayakan diri sendiri (Foto/Reuters)

Berdasar data dari dr. Bansal, hampir setengah dari seluruh angka kematian akibat selfie, terjadi pada kelompok usia 20 hingga 29 tahun, kemudian diikuti oleh kelompok usia 10 hingga 19 tahun.

Angka tertinggi datang dari India, terutama di negara bagian Goa yang menjadi tempat pertama yang membuat zona terlarang untuk selfie pada bulan Juni lalu. Setelah India, beberapa negara lainnya adalah Rusia, Amerika Serikat, dan Pakistan.

Baca Juga: Kami Bertanya Kepada Turis Mengapa Mereka Rela Foto Ekstrem, Ini Jawabannya

Mayoritas peristiwa kematian akibat selfie meliputi, tenggelam dengan 70 peristiwa, 51 peristiwa kecelakaan transportasi, 48 persitiwa jatuh dari ketinggian, dan kebakaran sebanyak 48 peristiwa.

Sementara 8 delapan lainnya melibatkan kematian pada binatang, 16 peristiwa terjadi akibat kesetrum listrik, dan 11 sisanya akibat senjata api.

Menjadi percaya diri dan kreatif dalam menghasilkan foto-foto kekinian tentu patut diacungi jempol. Namun bila proses yang dilalui mesti membahayakan diri sendiri, bahkan bila sampai membahayakan orang lain dan lingkungan sekitar, apakah hal tersebut masih dapat diwajarkan saja?

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU