Sidebar

Ingatan akan Dingin Dieng dan Alunan Musisi DCF yang Selalu Terkenang

Dieng Culture Festival (DCF) 2018 telah usai, namun kenangan akan dingin Dieng dan kisah selama berada di kawasan wisata Dieng tak akan pernah usang.

SHARE :

Ditulis Oleh: Himas Nur

Dieng Culture Festival (DCF) 2018 telah usai, namun kenangan akan dingin Dieng dan kisah selama berada di kawasan wisata Dieng tak akan pernah usang.

Tak hanya embun es yang menjadi primadona, namun menikmati alunan musisi dari penampil DCF ditengah suhu minus derajat celcius menjadi pengalaman tersendiri yang berkesan bagi para wisatawan dan pengunjung.

Baca Juga: Jazz Atas Awan Berlangsung Meriah Meski Suhu Dieng Minus 1 Derajat Celcius

Pengunjung DCF 2018. (Foto/Himas Nur)

Malam pertama serangkaian acara DCF dibuka dengan Jazz Atas Awan. Beragam musisi indie lokal turut menghangatkan suhu Dieng yang tercatat mencapai minus 1 derajat celcius.

Penampil tersebut tersebar dari berbagai kota seperti Jogja, Bandung, dan Surabaya, yakni 5 Petani, Garhana, Every Day, Wedding Jahe, Longing in Depth, dan Best Friend Project.

Penampialan 5 Petani di DCF 2018. (Foto/Himas Nur)

Jazz Atas Awan ditutup dengan hangat oleh penampilan Gugun, Fajar, dan Bowie dalam Gugun Blues Shelter. Meski sempat terkendala akibat genset membeku dan jadwal molor selama lebih dari 1 jam, malam pertama gelaran DCF tetap membekas di ingatan dan hati pengunjung.

Kemeriahan malam DCF sampai pada puncaknya pada hari kedua gelaran DCF, Sabtu (4/8/2018). Seperti malam sebelumnya, beragam musisi lokal tampil sebagai pembuka. Tampak pengunjung dan warga lokal memadati kawasan Candi Arjuna pada Sabtu malam kemarin.

Gugun Blues Shelter jadi penutup malam pertama DCF 2018. (Foto/Himas Nur)

Malam kian hangat ketika Hiroaki Kato, musisi asal Jepang, tampil memukau dengan lagu-lagu berbahasa indonesia ciptaannya.

DCF selalu menghadirkan kejutan. Setelah Hiroaki Kato, Band Letto kemudian naik ke atas panggung. Band yang digawangi oleh anak Emha Ainun Nadjib, Noe Letto, tampil menghipnotis pengunjung DCF

Band Letto saat berkolaborasi dengan Hiroaki Kato. (Foto/Himas Nur)

Membawakan lagu-lagu lawas di era 2000-an, Letto mampu menghanyutkan massa dan mengajak para pengunjung untuk turut berdendang bersama.

Sebelum Cahaya mengakhiri penampilan Band Letto di atas panggung dan membuka puncak acara yang telah dinanti-nanti para pengunjung, ya, Pesta Lampion.

Tampak para pengunjung bersukacita menangkap momen pesta lampion pada gelaran DCF tahun ini, baik melalui lensa kamera maupun melalui ingatan dan canda tawa bersama pasangan maupun kawan-kawan.

Pengunjung yang mengabadikan momen DCF. (Foto/Himas Nur)

DCF tahun ini kembali membuat kejutan. Pengunjung DCF berpikir bahwa pesta lampion ialah puncak dari malam yang hangat namun dingin ini.

The Rain, Band yang identik dengan lagu melankolis nan romantis, tiba-tiba naik ke atas panggung dan membuat penonton riuh rendah segera merapat ke depan panggung.

Pesta lampion DCF. (Foto/Himas Nur)

Baca Juga: Band Letto Sukses Kejutkan Peserta Pesta Lampion Dieng Culture Festival 2018

Malam kian pekat, suasana tambah hangat dan Dieng larut dalam balada patah hati ketika tembang Terlatih Patah Hati menutup seluruh keindahan pada malam puncak gelaran Dieng Culture Festival 2018.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Penginapan di Dieng, Alternatif Akomodasi Selama Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival 2019 Diprediksi Berselimut Salju

Dieng Culture Festival 2019, Satu Dekade Perayaan Budaya Terbesar

Homestay Dieng Murah yang Bisa Anda Pesan untuk Habiskan Liburan

Syarat Jadikan Rumah Penduduk sebagai Homestay di Dieng Ternyata Ribet

Kata Orang Dieng tentang Fenomena Embun Upas yang Mirip Salju di Daratan Eropa

FALLBACK
The END