Candi Ratu Boko Jogja, Istana Raja Raksasa Bengis Pemakan Manusia

Candi Ratu Boko Jogja adalah situs arkeologi peninggalan Wangsa Sailendra dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8 Masehi.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Candi Ratu Boko Jogja adalah situs arkeologi peninggalan Wangsa Sailendra dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8 M. Lokasinya terletak 8 Km di sebelah selatan Candi Prambanan serta 18 Km di sebelah timur pusat Jogja. Berbeda dengan situs arkeologi dari peradaban Jawa Kuno yang berbentuk bangunan keagamaaan, Candi Ratu Boko dahulunya diduga adalah keraton.

Pendapat ini diperkuat dengan kenyataan bahwa situs ini bukan termasuk candi dengan unsur religius, dan dilengkapi pintu gerbang masuk, tempat tinggal, pendopo, kolam pemandian, hingga pagar pelindung. Adanya parit kering serta dinding benteng menunjukkan struktur pertahanan. Sisa-sisa pemukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs Ratu Boko.

Baca juga: Candi Plaosan, Bukti Cinta Beda Agama di Masa Lalu

Raksasa Pemakan Manusia

Nama “Ratu Boko” pada candi ini diambil dari kisah legenda masyarakat di sekitar terkait Prabu Boko yang merupakan ayah dari putri Roro Jonggrang. Dikisahkan, Prbu Boko adalah sosok raksasa pemakan manusia. Setiap hari para prajuritnya diutus untuk mencari manusia sebagai santapan. Jika sang prajurit gagal maka gantinya ia yang akan dilahap oleh Prabu Boko.

Kompleks Candi Ratu Boko, istana raksasa pemakan manusia (visitingjogja.com).

Teror tersebut membuat banyak penduduk yang merasa sangat ketakutan dan mencari perlindungan ke kerajaan tetangga yang penguasanya murah hati. Raja mengutus putranya yaitu Bandung Bondowoso untuk membunuh Prabu Boko yang kejam. Pertempuran sengit berlangsung selama sepuluh hari, dan akhirnya Prabu Boko pun kalah di tangan Bandung Bondowoso.

Kematian Prabu Boko membawa kedamaian bagi rakyatnya. Tak disangka, Bandung Bondowoso justru jatuh cinta dengan putri sang raksasa yang ia bunuh, Roro Jonggrang. Saat melamar, Roro Jonggrang tak berani menolak, oleh karena itu diajukan syarat yang tidak mungkin dapat dipenuhi, yaitu meminta Bandung Bondowoso membangun 1.000 candi dalam semalam.

Baca Juga: Benarkah Candi Prambanan Dibangun Semalam?

Roro Jonggrang jelas tidak ingin menikah dengan orang yang membunuh ayahnya. Roro Jonggrang terkejut, dengan bantuan kekuatan ghib, ternyata Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan pekerjaannya membangun 1.000 candi hanya dalam semalam. Khawatir, Roro Jonggrang menyuruh dayangnya memukul lesung dan membakar jerami agar seolah sudah pagi.

Para jin yang membantu Bandung Bondowoso ketakutan kemudian kabur. Sebanyak 999 candi telah diselesaikan. Bandung Bondowoso yang marah besar karena ditipu mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung batu untuk melengkapi candi ke-1.000. Sosok Roro Jonggrang yang dikutuk merujuk pada arca Durga Mahisasuramardhini di kompleks situs Candi Prambanan.

Kisah legenda ini tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena tak memiliki bukti ilmiah yang menguatkan. Legenda ini merupakan cerita rakyat yang tersebar melalui mulut ke mulut. Dalam sejarah panjang dari Kerajaan Mataram Kuno, tidak ditemukan penguasa yang bernama Prabu Boko, Bandung Bondowoso, maupun Roro Jonggrang seperti dalam legenda.

Baca juga: Candi Terbesar di Dunia Pernah Runtuh dan Terbengkalai

Arca Durga Mahishasuramardini yang dipercaya sebagai Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi batu arca (Leiden University – twitter/potretlawas).

Candi Ratu Boko Istana?

Konpleks Candi Ratu Boko Jogja sangat luas, diawali gapura tiga pintu, dan kolam luas berpagar keliling di belakangnya. Struktur yang sangat berbeda dari candi umumnya membuat pendapat bahwa Candi Ratu Boko dahulu merupakan istana semakin kuat. Meskipun demikian banyak juga yang tak sependapat dan menganggap situs ini sebagai tempat peribadatan agama.

J.L.A Brandes seorang filolog asal Belanda menyebut bahwa situs Ratu Boko adalah gua pertapaan yang luas serta kuil yang berkaitan. N.J. Krom tidak sependapat, menurutnya gua-gua tersebut terlalu sempit untuk disebut gua biara. Namun ia juga mengatakan bahwa sebagian besar memang dipakai untuk tempat ibadah, seperti pendapat W.F. Stutterheim, arkeolog Belanda.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU