Ini Bocah-bocah Indonesia yang Petualangannya Menginspirasi Banyak Orang

Mereka mungkin masih tergolong sangat muda, namun apa yang mereka lakukan sanggup menginspirasi banyak orang, termasuk para orang dewasa.

SHARE :

Ditulis Oleh: Rani Suryatama

Tiap tanggal 20 November, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkannya sebagai Hari Anak Universal. Perayaan ini bertujuan menghormati hak-hak anak di seluruh dunia.

Semua pihak didesak berperan aktif menciptakan lingkungan yang ramah bagi anak. 

Pada perayaan Hari Anak Sedunia pada 2017 ini, United Nations Children’s Fund (Unicef), mengundang anak-anak dari seluruh dunia untuk mengambil alih peran penting di semua lini, seperti media, politik, bisnis, hingga olahraga. 

Di dunia adventure dalam negeri, ada beberapa anak yang sanggup menginspirasi banyak orang di usia mereka yang masih sangat muda. Kami ulas beberapa:

Matthew Tandioputra, pendaki berusia 11 tahun yang sukses selesaikan pendakian ‘7 Summits’ Indonesia

Matthew, pendaki cilik inspiratif. Foto dari instagram Matthew.

Matthew Tandioputra adalah salah satu pendaki cilik Indonesia yang punya kecintaan dan semangat luar biasa di dunia pendakian. Ia sukses menggapai tujuh puncak nusantara bahkan ikut aktif dalam salah satu film dokumenter bertema pendakian, Negeri Dongeng dari Aksa 7.

“Awal umur 4, kami suka ikutan camping cantik. Tahun 2013 Matt mulai kenal dunia lari. Awalnya sih lari road biasa, tapi Maret 2014 dia mulai diajak lari trail,” cerita Joel Tandionugroho , ayah Matthew.

Claudia, ibu Matthew juga bercerita hal serupa. Sebelum terjun ke dunia pendakian Matthew pernah melihat ayahnya mendapatkan sebuah medali dari ajang lomba lari marathon. Dari sana Matt ternyata ikut lari juga karena ingin mendapat medali, sampai akhirnya ikut dalam salah satu komunitas lari dan kenal dengan banyak pelari gunung (trail run).

Matthew juga sempat menceritakan hal serupa tentang awal mula dirinya jatuh hati pada gunung,

“Pertama kali mendaki gunung diajakin papa, tapi awalnya dari lari. Pas udah diajak papa naik gunung ya senang aja,” cerita Matthew. 

Puncak gunung pertama untuk Matthew bersama keluarganya adalah di Burangrang. Dari sanalah dia mulai senang lari di alam, dan melanjutkan lari ke beberapa gunung misalnya Tangkuban Parahu dan Papandayan. Saat liburan sekolah 2014 Matthew diajak orang tuanya untuk mendaki ke 7 gunung di sekitar Bandung. Semua dilakukan dengan sistem trail run dan tek tok. 

Rasa penasaran Matthew yang tinggi tentang gunung-gunung di Bandung membawanya ke dalam ekspedisi “7 Summits of Bandung” dengan dibantu informasi dari dunia maya dan teman-teman pelari dari Bandung Explorer. 

Alasan lain yang membuat orang tuanya semakin semangat mengajak Matthew mendaki adalah sebagai sarana untuk terapi juga. Matthew ternyata sempat didiagnosa “kelebihan energi” yang membuatnya sulit konsentrasi. Terapi yang harus dilakoninya adalah pergi ke alam terbuka, meniti pematang, tali dan berjalan di jalan yang rata. Dan mendaki gunung justru membuatnya lebih cepat selesai dari terapinya. 

Mendaki atap negeri bagi seorang bocah 11 tahun pasti butuh banyak dukungan dari orang tua. Beruntung, Matthew ternyata mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Bahkan tak hanya ayah, ibu dan adiknya pun sering kali menemani Matthew untuk mendaki.

“Waktu masih 7 Summits of Bandung dan 7 Summits of Java beberapa gunung saya dan Dave (adiknya) ikut mendaki. Lawu dan Ceremai Adeknya pun sampe puncak, Sumbing kami cuma sampai Watu Kotak,” ungkap Claudia, ibu Matthew.
Bisa dibilang keluarga Matthew memang keluarga pendaki. Sejak ayah dan ibunya masih kuliah di Salatiga, mereka sering mendaki gunung untuk menghilangkan kebosanan. Makanya, tak heran kalau hobi itu menurun pada Matthew dan juga Dave yang saat itu masih berusia 6 tahun. Tapi Joel dan Claudia tak pernah memaksakan keinginan mereka pada Matt dan Dave. Semua kesenangan mendaki gunung dan ekspedisi yang dilakoni Matthew berasal dari keinginannya sendiri.

Hampir di semua gunung yang didaki Matt, keluarganya selalu mendampingi.

“Kecuali ke Cartenz ya, karena nggak bisa dipastikan berapa kami bakal naik. Di Timika itu nggak ada apa-apa, cuma bisa di hotel. Dan ancaman malaria endemiknya juga tinggi, makanya Mama dan Dede (Dave) nggak ikut,” ujar Joel.

Matthew sendiri punya kondisi khusus di mana dirinya lebih suka mendaki bersama ayah atau keluarga fullnya.

“Kalau lagi mendaki panjang, aku lebih seneng sama keluarga. Tapi kalau mendakinya lagi race ya enaknya sama papa aja,” ujar Matthew.

Yang jelas Matt selalu punya semangat tinggi dalam hal mendaki gunung!

Perjuangan Khansa Syahlaa, gadis termuda di dunia yang gapai Puncak Cartenz

Khansa Syahlaa berpelukan dengan ayahnya.

Khansa merupakan pendaki termuda yang pertama kali menjajakkan kaki di Puncak Cartenz. Hal ini langsung diungkapkan oleh pemandu gunung Patonia Outdoor Service, Fandhi Achmad yang juga menemani perjalanan Khansa Syahlaa saat itu. 

Beberapa pendaki muda lain yang juga pernah menggapai Puncak cartenz di antaranya Jordan Romero asal Amerika diusia 12 tahun. Ada juga Matthew Tandioputra yang saat itu berumur 11 tahun 4 bulan 17 hari, George Atkison asal Inggris dengan usia 14 tahun. 

Khansa Syahlaa berhasil mencapai Puncak Cartenz tepat pada 15 Juli 2017 pukul 16:00 WIB berusia 11 tahun 4 bulan 3 hari. Kalau dibandingkan dengan Matthew, usia keduanya cuma selisih 14 hari. 

Jangankan anak kecil seusia Khansa Syahlaa, bagi pendaki dewasa pun Puncak Cartenz begitu sulit untuk diraih.

Banyak rintangan yang harus dilewati Khansa Syhlaa, bahkan tidak jarang Khansa harus meneteskan air mata. 

Pendakian yang dilakukannya sejak tanggal 7 Juli sampai 17 Juli 2017 lalu membuatnya menjadi gadis tangguh yang tidak boleh disepelekan. Khansa Syahlaaharus menghadapi badai dan cuaca dingin yang ekstrem. Jalur pendakian yang tidak kalah mengerikan  juga membuat Khansa merasa takut. Beberapa kali dia terjatuh saat menapaki jalur pendakian. 

Rintangan lain yang dihadapinya misalnya jalur vertikal berupa tebing sepanjang kurang lebih 30 meter. Burma Bridge yang merupakan titian seutas tali untuk mencapai Puncak Cartenz juga menjadi rintangan tersendiri untuk Khansa yang masih berusia 11 tahun ini. 

Beberapa latihan fisik yang dilakoni Khansa Syahlaa misalnya ascending, naik-turun tebing pakai ascender, rappelling, masuk ke tebing-tebing, dan latihan pada ketinggian 4.000 meter.

Latihan yang dia lakoni tidak cukup sebatas itu. Khansa tidak pernah menyerah naik-turun tangga, lari mengelilingi kompleks rumah, dan latihan di pusat kebugaran. Lebih hebat lagi, Khansa pun beberapa kali bolak-balik dari camp ke puncak Gunung Merbabu.

Khansa berlatih dengan ketat sebanyak empat kali dalam seminggu. Didampingi sang ayah dan juga tim Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia.

Berat? Pasti sangat berat. Meski harus mengalami kelelahan dan sakit, tapi tekadnya tidak pernah padam. Pun, gadis manis ini tidak pernah mengeluh sama sekali.

Max, menjelajah 15 gunung di Indonesia saat masih berusia 3 tahun

Max si pendaki cilik.

Saat pertama kali dikenal masyarakat, Max masih berusia 3 tahun. Kaki kecilnya mungkin belum cukup kuat untuk memijak setiap tanjakan curam, tubuhnya mungkin belum terlalu kebal untuk menahan dingin, tapi bocah lelaki bernama Max tersebut selalu bersemangat untuk terus mencapai setiap puncak gunung  di Indonesia.

Nyoman Sakyarsih, ibunda Max telah mengenalkan alam pada Max semenjak ia masih belum tahu apa-apa. Masih menjadi bayi yang diam di gendongan, menangis karena lapar, dan tidur dengan nyenyak saat nyaman. Saat mungkin anak-anak lain telah mengenal gadget ‘sedini mungkin, Nyoman lebih memilih untuk mengenalkan alam sejak dini pada Max.

Mulanya ada beberapa pihak yang tak setuju dengan yang dilakukan Nyoman. Namun, kini hal tersebut mulai diterima oleh banyak orang, bahkan banjir pujian.

Max selalu menjadi primadona di tiap pendakian yang dilakukannya. Para pendaki terkadang berebut untuk bisa berfoto atau sekadar mendekati Max.

Sebanyak 15 gunung telah berhasil didaki Max sampai puncak, di antaranya Gunung Rinjani, Gunung Argopuro, dan beberapa bukit di kawasan Dieng, Jawa Tengah.

“Walaupun sampai usia 3 tahun dia belum dapat bicara, tapi kedewasaan dan ketabahannya jauh di atas rata-rata anak seusianya. Itu hanya bisa kulihat di lapangan, tidak di rumah, tidak di sekolah, ketika dia bisa bermanja-manja dengan semua orang di dekatnya,” Nyoman Sakyarsih.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU