Arab Saudi Turun Salju, Pertanda Kiamat Semakin Dekat?

18 Februari 2021 lalu di Pegunungan Tabuk terjadi fenomena aneh. Arab Saudi turun salju. Apakah ini adalah pertanda kiamat?

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Arab Saudi menjadi negara terbesar di kawasan Timur Tengah, dengan luas wilayah mencapai 2,24 juta km2, meliputi empat perlima dari Semenanjung Arab. Bentang alam di Arab Saudi didominasi oleh gurun pasir yang sangat panas dan kering. Namun, pada 18 Februari 2021 lalu di Pegunungan Tabuk terjadi fenomena aneh. Setelah suhu udara turun selama semalaman, Arab Saudi turun salju. Apakah ini adalah pertanda kiamat?

Melansir dari Arab News, warga di sekitar Pegunungan Tabuk, Arab Saudi dibuat takjub dengan pemandangan salju. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan kebahagiaan masyarakat Arab Saudi sedang bermain salju. Suhu udara yang biasanya panas menyengat kulit pun kini terasa sejuk dan dingin. Hamparan pasir digantikan oleh tumpukan salju.

Baca juga: Gurun Sahara Turun Salju Setelah Ratusan Tahun

https://twitter.com/Capss_ll/status/1362319120021266433?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1362319120021266433%7Ctwgr%5E%7Ctwcon%5Es1_&ref_url=https%3A%2F%2Finternasional.kontan.co.id%2Fnews%2Fdaerah-di-arab-saudi-ini-turun-salju-ada-yang-merayakan-ada-yang-iri

Bukan Kali Pertama

Beradasarkan posisi garis lintang dan garis bujur, Arab Saudi terletak di 15°LU–2° LS dan 34° BT–57° BT. Negara ini dilalui oleh garis khatulistiwa atau garis lintang 0° karena terdapat Lintang Utara dan Lintang Selatan. Melihat letak garis lintang dapat diketahui bahwa iklim matahari di Arab Saudi berupa Iklim Tropis dengan sebagian wilayahnya Iklim Subtropis. Tidak heran jika salju turun di wilayah utara Arab Saudi.

Arab Saudi selalu identik dengan gurun pasir yang panas, sehingga berita tentang turunnya salju menjadi sangat menghebohkan. Deputi Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo kepada CNNIndonesia.com menuturkan bahwa Arab Saudi tak berada tepat di garis ekuator, sehingga musim salju mungkin saja terjadi. Apalagi, Pegunungan Tabuk terletak di bagian utara.

Fenomena Arab Saudi turun salju sudah beberapa kali terjadi. November 2016, wilayah Turaif di wilayah perbatasan utara dilanda badai salju yang disertai kilat. Sebanyak empat orang dilaporkan tewas. Salju bahkan turun hingga ke kota suci Makkah dan Madinah. Wilayah Pegunungan Tabuk di tahun 2020 juga bersalju akibat perubahan posisi bumi terhadap matahari.

Baca juga: Maulid Nabi Diharamkan di Arab Saudi, Kenapa?

(ayobandung.com)

Akibat Perubahan Iklim

Walaupun salju memang mungkin dapat turun di Arab Saudi, namun tetap saja itu bukan termasuk hal yang wajar. Keseimbangan lingkungan alam di ekosistem gurun pasir dapat terganggu jika diguyur salju. Unta merupakan hewan gurun pasir yang tidak mampu bertahan di suhu dingin. Tumbuhan kaktus telah beradaptasi dengan udara panas, akan mati jika terlalu dingin.

Fenomena salju tersebut berkaitan erat dengan perubahan iklim hingga isu pemanasan global yang memicu perubahan cuaca menjadi ekstrim. Salju di Pegunungan Tabuk terjadi karena posisi matahari terletak di belahan bumi selatan. Sehingga, Pegunungan Tabuk yang berada di posisi 27oLU memang akan memasuki musim dingin, dan salju yang turun menjadi dampaknya.

Baca juga: 7 Tempat di Bumi yang Pernah Diazab Tuhan

Tak hanya Arab Saudi, Texas yang merupakan negara bagian dari Amerika Serikat yang biasa dengan suhu panas kini sedang dilanda oleh suhu dingin ekstrim. Sebanyak 8 juta warga Texas hingga Meksiko tidak mendapatkan pasokan listrik untuk kebutuhan rumah tangga. Bumi sudah tua, dan krisis iklim seolah dianggap angin lalu yang tidak mendapatkan perhatian serius. Tanpa upaya apapun, kepunahan manusia akan segera terwujud.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU