Travel writer dan fotografer, Mark Eveleigh, mengisahkan pengalamannya kala berkunjung ke pulau dengan sejuta pesona, Pulau Dewata Bali.
Pengalaman ini tergolong di luar nalar sebab saat itu ia bertemu dengan seorang perempuan tua Bali, kemudian disebut Nenek, yang namanya tak boleh diucapkan.
Menurut kepercayaan yang melekat di sana, mengucapkan nama asli sang Nenek bisa membawa Anda pada kematian.
Diketahui bahwa Para Dewata memiliki daftar nama orang-orang yang akan dipanggil ke kehidupan setelah kematian, dan mengucapkan nama asli Nenek berarti mengingatkan mereka akan sosok yang lupa mereka panggil.
Atau dengan kata lain, memanggil nama asli Nenek berarti memberi tahu para dewata bahwa mereka telah melupakan seseorang.
Entah darimana asal-usul mitos tersebut berkembang, namun masyarakat setempat mematuhi dan memercayai hal tersebut.
Mark Eveleigh menyatakan bahwa ia tak percaya dengan yang namanya takhayul, namun pengetahuannya perihal budaya dan adat istiadat Bali membuat ia sadar bahwa ia tidak akan terpikir untuk memanggil nama asli Nenek.
Mark juga menghormati terhadap apa yang menjadi kepercayaan masyarakat setempat, dan menganggapnya sebagai kekayaan kultur dan spiritual yang dimiliki Bali.
Mark kembali melanjutkan kisahnya, diketahui bahwa sang Nenek lahir di Bali pada masa kelahiran yang tak dicatatkan secara akurat, mungkin sekitar 80 tahun yang lalu.
Saat Indonesia merdeka pada 1945, Nenek mendapat kartu identitas, namun kartu itu sudah lama hilang, dan dia tidak terpikir untuk menggantinya karena setiap kali dia pergi ke luar rumah, dia hanya berada sekitar beberapa ratus meter saja dari rumahnya di Pekutatan, sebuah desa nelayan di pantai terpencil di barat daya Bali.
Dia juga bukan sengaja menyembunyikan namanya. Kini, semua warga desa memanggilnya ¨Nenek¨.
Nenek termasuk satu dari sekian masyarakat Indonesia yang tak mengerti bahasa Indonesia dan hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa daerah.
Pada beberapa tahun terakjir ini, Nenek juga semakin susah mendengar. Upaya Mark untuk dapat berkomunikasi dengan Nenek akhirnya semakin sulit.
Namun ia kemudian menemukan cara lain untuk tetap dapat berkomunikasi dengan sang Perempuan Bali tersebut.
Mark mengisahkan bahwa Nenek semakin suka berkomunikasi menggunakan pelukan dan genggaman tangan sederhana. Nenek memiliki kemampuan komunikasi yang kuat.