8 Hal yang Harus Kamu Coba Ketika Berkunjung ke Bukittinggi

Foto oleh Manpotz

bukitinggi

Foto oleh Manpotz

Bagi anak rantau seperti saya, terkadang bagian paling seru itu justru ketika menjadi pelancong di tanah kelahiran sendiri. Sewaktu kecil, saya melihat Ngarai Sianok itu sebagai sesuatu yang biasa, semata-mata karena setiap hari saya melihatnya. Ketika sekarang mata terlalu disibukkan oleh gelaran gedung tinggi yang mencakar langit dan nasib, kembali pulang ke Bukittinggi adalah hal terbaik.

Bukittinggi mungkin hanya sebuah kota dengan luas tidak sampai 20 kilometer persegi, namun di kota nan mungil ini,  banyak hal yang tentu saja tidak bisa dilewatkan sama sekali ketika sudah menjejakkan kaki di kota kelahiran Bung Hatta ini.

1. Menaiki Jam Gadang

jam-gadang

Foto oleh Mekong

Kenapa hal ini menjadi daftar utama saya? Karena meski saya dilahirkan dan dibesarkan disini, saya belum pernah melakukannya.

Sama halnya dengan Ngarai Sianok, Jam Gadang dulu sekadar sebuah bangunan yang menghiasi jalan pulang dari sekolah ke rumah. Melihatnya setiap hari justru membuat saya tak pernah naik dan menuju puncak Jam Gadang.

Justru pacar sayalah, yang cuma sehari di Bukittinggi, telah sampai di puncak Jam Gadang ini. Bukan sekadar melihat pemandangan kota, namun berada di Jam Gadang lebih kepada mengenali, betapa bangunan ini adalah saksi bisu masa lalu.

Mesin penggerak Jam Gadang ini boleh dibilang tiada duanya. Kalaulah ada yang sejenis, itu di Big Ben, London.

2. Naik Mersi

MERSI

Foto oleh Arie Sadhar

 

Angkutan umum bukanlah hal baru bagi traveler dimanapun berada. Penamaan angkutan umum juga macam-macam, di Jakarta ada KWK, Kopamilet, pun Kopaja.

Jangan berharap menemukan bis kota seukuran Kopaja di Bukittinggi. Disini hanya terdapat mobil biasa yang dijadikan angkutan umum. Hanya saja, angkutan tersebut memiliki nama yang unik, namanya Mersi.

Mersi merupakan kependekan dari Merapi dan Singgalang, dua gunung yang berada dekat Bukittinggi.

Mengapa harus naik Mersi? Simpel saja, ‘mersi’ adalah pengucapan untuk ‘Mercy‘, sebuah mobil mewah-kondang-keren dari luar negeri yang tidak semua orang bisa dengan mudah menaikinya.

Cukup dengan melambaikan tangan kanan, mersi siap mengantar ke penjuru Bukittinggi.

3. Berjalan Menyusuri Great Wall

great-wall

Foto oleh Indra Subagja

Great Wall terbilang obyek wisata baru di Bukittinggi. Objek wisata ini dibangun oleh para perantau yang sudah sukses dan dikoordinasikan oleh Bapak Tifatul Sembiring.

Alkisah, jalur Great Wall ini adalah jalur Pak Tifatul berangkat sekolah puluhan tahun silam. Pada masa lampau, berumah di Koto Gadang dan sekolah di Bukittinggi bukan sesuatu yang mudah. Menuruni tebing Ngarai Sianok sisi Koto Gadang, kemudian menyeberangi sungai, lantas menaiki tebing sisi Bukittinggi bukan hal sederhana. Adanya Great Wall ini boleh dibilang mempermudah perjalanan.

Tempat ini dibagi dua bagian. Sisi Bukittinggi dibangun tanpa tembok dan tanpa anak tangga. Sisi Koto Gadang dibangun dengan tembok dan anak tangga. Keduanya dipisahkan oleh jembatan gantung.

Satu hal yang perlu diperhatikan jika bepergian dengan kendaraan pribadi, siapkan nafas yang cukup untuk kembali. Bayangkan, semisal kamu parkir di sisi Bukittinggi, lalu berjalan menyusuri Great Wall dan kelelahan begitu sampai di seberang, siapakah yang hendak mengamankan kendaraan kamu di seberang sana?

Jadi, bukan soal keindahan Ngarai Sianoknya saja. Berjalan sambil terengah-engah dan membayangkan bahwa jalur yang dilalui adalah jalur seorang anak berangkat ke sekolah tentunya dapat membangkitkan semangat membara di dalam dada.

4. Makan Pensi

Ketika merantau di usia 14 tahun, salah satu kehilangan besar dalam hidup saya adalah benda kecil bernama pensi ini.

Pensi adalah kerang kecil asli danau, jadi memang tidak monopoli Bukittinggi. Walau demikian, kamu akan dengan mudah menemukan pedagang pensi ini di sekitar Jam Gadang, Pasar Bawah, hingga di dalam kebun binatang Kinantan. Cukup dengan 2 ribu rupiah, satu kantong plastik kecil pensi siap dinikmati, jika ketagihan bisa nambah.

Bentuk pensi ini sebenarnya mirip Ikan Bili, terbilang hanya ada di Sumatera Barat. Jadi, selagi berkunjung ke Bukittinggi atau Sumatera Barat pada umumnya, makan pensi jelas tidak boleh dilewatkan.

5. Belanja di Pasar Atas, Pasar Lereng, lalu Pasar Bawah

pasar-atas

Foto oleh Prima Saputra

Persis di depan Jam Gadang, tampak sebuah bangunan besar bernama Pasar Atas. Sebuah pasar yang pada masa kecil saya berkali-kali terbakar itu adalah salah satu kekhasan Bukittinggi bersama dua pasar lainnya yang saling tersambung.

Di sisi kiri Pasar Atas, ada sebuah jalan menurun yang landai. Jalan itu sudah tidak seperti jalanan karena yang lewat bukan kendaraan, tapi sepenuhnya manusia. Lapak digelar di kiri dan kanan, sementara pengunjung lewat di tengahnya. Ini adalah Pasar Lereng.

Jika Pasar Atas menawarkan kebutuhan semacam baju bagus, perhiasan, hingga tas dan batu bacan, maka di Pasar Lereng akan tampak pedagang yang menawarkan perkakas rumah tangga hingga pakaian dalam dengan harga miring.

Pada masa silam, penjual buku bajakan dan kaset bajakan juga ada di tempat ini. Begitu kelar menyusuri jalan menurun ini, sampailah di Pasar Bawah. Sebuah tempat yang lebih berfokus pada kebutuhan pokok macam ayam dan cabe.

Pembagian ini memang tidak mutlak. Pedagang baju di Pasar Bawah juga ada, namun kira-kira pembagiannya demikian untuk mempermudah pengunjung untuk memilih.

6. Membeli Kerupuk Sanjai Langsung di Sanjai

sanjai

Foto oleh Hendraxsap

Setiap kali pulang kampung, kawan-kawan selalu meminta saya membawa oleh-oleh berupa kerupuk sanjai bermerk terkenal. Dan setiap kali kembali, saya tidak pernah memenuhi keinginan mereka.

Bagi saya, membeli kerupuk sanjai itu ya harus di tempat yang bernama Sanjai. Ketika saya bahkan bisa melihat ketika ubi kayu itu sedang dibersihkan dan dikupas. Memang bukan berupa tempat mewah ber-AC, namun nuansa Sanjai yang sebenarnya justru lebih terasa. Selain itu, jika membeli langsung di Sanjai, harganya akan menjadi lebih murah.

Bagian favorit saya tentu saja, icip-icip tanpa bayar dari kerupuk yang di-display di depan mata.

7. Menaiki Janjang Saribu

janjang-seribu

Foto oleh Arie Sadhar

Bukittinggi ini penuh dengan tangga alias janjang. Namanya juga kota perbukitan, tentu membutuhkan undakan untuk memintas bukit ke dataran yang lebih rendah dan sebaliknya.

Dari Pasar Lereng ke Pasar Bawah, misalnya, ada janjang yang memintas jalur. Ada juga Janjang Gudang yang juga memberikan jalan untuk tidak melewati jalan menurun landai.

Namun, diantara janjang yang ada di Bukittinggi, Janjang Saribu adalah lokasi wajib untuk dikunjungi.

Saat menaikinya, saya tak sempat menghitung apakah jumlah anak tangganya benar 1000 karena saya lebih sibuk untuk bernafas.

Janjang Saribu ini menghubungkan bagian bawah tebing Ngarai Sianok dengan bagian atas.

8. Mencari Mal

Ya, kalau kamu orang Jakarta, Surabaya, Palembang, Bandung, hingga Jogja yang terbilang terbiasa dengan Mal Taman Anggrek, Tunjungan Plaza, Palembang Square, Paris Van Java, hingga Galeria, cobalah berkunjung ke Bukittinggi dan mencari  mal disini.

Boleh segera menghubungi saya kalau menemukan mal, karena sejak dulu setiap pulang kampung, bangunan semacam mal yang saya temukan hanyalah Plaza Bukittinggi yang kalau dilihat-lihat tidak berbeda dengan Pasar Atas di depannya.

Saya adalah orang yang selalu percaya bahwa mal bukanlah objek wisata yang harus dikunjungi setiap akhir pekan, dan hal itu diteguhkan dengan akhir pekan saya ketika berada di rumah, di Bukittinggi.

***

Jika sudah mencoba 8 hal di atas, saya yakin kamu akan menemukan  Bukittinggi bukanlah sebuah destinasi wisata yang biasa-biasa saja. Dan mestinya kamu bisa menulis jauh lebih komprehensif tentang Bukittinggi dibandingkan saya yang menulis tentang tanah kelahiran sendiri.

Pada akhirnya saya tersadar bahwa kita tetap bisa bepergian, tetap bisa mencecap makna petualangan, tetap bisa melepas zona nyaman, bahkan ketika kita sedang dipeluk oleh damainya rumah tempat kediaman.

Dapatkan ulasan menarik tentang dan tulisan Lain dari Ariesadhar

Tags: , ,

Paket Produk Penawaran