Virus Corona Bermutasi, WHO: Pandemi Jauh dari Kata Selesai

Para ilmuwan China dari Zhejiang University menemukan bahwa virus corona yang telah menyebabkan pandemi di seluruh dunia mengalami mutasi.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Para ilmuwan China dari Zhejiang University menemukan bahwa virus corona yang telah menyebabkan pandemi di seluruh dunia mengalami mutasi. Pada Senin (20/4) lalu, lebih dari 10.000 strain baru virus corona telah ditemukan di seluruh dunia. Menurut China National Center for Bioinformation, semua strain tersebut mengandung 4.300 jenis mutasi.

Salah satu mutasi yang ditemukan pada pasien di China bahkan masuk kategori perubahan langka yang tidak pernah diprediksi sebelumnya. Setiap mikroorganisme memang memiliki kemampuan untuk bermutasi, namun mutasi pada SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 ini berbeda dan berbahaya, tidak diprediksi oleh para ilmuwan sekalipun.

Melihat kemampuan SARS-CoV-2 yang luar biasa, bukan tidak mungkin virus dengan mutasi ganas sudah menyerang di Indonesia. Dikutip dari Kompas.com, dr Herawati Sudoyo, MS, PhD selaku Wakil Kepala LBM Eijkman bidang Riset Fundamental mengatakan bahwa mutasi memang terjadi pada virus ini. Namun hingga saat ini belum diketahui pasti jenis mutasi seperti apa yang ditemukan di Indonesia.

“Belum dapat dipastikan karena sekuensing genom virus masih diproses saat ini. SARS-CoV-2 ini benar-benar unpredictable. Para ahli masih belum mengetahui karakter virus termasuk juga cara penyebarannya. Kami belajar dari hari ke hari berdasarkan temuan peneliti berbagai lembaga,” kata Herawati.

Kondisi Wuhan setelah lockdown diperlonggar (cp24.com).

Tepatkah Lockdown Diperlonggar?

Wuhan secara resmi telah mencabut status lockdown setelah melaporkan hanya terjadi tiga kasus baru dalam tiga minggu terakhir. Kemarin (27/4), semua pasien positif Covid-19 telah dipulangkan dari sejumlah rumah sakit di China. Beberapa negara seperti Belanda dan Italia juga mengikuti jejak Wuhan dan segera mengakhiri status lockdown di negaranya.

Sejak status lockdown dicabut, warga China umumnya langsung menyerbu beberapa destinasi wisata populer. Foto-foto di kawasan Gunung Anhui pada Sabtu (4/4) terlihat masyarakat China berdesakan ribuan orang seolah tidak sabar menghirup udara segar setelah terisolasi berbulan-bulan di rumah. Tepi laut Bund di Shanghai dan sejumlah taman kota juga mulai sudah ramai dipadati masyarakat.

Otoritas Hong Kong memperingatkan China yang mulai melonggarkan status lockdown akan adanya kemungkinan “gelombang ketiga” infeksi di daratan itu. Dilansir dari cnnindonesia.com, ahli epidemiologi Hong Kong Yuen Kwok-yung mengatakan bahwa mungkin ada “gelombang baru” di Daratan China, selain infeksi impor dari Eropa dan AS. Senada dengan Yuen, Zeng Guang, kepala ahli epidemiologi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, juga mengungkapkan hal serupa.

“Tiongkok tidak mendekati akhir pandemi, tetapi telah memasuki tahap baru. Dengan epidemi global yang terus meluar, China belum mencapai akhir,” kata Zeng pada Heath Times, Kamis (2/4).

Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus (timesofisrael.com).

WHO: Pandemi Jauh dari Kata Selesai

Dalam konferensi pers 27 April 2020, Direktur Jenderal Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 belum berakhir. Dari temuan WHO, terjadi peningkatan infeksi virus corona tipe baru akibat mutasi yang terus mengganas di sejumlah negara Afrika, Eropa Timur, Amerika Latin, dan beberapa negara Asia. Masih minim laporan di wilayah tersebut karena rendahnya pengujian.

Tedros meminta negara-negara di dunia untuk waspada, menemukan, mengisolasi, mengetes, dan merawat setiap kasus serta melacak setiap kontak untuk memastikan bahwa tren penurunan kasus Covid-19 terus berlangsung. WHO akan terus memberikan dukungan peningkatan kapasitas dan menyuplai alat uji melalui penerbangan solidaritas.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU