Ramadhan selalu jadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia, tak hanya Indonesia atau negara yang mayoritas muslim saja. Menyambut ramadhan dengan penuh suka cita, masing-masing negara pun ternyata punya tradisi yang unik. Bahkan tradisi ramadhan di berbagai negara ini juga sangat berbeda antara yang satu dan lainnya.
Nah, berikut adalah beberapa tradisi ramadhan di berbagai negara yang mungkin tak ada di Indonesia:
Setiap tanggal 13,14, dan 15 bulan ramadhan selepas berbuka puasa dan salat Maghrib, anak-anak kecil di Qatar akan berpawai dengan kostum khusus untuk merayakan festival Garangaou. Dalam festival ini anak laki-laki akan menggunakan baju arab hitam berompi merah bersulam emas.
Di kesempatan yang sama anak perempuan akan mengenakan pakaian tradisional disdaashas berwarna cerah lengkap dengan ikat kepala (bukhnig) atau hijab hitam transparan berhias benang emas. Anak-anak ini lantas akan berjalan sambil bernyanyi di sepanjang jalan sekaligus mampir ke rumah-rumah penduduk untuk meminta permen dan kue.
Menjelang ramadhan umat Muslim di Mesir akan memasang lampu Fanus di halaman rumah mereka. Tradisi ini konon dimulai sejak Dinasti Fattimiyah. Kala itu, lampu Fanus dipasang untuk menyambut kedatangan pasukan Raja yang datang berkunjung menjelang datangnya bulan Ramadan.
Tak hanya itu, selama bulan puasa warga Muslim Mesir juga akan menyajikan hidangan manis bernama Kunafa. Seringnya hidangan pencuci mulut ini memang ditemukan saat ramadhan tiba.
Tak banyak yang tahu jika sebagian besar dari umat Islam di Jerman berasal Turki. Maka tak heran jika atmosfir Turki akan sangat terasa di Jerman saat bulan ramadan tiba.
Hal yang unik saat ramadhan di Jerman adalah adanya sajian menu makanan bernuansa Turki. Seperti misalnya suus (minuman berbahan baku gula hitam), dschellab (gula dan sirup kurma), qamruddin (jus aprikot), qata’ef (kue kering yang direndam sirup gula), dan kalladsch (adonan pilo isi kacang-kacangan).
Umat Muslim di Jepang memang bukan mayoritas, namun saat bulan ramadhan tiba mereka akan berkumpul dan saling berbagi kebahagiaan. Umat Islam di Jepang akan berkumpul di Japan Islamic Centre dan membentuk semacam panitia bulan puasa yang bertugas menyusun kegiatan yang akan digelar selama bulan Ramadan.
Kegiatan tersebut di antaranya dialog keagamaan, majelis taklim, salat tarawih berjamaah, hingga penerbitan buku-buku ke-islaman, dan masih banyak lagi. Mereka juga akan menerbitkan jadwal puasa dan mendistribusikannya ke masjid, rumah keluarga Muslim, dan restoran halal yang ada di seluruh Jepang.
Salah satu kawasan di Perancis yang dihuni imigran asal Arab adalah Couronne. Di sini, saat menjelang bulan ramadhan terdapat satu tradisi unik. Yaitu berbelanja berbagai macam pernak-pernik untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.
Biasanya penjual pernak-pernik ini banyak ditemui di Jalan Pierre Tumbot.