The New Normal Segera Diberlakukan, Harus Berdamai dengan Corona?

Peneliti epidemiologi menyebut bahwa The New Normal ini sangat berbahaya karena berpotensi meningkatkan risiko penularan di masyarakat.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Sepertinya negara-negara di dunia mulai menyadari, bahwa pandemi Covid-19 tidak akan pernah berakhir sebelum vaksinnya ditemukan. Seperti yang diketahui, membuat sebuah serum vaksin membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sedangkan kebijakan di rumah saja tidak bisa terus dijalankan selamanya. Kehidupan harus tetap berjalan. Bekerja, sekolah, dan beribadah tidak bisa terus-terusan dilakukan di rumah.

Pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat berdiam diri di rumah telah berimbas pada melambatnya roda perekonomian negara. Tak terhitung lagi korban PHK karena permasalahan ini. Bahkan sebagian pelaku usaha terpaksa menghentikan total operasional mereka untuk sementara, sebagian lagi harus gulung tikar karena mengalami kerugian besar.

Untuk memulihkan perekonomian agar bisa berjalan normal, beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia, berencana memberlakukan The New Normal. Istilah tersebut mengacu pada perubahan perilaku manusia setelah wabah virus Corona dengan menerapkan protokol pandemi Covid-19. The New Normal di Indonesia akan diberlakukan secara bertahap, fase pertama akan dimulai pada 1 Juni 2020 mendatang.

(halodoc.com)

‘The New Normal’ Berbahaya?

Sejumlah peneliti epidemiologi menyebut bahwa rencana berdamai dengan Covid-19 melalui The New Normal ini sangat berbahaya karena berpotensi meningkatkan risiko penularan di masyarakat. Dari hasil penelitian, 80% kasus Covid-19 adalah infeksi tanpa gejala. Berdasarkan hal ini, banyak pengamat yang menyatakan bahwa The New Normal merupakan upaya pemerintah memberlakukan strategi Herd Immunity kepada masyarakat.

Herd Immunity dapat didefinisikan sebagai upaya menghentikan laju penyebaran virus dengan cara membiarkan imunitas alami tubuh. Dengan kata lain, membiarkan masyarakat terinfeksi oleh virus agar tubuhnya dapat menciptakan antibodi atau sistem kekebalan tubuh terhadap virus tersebut. Mereka yang kuat akan bertahan dan memproduksi antibodi tersebut. Sedangkan yang lemah dipastikan tidak akan bertahan.

Dilansir dari bbc.com, peneliti Oxford Clinical Research, Henry Surendra menyebut jika yang dituju pemerintah dengan melakukan pengurangan pembatasan sosial adalah menciptakan Herd Immunity, maka rencana itu sangat berbahaya. Butuh sekitar 70% populasi terinfeksi untuk mencapai Herd Immunity. Artinya jika di Indonesia, syarat Herd Immunity yaitu harus ada 190 juta orang yang terinfeksi Covid-19. Tentu saja ini berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa.

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, membantah tudingan itu. The New Normal adalah upaya mengurangi PSBB yang bertujuan memulihkan kembali produktivitas. Nantinya, protokol The New Normal akan mengatur kehidupan masyarakat ketika berkumpul di luar rumah, mulai dari beribadah berjamaah, berwisata, hingga menghadiri pertemuan publik.

(media9.co.id)

Pariwisata Kembali Buka

The New Normal akan memilih Bali, Yogyakarta, dan Kepulauan Riau sebagai daerah percontohan dalam rangka pemulihan ekonomi di sektor pariwisata yang terpuruk selama pandemi Covid-19. Sebelumnya Bali sempat dipuji oleh Presiden Jokowi karena dinilai mampu mengendalikan penyebaran Covid-19. Bali tidak memberlakukan PSBB dengan jumlah kematian sebanyak 0 jiwa sepanjang Mei.

Bali akan menjalani protokol ini pada Juli mendatang. Bali dipilih karena berkaitan erat dengan pariwisata nasional. Dibandingkan daerah lain, Pariwisata Bali memang yang terbaik karena memiliki destinasi pariwisata lengkap dengan fasilitas yang memadai. Bali juga lebih mudah dijual karena sudah dikenal dunia sejak dahulu, bahkan sebelum negara Indonesia terbentuk

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU