Sepenggal Kisah Menonton Pagelaran Wayang Kulit

Pernah menonton langsung pertunjukan wayang kulit? JIka jeli, terkadang ada banyak cerita menarik di balik menyaksikan warisan budaya ini.

SHARE :

Ditulis Oleh: Syaiful Millah

Seharian Jogja diguyur hujan, menggugurkan semua rencana keliling Jogja yang telah saya persiapkan sebelumnya. Malam pun tiba, tepat setelah hujan berhenti. Akhirnya saya memutuskan untuk menikmati malam di Kota Pelajar dari sudut pandang budaya. Menonton Wayang di Museum Sonobudoyo.

“Permisi pak, mau lihat wayang sebelah mana, ya?”

Pak satpam langsung menjawab, sekaligus berbaik hati mengantarkan saya ke depan pintu ruangan dari gedung pertunjukan wayang kulit.

Saya langsung disambut oleh petugas dan dibimbing untuk mengisi buku tamu, sekaligus membayar tiket masuk sebesar Rp. 20.000. Dalam buku tamu kita diminta mengisikan nama, asal dan nomor serta email. Sekilas saya melirik pada tanggal sekarang, ada beberapa orang dari luar negeri yang sudah datang terlebih dahulu.

Tiket masuk dan brosur cerita pertunjukan yang berlangsung.

Setelah membayar, kita akan diberikan tiket menonton wayang dan brosur pertunjukan wayang kulit yang memuat ringkasan cerita dari pertunjukan wayang yang sedang dan akan berlangsung dalam bahasa Inggris.

Pertunjukan wayang sudah dimulai ketika saya memilih posisi duduk. Petugas tiket tadi mendekati saya dan memberitahu bagian mana sekarang yang sedang dipentaskan. “yang episode 3 ini mas, sekarang masih scene 1” katanya.

Penonton yang hadir tak lebih dari 10 orang

Penonton wayang yang masih bisa dihitung jari.

Sejujurnya perhatian saya pertama kali bukan tertuju pada pertunjukan wayang yang sedang berlangsung, tetapi ke seluruh ruangan. Mata saya memutari ruangan dan hanya menemukan hanya 4 orang lain yang juga duduk sebagai penonton. Mereka bukan berasal dari Indonesia, saya ingat di buku tamu tertulis Jepang, Jepang, Jepang dan Jepang.

Saya kaget, tak menyangka bahwa pertunjukan wayang di Museum Sonobudoyo ini hanya ditonton oleh tak lebih dari 10 orang malam ini. Itu pun hanya saya warga negara asli, yang paham dan bisa benar-benar menikmati lakon wayang yang dimainkan.

Pelaku pertunjukan wayang yang melebihi jumlah penonton

Para pelaku pertunjukan wayang dengan khidmat melaksanakan tugas masing-masing.

Tidak hanya itu, saya lebih terkejut lagi ketika melihat para pemain alat musik beserta dalangnya lebih banyak dibandingkan penonton yang ada.

Ada 8 pemain alat musik, 2 sinden dan 1 dalang. Bila dijumlah adalah 11 orang sedangkan penonton nya hanya 5, ada rasa sedih yang terasa melihat pemandangan ini. Ditambah lagi, alat musik yang disiapkan begitu lengkap dan beragam.

Pertunjukan yang tak memudar

Dalang beratraksi dengan para tokoh wayang.

Meski dengan kondisi yang demikian, para pelaku pertunjukan wayang tetap memerankan perannya masing-masing dengan khidmat.

Gerak lincah dalang memainkan aksi-aksi tokoh wayang, alunan musik gamelan dan suara tembang mengalun menyertai narasi kisah wayang yang bercerita tentang rencana Rahwana menghancurkan bendungan untuk membuat Rama frustasi.

Para pemain tetap konsentrasi menampilkan pertunjukan, meski ditengah jalan 2 orang penontonnya meninggalkan ruangan setelah mengambil beberapa gambar dari sudut-sudut yang bisa dilihat oleh para pemain yang ada di panggung.

Pagelaran wayang kulit yang memiliki daya magis

Pertunjukan wayang kulit di Museum Sonobudoyo.

Setelah melihat 2 orang pemuda Jepang meninggalkan ruangan, saya tak mau kedahuluan bertanya tentang pendapat orang luar mengenai pertunjukan wayang ini.

Saya mendekati 2 orang Jepang lainnya yang sedang menonton di kursi paling depan dan saya bersyukur karena salah seorang dari mereka mengerti bahasa Inggris. Setelah permisi dan memperkenalkan diri, saya bertanya kepada Hans (31) berbagai pertanyaan seperti darimana tahu tentang wayang dan bagaimana pendapatnya tentang pertunjukan yang kini ia saksikan.

Hans bercerita bahwa ia pernah sekilas menyaksikan wayang di sebuah museum yang ada di Jepang. Saat itu ia tidak mengetahui apa yang sedang ia saksikan, hingga rencana trip nya ke Indonesia membuatnya mencari tahu cukup banyak tentang Indonesia.

Dari sini lah ia mengetahui bahwa yang ia saksikan di Jepang disebut wayang (puppet) yang berasal dari Indonesia. Untuk itulah ia mencari dan ingin menikmati kembali pertunjukan wayang.

Hans juga mengatakan entah alasan apa yang membuatnya tertarik, ia hanya berkata “wayang have a magical atmosphere” yang membuatnya mengingat tentang wayang meski rentang antara melihat wayang di Jepang dengan rencana tripnya ke Indonesia terpaut lebih dari setahun.

Cerita di balik pertunjukan wayang di Sonobudoyo

Pertunjukan wayang kulit yang mengisahkan tentang Bendungan Rama.

Setelah berbincang dengan Hans, saya kembali duduk menikmati pertunjukan yang masih berlangsung. Waktu sudah menujukkan pukul 21.10 WIB saat seorang petugas museum menghampiri dan duduk di sebalah saya.

Ia menyapa saya dengan senyum dan bertanya tentang asal daerah saya. Kemudian tanpa diminta, beliau bercerita tentang wayang kulit di Museum Sonobudoyo.

“Sebetulnya kalau dahulu wayang digelar semalaman suntuk, Mas, dari awal malam sampe sebelum adzan Subuh. Diadakannya juga di tempat terbuka, penontonnya lesehan di bawah ada yang bawa sarung.”

Beliau melanjutkan bahwa untuk tetap melestarikan budaya wayang ini, Museum Sonobudoyo berinisiatif mengadakan pertunjukan setiap malam kecuali hari minggu dengan dipersingkat durasinya menjadi 2 jam, yaitu pada jam 20.00-22.00 WIB.

Mendengar cerita beliau, saya tertarik lebih jauh mengetahui tentang pagelaran ini. Saya bertanya

“Di sini memang setiap malam yang nonton cuma segini, Pak?”

“Oh nggak mas, biasanya ada 10an orang asing tiap malam, nonton. Cuma karena sekarang lagi ada Sekaten jadi rame. Mereka nggal suka ada keramaian begini,” jelasnya. 

Saya agak lega mendengar jawabannya, sekaligus miris. Prasangka saya benar adanya, orang kita sendiri tidak tertarik untuk melihat pertunjukan wayang kulit yang diadakan ini. Hanya merasa bangga ketika wayang ditetapkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO, tetapi seolah tak mengapresiasi dengan tindakan nyata.

Malam semakin larut, pertunjukan pun selesai. Saya keluar gedung pertunjukan dan berterimakasih kepada para petugas yang menunggu di depan pintu.

“Terimakasih mas, nanti kesini lagi, ya” katanya tersenyum.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU