Noken Papua yang Berasal dari Raja Ampat dan Wamena Ternyata Berbeda

Noken Papua, kerajinan tangan berbentuk tas khas dari Raja Ampat dan Wamena yang bisa Kamu gunakan sebagai oleh-oleh ternyata mempunyai banyak perbedaan.

SHARE :

Ditulis Oleh: Faiz Abi

Kerajinan tangan Noken Papua. Sumber foto.

Papua memang menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu liburan. Hamparan pulau, pantai, laut, dan air-nya yang jernih menjadi daya tarik tersendiri bagi traveler-traveler yang ingin menghabiskan liburan mereka. Raja Ampat sendiri menjadi salah satu destinasi favorit jika berkunjung ke Negeri Cendrawasih tersebut. Jika Kamu memilih untuk menghabiskan waktu di bumi Cendrawasih tersebut, pastikan Kamu membeli oleh-oleh berupa kerajinan tangan khas warga lokal di sana, yaitu noken.

Ketahui cara menolak titipan oleh-oleh teman dengan klik di sini.

Noken adalah tas selempang rajut yang terbuat dari benang kasur warna-warni khas penduduk Papua. Namun sebelum menggunakan benang, masyarakat Papua membuat noken menggunakan Kayu Koji. Noken tersebut dibuat untuk dipakai sendiri oleh warga lokal, bahkan noken ini juga digunakan dalam upacara adat di Papua. Namun tak jarang pula noken itu dijual kepada wisatawan yang datang sebagai oleh-oleh dari Papua.

Jika tidak dijual, noken tersebut bisa digunakan sebagai tas untuk mengangkut hasil kebun, atau untuk menggendong anaknya. Noken juga dibuat dalam berbagai ukuran, ada yang kecil, sedang, dan besar. Noken kecil biasanya digunakan sebagai tempat menyimpan dompet maupun handphone. Noken yang sedang bisa Kamu gunakan untuk pergi ke sekolah atau kampus. Sedangkan yang besar bisa Kamu gunakan untuk mengangkut hasil kebun atau sayuran yang Kamu beli di pasar. Jangan khawatir dan takut akan robek, noken ini didesain untuk mengangkat beban hingga 20 kg.

Namun noken yang digunakan warga lokal Papua ini cukup menghabiskan waktu yang lama dalam proses pembuatannya. Untuk membuat sebuah noken, pengrajin bisa menghabiskan waktu hingga satu bulan. Meski menghabiskan waktu yang lama dalam proses pembuatannya, noken ini dijual dengan harga yang masih masuk di akal. Satu noken dihargai mulai dari Rp 100.000 – Rp 350.000 saja tergantung ukuran yang ingin Kamu beli. Dan Kamu masih bisa menawar harga tersebut untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Namun jangan semena-mena ya menawar noken tersebut.

Noken Papua

Noken Papua yang paling terkenal adalah Noken Raja Ampat dan Noken Wamena. Meski sama-sama berasal dari Papua, kedua noken tersebut berbeda, begitupun sejarah leluhurnya. Noken Wamena sendiri saat ini sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda pada tahun 2012 lalu.

Ketahui warisan dari Indonesia yang sudah diakui UNESCO dengan klik di sini.

Noken Raja Ampat

Noken berbentuk kotak yang berasal dari Raja Ampat. Sumber foto.

Noken Raja Ampat terbuat dari daun pandan pesisir atau daun tikar, ilalang rawa, dan bisa juga dari kulit kayu. Adanya noken-noken ini juga bukan tanpa alasan, ada sejarah dan budaya yang terkandung dibaliknya. Noken Raja Ampat yang terbuat dari tanaman pesisir secara tidak langsung menunjukkan di mana lokasi Raja Ampat.

Noken Raja Ampat mempunyai bentuk kotak seperti totebag zaman sekarang yang banyak digunakan anak muda. Selain itu noken Raja Ampat mempunyai variasi warna alam yang unik dan ber-tekstur kaku jika digunakan, serta dilengkapi dengan penutup juga.

Untuk cara pakainya, noken Raja Ampat dipakai dengan cara digantungkan di leher. Ketika digantung di leher, noken harus menghadap ke depan. Selain di leher, cara pakai lainnya adalah dengan digantung di pundak.

Proses pembuatan noken Raja Ampat sendiri juga masih menggunakan teknik penganyaman. Oleh karena itu dibutuhkan ketelitian dan waktu ekstra bagi para pengrajin untuk membuatnya.

Noken Wamena

Noken yang terlihat seperti jaring ikan, noken Wamena. Sumber foto.

Berbeda noken Raja Ampat dan noken Wamena, berbeda pula dengan cara pembuatan serta budaya-budaya yang terkandung di dalamnya.

Jika noken Raja Ampat menggunakan daun pesisir dalam pembuatannya, noken Wamena menggunakan akar anggrek atau daun pandan besar sebagai bahan pembuatnya.

Sejarah dan budaya yang terkandung di noken Wamena juga tak kalah menarik. Awal hadinya noken Wamena adalah sebagai pemanfaatan tanaman di sekitar hutan dekat Wamena. Fungsi utamanya adalah untuk mengangkut hasil ladang warga lokal Wamena.

Bentuk noken Wamena sendiri terbilang unik dari tas-tas lainnnya. Noken Wamena berbentuk seperti kantung kain yang lebih terlihat fleksibel, banyak juga yang menganggap seperti jaring ikan.

Cara pakai noken Wamena juga berbeda dengan noken Raja Ampat. Jika noken Raja Ampat dipakai seperti layaknya memakai tas biasa, noken Wamena dipakai di kepala dan menggantung ke belakang punggung.

Dalam teknik pembuatannya, noken Wamena dibuat dengan teknik rajut.

Perbedaan noken dari Raja Ampat dan Wamena. Infografik oleh Aga.

Meski keduanya berbeda dari bahan, cara pembuatan, sampai budaya yang melatarbelakangin pembatan noken tersebut, keduanya tetap menjadi ciri khas masyarakat Papua. Untuk menemukan dan membelinya, Kamu tak perlu susah-susah mencarinya karena jika Kamu pergi ke Raja Ampat atau Wamena, Kamu bisa menemukannya di gerai toko oleh-oleh yang ada di sepanjang jalan.

Namun sayangnya, sekarang yang masih mau membuat noken khas Papua ini hanyalah mamak-mamak yang berusia 40th keatas (panggilan wanita yang sudah menikah di Papua). Sedangkan dari kalangan anak muda atau remaja yang ada di sana sudah mulai enggan untuk membuat noken ini.

Noken Papua ini tentunya bisa menjadi cinderemata khas Papua yang mampu meningkatkan sektor pariwisata di Papua. Jika noken ini terus dikembangkan dan dilestarikan, maka akan meningkatkan perekonomian dan pendapatan masyarakat Papua.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU