facebook pixel

Makam Papan Tinggi dan Tali Pengabul Keinginan Desa Penanggahan, Tapanuli Tengah

Makam Papan Tinggi di Desa Penanggahan mengajarkan arti kesederhanaan yang sesungguhnya.


Saat kebanyakan orang mencari kemewahan, terkadang yang sederhana itu justru menjadi hal yang tak terlupakan. Itu pelajaran yang saya dapat kala berkunjung ke Desa Penanggahan, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. 

***

makam tapanuli

Foto oleh Nita Juniarti

Bus yang kami tumpangi parkir di seberang jalan dari arah penunjuk arah “Makam Papan Tinggi”. Makam Papan Tinggi adalah salah satu daya tarik dari desa ini. Dari Banda Aceh membutuhkan waktu selama 18 jam melalui jalur Pantai Barat-Selatan dan 20 jam dari Pantai Barat-Timur karena sering macet di Kota Medan.

Dari parkiran kami harus menempuh jalan setapak yang hanya bisa dilalui penjalan kaki hingga sampai pintu masuk menuju makam sudah ditunggu oleh seorang penjaga makam. Sebelum masuk, kami harus membayar Rp. 2000/orang.

Setelah perkampungan, tangga yang bertingkat-tingkat menjadi pemandangan yang terhampar sejauh mata memandang. Tangga tersebut yang mengantarkan pengunjung menuju puncak bukit dan di sana nanti akan didapati makam papan tinggi. Makam ini berada di Desa Penanggahan dengan juru kuncinya seorang muslim yang rumahnya terletak sebelum lubuk larangan tepat di penghujung desa. Setelah itu barulah naik tangga hingga hampir 1000 anak tangga dengan tiga kali pemberhentian.

Pemadangan yang tersaji dari tempat pemberhentian itu adalah sawah yang membentang luas, terlihat berpetak-petak. Rumah-rumah seperti susunan kotak dan sisanya adalah hutan serta laut yang jatuh. Banyaknya sawah seolah menunjukkan pekerjaan yang dilakoni oleh masyarakat setempat yang umumnya bercocok tanam atau berternak. Kebayakan di halaman rumah masyarakat terdapat hewan ternak seperti ayam, itik, anjing, dan babi, kebayakan ternak babi.

Makam di puncak tertinggi

makam tapanuli

Foto oleh Nita Juniarti

Makam Papan Tinggi sebenarnya adalah makam Syech Mahmud, tangga di Makam Syech Mahmud ini di bangun pada masa Soekarno yang di resmikan oleh Adam Malik pada 1980-an. Biasanya disebut juga dengan makam Tuan di atas karena berada di atas bukit.

Juru kunci Usman, berbagi kisah bahwa sebenarnya makam Syeh Mahmud ini berada di daratan, namun karena pengaruh iklim maka laut semakin surut dan akhirnya makam ini terletak di atas bukit.

Jumlah anak tangga menuju ke Papan Tinggi ini mencapai 780 anak tangga. Namun, soal jumlah anak tangga ini masih berbeda masalah perhitungan, ada yang menghitung 744 ada yang menghitung 780 bahkan ada pula yang menghitung hanya 710 anak tangga. Tangga di makam ini dilengkapi dengan tempat berpegangan dan setiap pemberhentian terdapat tempat kosong yang memiliki pohon dan tempat duduk sebagai tempat istirahat karena menuju ke Papan Tinggi memang tidak mudah, dibutuhkan tenaga ekstra.

Makam Syeh Mahmud terdapat di ujung sebelah kiri dari pintu masuk dengan nisan setinggi anak berumur 10 tahun.

“Stop Sendal/Sepatu” tertulis di pintu masuk untuk menghormati maka wajib membuka, di samping nisan terdapat sebuah sumur petak, bekas guci yang dianggap keramat dimana guci ini hanya berisi setengah namun bisa digunakan ribuan orang, tidak pernah kering di musim kemarau dan tidak pernah meluap ketika musim hujan.

Tali Keinginan

makam tapanuli

Foto oleh Nita Juniarti

Pemandangan yang mengundang tanya adalah, di dua pohon besar yang nampak seolah menjadi penjaga melindungi makam, terdapat tali bermacam warna, ada yang putih, hitam, dan lain-lain yang diikat para penziarah. Kata Usman ini merupakan tali keinginan para penziarah. Makam papan tinggi selalu dikunjugi oleh banyak pengunjung setiap bulannya baik sekadar ziarah maupun penelitian. Selain itu pengunjungnya beragam ada yang berasal dari daerah, Negara lain seperti Thailand, Malaysia, Prancis, Amerika, Jerman, Jepang, Austria, India,  Jawa,  dan Sumatera.

Biasanya tempat ini banyak dikunjungi ketika suasana lebaran banyak orang yang megikat tali keinginan di pohon dekat makam atau menjelang puasa ramadhan. Konon katanya, jika punya keinginan begitu sampai di Makam Papan Tinggi orang mengucapkan keinginannya lalu mengikat tali di batang pohon kemudian jika keinginannya terkabul maka tali itu harus dilepaskan kembali dan membawanya pulang.

***

Bagaimana, dengan segala  keunikannya, berminat berkunjung ke Makam Papan Tinggi?

banner experience