Sidebar

Kehidupan Purba di Indonesia, Dari Dinosaurus Hingga Manusia Gua

Manusia purba pertama hidup Benua Afrika. Kemudian sebagian dari mereka mengembara ke seluruh dunia. Beberapa pernah menjalani kehidupan di Indonesia.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Manusia purba dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang hidup pada Kala Pleistosen sekitar 2.580.000-11.700 tahun yang lalu. Pada saat itu, manusia purba belum mengenal tulisan atau aksara, sehingga disebut juga manusia prasejarah (Prehistoric People). Secara morfologi, fisik manusia purba memiliki banyak perbedaan dengan karakteristik manusia modern.

Berdasarkan catatan sejarah, manusia purba pertama hidup dan bermukim di daratan Benua Afrika. Setelah membentuk kelompok yang lebih kuat, sebagian dari mereka mengembara ke seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Setidaknya terdapat delapan jenis manusia purba yang pernah menjalani kehidupan di Indonesia dari setiap periode di Kala Pleistosen Awal, Pleistosen Tengah, dan Pleistosen Akhir.

  1. Meganthropus paleojavanicus (Sangiran, 1941)
  2. Pithecantropus mojokertensis (Mojokerto, 1936)
  3. Pithencatropus erectus (Trinil, 1890)
  4. Pithecantropus soloensis (Ngandong dan Sangiran, 1931-1933)
  5. Homo soloensis (Bengawan Solo, 1931-1934)
  6. Homo wajakensis (Tulungagung, 1889)
  7. Homo floresiensis (Flores, 2004)

Enam dari tujuh spesies manusia purba di Indonesia ditemukan di Pulau Jawa, tepatnya di Situs Sangiran yang berada di Kubah Sangiran yang menjadi bagian dari Depresi Solo di kaki Gunung. Dari penemuan fosil manusia purba di tempat ini terungkap serangkaian benang merah sejarah yang sangat terperinci. Tidak hanya fosil manusia purba saja, berbagai peralatan dan fosil hewan purba berusia jutaan tahun juga ditemukan.

Salah satu diorama manusia purba di Museum Purbakala Sangiran (margaapsari.com).

Tersimpan Rapi dalam Museum Sangiran

Semua fosil yang ditemukan disimpan dan dirawat dengan baik di Museum Purbakala Sangiran yang berlokasi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Oleh UNESCO, museum ini telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia sejak tahun 1996. Saat ini Museum Purbakala Sangiran banyak dikunjungi sebagai destinasi wisata edukasi dan area penelitian tempat penelitian kehidupan prasejarah terlengkap di Asia, bahkan dunia.

Situs Sangiran sangatlah luas, mencapai 56 kmĀ² yang meliputi wilayah Gemolong, Plupuh, dan Kalijambe di Sragen serta Gondangrejo di Karanganyar. Karena kawasan Situs Sangiran terlalu luas, selain Museum Purbakala Sangiran juga dibangun empat klaster museum lainnya. Diantaranya adalah Museum Sangiran Klaster Ngebung, Museum Sangiran Klaster Dayu, Museum Sangiran Klaster Bukuran, dan Museum Sanguran Klaster Krikilan.

Manusia Pendek dari Flores yang Kontroversial

Homo floresiensis menjadi fosil manusia purba yang paling terakhir digali di wilayah Indonesia. Homo floresiensis ditemukan pada tahun 2004 oleh tim arkeologi dari Australia dan Indonesia di sebuah gua yang terletak di Liang Bua, Flores. Bentuk tubuhnya pendek, hanya setinggi 100 cm saja. Konon Homo floresiensis bisa sampai di Flores dengan berlayar langsung dari Benua Afrika.

Gua di Liang Bua, Flores yang menjadi lokasi penemuan Homo floresiensis (alchetron.com).

Hal yang membuat manusia purba ini begitu kontroversial ini adalah umur fosilnya yang tergolong muda. Kajian mendalam menghasilkan bahwa Homo floresiensis hidup diantara rentang 94.000-13.000 tahun lalu, yang mana manusia modern sudah hidup dan menempati Flores. Penelitian ini sangat mencengangkan karena berarti dahulu pernah ada masa dimana Homo floresiensis dan manusia modern hidup berdampingan.

Hidup jauh dari wilayah gunung berapi dan selalu terisolir membuat Homo floresiensis diduga mampu bertahan dari kepunahan global kelompok manusia purba. Para ahli memperkirakan, Homo floresiensis yang pernah hidup bersama dengan manusia modern di Flores kemudian menciptakan mitos tentang Ebu Gogo. Konon Ebu Gogo adalah manusia pendek yang berjalan kikuk dan telinga menjulur. Beberapa kesaksian menuturkan Ebu Gogo mampu menirukan ucapan manusia.

Kenapa Tidak Ditemukan Fosil Dinosaurus di Indonesia?

Banyak pertanyaan yang menanyakan tentang kenapa tidak ada satupun fosil dari spesies dinosaurus yang ditemukan di Indonesia. Jawabannya sederhanya, saat masa kejayaan dinosaurus di bumi, daratan Indonesia belum terbentuk. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa daratan Indonesia terbentuk sekitar 30 juta tahun lalu, sedangkan dinosaurus punah sekitar 65 juta tahun lalu.

Fosil Ictyosaurus. Bukan kelompok genera Dinosauria namun pernah hidup di masa yang sama (wikipedia.org).
Fosil Mixosaurus yang ditemukan di NTT (wikipedia.org).

Pada masa pembentukan benua di Kala Mesozoikum, daratan Indonesia masih berada di bawah laut. Hal ini dikuatkan dengan penemuan fosil yang sumuran dengan dinosaurus di Indonesia, yaitu Ichttyosaurus ceramenis yang ditemukan di Pulau Seram dan Mixosaurus timorensis di NTT. Kedua makhluk purba tersebut adalah spesies yang menghuni lautan.

Hanya wilayah Kalimantan yang sudah muncul ke permukaan pada masa dinosaurus hidup. Saat itu, Pulau Kalimantan masih bersatu dengan Eurasia atau Benua Gondwana. Namun dari hasil studi menjelaskan, dinosaurus sangat menghindari wilayah ini karena berada di wilayah ekuator atau khatulistiwa yang memiliki suhu cukup panas dan kering. Ditambah lagi dengan tingkat karbon dioksida tinggi yang sering menyulut kebakaran hutan alami.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Sejarah Labuan Bajo, Tanah Lahir dari Ras Manusia Ikan Asli Nusantara

Kenapa Orang Jawa Dibenci Masyarakat Luar Pulau Jawa? Ini Alasannya

Dusun Butuh Magelang, Desa Tertinggi yang Viral Karena Mirip Nepal

Pantai Oetune Kupang, Eksotisme Gurun Pasir Satu-satunya di Nusantara

Jadwal Pembukaan Pendakian Gunung di Indonesia di Masa New Normal

Bolu Batik Kukus, Oleh-oleh Baru dari Kota Batik Pekalongan

FALLBACK
The END