facebook pixel

Setiap perjalanan selalu memberikan kejutan.

Itulah realita selama saya ikut DCF tahun lalu. Perjalanan memberi kejutan berupa kenyataan yang menyebalkan. Bagaimanapun saya harus legowo menerima kejutan sepanjang perjalanan. Apalagi dalam perjalanan tersebut saya nggak melulu mengalami kejadian yang menjengkelkan, seperti … 

Bersua dengan pejalan lain dan mendapat banyak inspirasi

Dieng Culture Festival

Pagi yang cerah di area camping ground DCF 2016. Foto oleh penulis

Camping ground tak hanya terisi belasan tanda, puluhan bahkan lebih. Sering kali penghuni tenda saling bertukar sapa saat berpapasan, meski hanya seulas senyuman. Suasana di sini sangat hangat, kontras dengan udara dingin yang menyergap. DCF tidak hanya mempertemukan saya dengan kejadian menjengkelkan sebelumnya, semesta mempertemukan saya dengan Dhea. Ia mendirikan tenda di belakang tenda saya.

Setelah dimintai tolong untuk memotret Dhea dan kekasihnya setelah menerbangkan lampion, kami pun mengobrol dan ketahuan kalau ternyata dia adalah tetangga dekat saya di camping ground. Tak dinyana dialah pemilik anjing lucu yang sempat mengintip di balik tenda.

Dhea datang bersama kekasih dan anjing kesayangan. Mereka datang dari kota kembang. Sungguh pasangan paling romantis yang saya jumpai selama DCF. Tak hanya romantis, mereka adalah pasangan yang unik.

“Dewi!!” seru saya pada wanita berambut panjang dan mengenakan kaos turtle neck berwarna hitam.

“Dewii!” panggil saya lagi.

Dia spontan menoleh ke arah saya dan terbengong-bengong. Butuh beberapa menit sebelum ia sadar bahwa saya adalah orang yang sedari tadi berkomunikasi melalui Line. Saya mengenalnya dari couchsurfing.

Dia sedang solo traveling dari Bandung hingga ke Lombok dan kembali lagi ke Bandung. Ia nekat bepergian selama hampir dua minggu dengan berbekal tas gunung dengan volume sekitar 50 liter. Saya sempat terbelalak mendengar ceritanya, ‘begitu berani’ gumam saya.

Mungkin usianya beberapa tahun lebih muda dari saya, namun keberaniannya tak diragukan. Nyalinya sangat besar. Saya pun belum tentu punya tekad sebulat tekat Dewi. Jujur, dari Dewi lah saya terinspirasi untuk berani camping di Dieng. Benar-benar sangat menginspirasi.

Nggak bisa ikut semua urutan acara selama DCF? Tenang, masih ada plan A-Z

Dieng Culture Festival

Pagi yang cerah di area camping ground DCF 2016. Foto oleh penulis

Mata saya masih berat, Nana membangunkan saya untuk bergegas menuju sebuah bukit yang lokasinya tak jauh dari camping ground.

“Ayo lihat sunrise!” ajaknya setelah kemarin gagal ikut jadwal lihat sunrise yang disusun oleh panitia karena bangun kesiangan.

Saya bangun dengan malas, merapikan jaket berlapis yang melekat di badan. Kami bergegas menuju Bukit Scooter. Sempat menyasar beberapa kali karena sok tahu, untung ada warga lokal yang kami jumpai di pos ronda dan dengan senang hati menunjukkan jalan. Akhirnya kami berhasil menggapai puncak Bukit Scooter dengan napas tersengal-sengal. Kabut tebal menyelimuti permukiman di bawah sana, termasuk Candi Arjuna.

Kami berdiri di antara kerumunan lelaki yang tak lagi muda jika dipandang paras wajahnya. Mereka bersikap siaga di belakang kamera yang disangga tripod, siap membidik Sang Fajar yang sedang malu dan bersembunyi di balik awan.

“Kalau mau gorengan, ambil aja Mbak…” salah satu dari mereka berbaik hati menawarkan gorengan pada kami

Perut keroncongan menampik rasa malu, Nana mengambil dua gorengan tahu isi yang masih hangat dan membaginya dengan saya sembari menanti matahari menyembul melintasi lengkung langit.

“Kok enak banget ya tahu isinya, rasanya kurang. Tapi malu mau ambil lagi” bisik saya ke Nana.

“Hahaha.. iya, enak banget. Nanti aja kita beli sendiri.”

Melahap gorengan yang masih hangat di tempat sedingin ini diselingi cekikikan dengan sahabat dan wejangan dari para lelaki yang bisa menambah wawasan soal fotografi adalah kenikmatan yang hakiki. Bahagia itu ternyata sederhana. Saking bahagianya kami tak merasa kecewa saat gagal melihat golden sunrise.

Setelah nonton festival film yang menurut saya konsep festival yang paling gagal, mendorong saya dan Nana untuk menyusuri lokasi lain sebagai obat untuk menghibur diri dari kejadian yang mengecewakan. Saya dan Nana tiba-tiba tertarik menyusuri jalan setapak menuju sebuah bukit. Pintu gerbang untuk hiking tidak jauh dari Kompleks Candi Arjuna.


Cerita perjalanan menarik lainnya, bisa Kamu baca juga di sini;


Rute membawa kami ke sebuah padang rumput yang ada di balik bukit yang berdekatan dengan Kawah Sikidang. Saya merasa beruntung karena tempat wisata ini masih fresh from the oven karena baru saja dibuka untuk umum. Pengunjungnya masih sepi. Saya sangat menikmati meski rutenya sangat menanjak lalu harus melewati jalan untuk turun ke padang rumput dan lumayan terjal. Sering kali saya harus menyeka keringat yang mengucur di wajah.

Yeay! Setelah berjalan kaki hampir 2 jam kami sampai juga di padang rumput yang tadinya saya lihat di baliho pintu masuk, sekarang saya benar-benar melihat padang rumput yang nyata. Kalau boleh saya menyebutnya mirip dengan savana yang ada di gunung tertinggi Pulau Jawa (padahal berkunjung kesana pun belum pernah. hahaha). Suasana masih alami, sampah pun tak terlihat. Padang rumput berhasil membuat saya kepincut.

Kesempatan bertemu anak istimewa tak hanya lewat hajat ruwatan rambut gimbal

Dieng Culture Festival

Bertemu si kecil berambut gimbal yang sangat istimewa. Foto oleh penulis

Menurut saya, menonton prosesi pemotongan rambut gimbal itu tak serta merta membuat saya memahami lebih dalam tentang kisah anak gimbal yang ada di Dieng. Setelah usai menonton film dokumenter yang digadang-gadang sebagai Festival Film itu – dan sebelum hiking ke Pangonan – , saya dan Nana ngaso di sebuah warung menyantap tempe kemul.

Ada banyak topik yang bisa dibahas dengan pemilik warung, mulai dari perhelatan DCF, ramainya pengunjung, sampai ke anak rambut gimbal.

Tak jauh dari tempat kami mengudap gorengan, ada anak dengan rambut gimbal sedang bermain dan ditemani laki-laki parh baya. Saya terus mengamati anakitu. Rasa penasaran mendorong saya dan Nana untuk mendekat.

“Namanya siapa?” tanya Nana pada seorang gadis kecil yang mengenakan baju lengan panjang berwarna merah jambu.

“Risty..” jawabnya sambil terus asyik main perosotan di pagar yang menempel tangga.

“Umurnya baru 4 tahun, Mbak. Dia anak saya yang paling bungsu dan paling istimewa.” Sambung Pak Agus, Bapak yang sedari tadi mengawasi Risty bermain.

“Risty kapan mau dipotong rambutnya, Pak?” tanya saya.

“Belum tahu nih, Mbak. Keinginannya masih berubah-ubah. Pernah dia minta jepitan aja, eh besoknya dia minta sandal klethok-klethok. Kayaknya belum mantap.” Cerita Pak Agus.

“Apa tuh sandal klethok-klethok?” saya mencoba menirukan istilah baru yang diucapkan Pak Agus sambil nyengir kuda.

“Itu lho Mbak, sandal yang ada haknya tinggi. Terus pas dipakai bunyi klethok-klethok.” Pak Agus menjawabnya diselingi tawa.

Saya menyambut jawaban Pak Agus dengan tawa. Ada-ada aja si Risty ini. Pak Agus kembali bercerita tentang putri kecilnya. Anak berambut gimbal mendapat perlakuan istimewa dari orang-orang di sekitarnya. Segala permintaannya akan diupayakan terpenuhi. Bisa dibilang, rambut gimbal ini adalah keturunan.


Kalau mau tahu berita terbaru seputar perkembangan pariwisata di Indonesia, baca di link berikut ini; 


Ibu Risty sewaktu masih anak-anak juga berambut gimbal. Rambut gimbal ini tak bisa dipotong sembarangan, Pak Agus percaya kalau rambut gimbal dipotong sembarangan justru akan mendatangkan malapetaka. Ternyata ada beberapa jenis rambut gimbal, Pak Agus menyebut ada jenis gimbal pari, gimbal jagung, gimbal jatah dan gimbal wedus. Kalau gimbalnya rambut Risty kecil-kecil dan rapi. Sayangnya saya lupa menanyakan jenis rambut gimbal Risty.

“Memiliki anak seperti Risty ini patut disyukuri, buat saya dia istimewa. Punya anak berambut gimbal itu sangat istimewa. Nggak semua orang diberi kesempatan seperti ini.” Ucap Pak Agus.

Ya, anak berambut gimbal seperti Risty ini adalah anak istimewa. Dia berbeda dengan anak-anak umumnya. Meski Risty terkesan asyik dengan dunianya sendiri, ia punya kemampuan lebih yang kebanyakan dimiliki oleh anak berambut gimbal lainnya. Anak berambut gimbal biasanya punya kemampuan seperti melihat makhluk halus.

Saya dan Nana merasa beruntung karena Risty mau kami ajak berfoto dan sekedar bercanda. Kata Pak Agus, Risty tidak selalu mau diajak berfoto. Kalau dia sekali menolak, tidak akan bisa dipaksa pakai cara apapun. Menurut penuturan sang Ayah, Risty sering menolak saat diberi imbalan karena mau diajak berfoto. Orang-orang biasanya memberinya imbalan berupa uang. Sungguh anak yang istimewa.

***

Meski realita selama Dieng Culture Festival tak melulu indah, sungguh saya tidak pernah merasa menyesal menghabiskan beberapa hari di Dieng, bergelut dengan dingin sepanjang hari, meringkuk menggigil di balik tenda, buang air di toilet darurat, geram saat pesta lampion dan kembang api, berdesak-desakan ketika puncak acara, bertemu dengan teman pejalan yang menginspirasi sampai bertemu dengan anak istimewa Pak Agus di dekat warung tempat saya mengudap tempe kemul. Saya berusaha menikmati segala dinamika dalam perjalanan.

Perjalanan benar-benar telah memberi saya sebuah kejutan. Perjalanan ini nggak melulu menyebalkan, menjengkelkan dan bikin geregetab, ada pegalaman berkesan dan pasti sangat saya rindukan. Menurut saya, perjalanan berkesan bukanlah perjalanan yang selalu mulus, indah dari awal hingga akhir. Gejolak yang terjadi adalah bumbu, membuat perjalanan semakin sedap.

Meskipun dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta, tenda yang kami sewa terjatuh di tengah jalan yang gelap gulita disertai rintik hujan yang enggan beristirahat. Rasa sesal karena kehilangan sebuah barang tak ada apa-apanya dengan kisah perjalanan yang saya alami di negeri di atas awan.

***

Kamu pun bisa kirimkan tulisan perjalananmu di Phinemo lho. Mau tahu gimana caranya supaya bisa diterbitkan? Baca dulu petunjuk pengiriman tulisan di Phinemo di link berikut ini.

 

banner experience

Rekomendasi